Ode Untuk Sang Dewa

Pada jaman dahulu kala, di sebuah negeri yang tidak tercatat di dalam sejarah, hiduplah seorang perempuan muda yang selalu hidup sendirian dan kesepian. Dia bekerja sebagai pemintal benang sutra. Satu-satunya penghilang sepinya adalah memandang langit, melihat betapa indahnya warna langit yang biru dan awan-awan yang menggumpal di bawahnya. Ketika dia bertanya pada sahabatnya ada apakah di langit itu, sahabatnya menjawab bahwa langit adalah tempat tinggal para dewa.

Perempuan itu pun ingin ke langit dan bertemu para dewa.

Setiap malam, perempuan itu memperhatikan bintang-bintang. Sahabatnya mengatakan bahwa para dewa di langit membuat bintang tersebut dan memasangnya sebagai hiasan penghiburan bagi para manusia di bumi. Semua orang memuja dewa-dewa itu, dan meminta agar dibuatkan bintang yang berbeda-beda setiap malamnya.

Perempuan itu melihat ada satu bintang yang memancar lebih terang daripada yang lainnya. Dia menyenangi bintang itu, dan matanya selalu tertuju pada bintang tersebut. Sahabatnya mengatakan bahwa seluruh bintang itu tidak ada bedanya, namun si perempuan bersikeras bahwa ada satu bintang yang paling indah, paling menyilaukan mata, dan paling mencolok diantara bintang lainnya. Sehingga walaupun letak atau bentuknya berubah, bintang itu tetap bisa ditemukannya diantara seluruh bintang yang bertebaran di langit.

Bintang itu dibuat oleh seorang dewa yang tidak pernah menyebutkan namanya, kata sahabatnya.

Sang dewa yang baik hati, pikir perempuan itu. Dia jatuh hati dan mencintai sang dewa –dia membuatkan altar pemujaan khusus dan setiap hari dia memuja sang dewa terkasih, walaupun dia bingung untuk memanggil namanya seperti apa, tapi dia menyebut nama Dewa Baik Hati Pemberi Bintang Paling Terang berulang-ulang supaya dewa itu bisa mendengarnya, membuatkan bintang yang paling terang untuknya, dan membalas cintanya pula agar hidupnya lebih bahagia dan tidak kesepian lagi.

Perempuan itu ingin bertemu sang dewa untuk menyampaikan pemujaan dan rasa cintanya. Sahabatnya bertanya kenapa dia tidak mencintai manusia saja, si perempuan menjawab bahwa dia tidak tahu. Lalu sahabatnya mengatakan bahwa tidak mungkin seorang manusia bisa menemui dewa, karena itu terlarang. Para dewa hidup abadi di ketinggian, sedangkan manusia memiliki waktu hidup yang sangat singkat di bumi. Tapi perempuan itu bersikeras akan mencari jalan menuju langit.

Maka dimulailah petualangan si perempuan menemui sang dewa. Pada awalnya dia nyaris putus asa karena tak seorangpun yang tahu jalan menuju langit. Mereka berkata bahwa para dewa hanya bisa dipuja dari bumi untuk segala kemakmuran dan keberkahan hidup manusia. Tapi perempuan itu tidak pernah menyerah. Dia berkeliling dunia sekian lama. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dewa terkasih, untuk mendengar suara dan melihat wajahnya yang agung. Dia tidak peduli berapa pun waktu yang dibutuhkan untuk menunggu, karena dia yakin bahwa sang dewa akan bisa ditemukannya. Hingga melepuh kakinya, dan menua usianya.

Hingga pada akhirnya, dia bertemu seekor burung raksasa yang iba melihat kegigihannya. Dia membawa perempuan itu ke ketinggian yang hampir mencapai langit. Tapi burung itu hanya mengantarnya sampai gerbang langit di antara gumpalan awan. Perempuan itu merasa sangat senang, kini dia bisa melihat dunia dengan seutuhnya dari atas awan.

Di gerbang itu dia bertemu seorang penjaga tua. Setelah mengutarakan keinginanya, sang penjaga tidak mengijinkannya masuk. Perempuan itu tidak menyerah. Dia duduk menunggu di pintu gerbang selama bertahun-tahun, dan setiap hari dia bercerita sedemikian rupa sambil memperlihatkan dupa pemujaan pada sang dewa terkasih. Penjaga itu lantas merasa iba dan mengijinkannya masuk dengan satu syarat : dia akan mengambil seluruh ingatan perempuan itu sedari dia lahir sampai saat itu. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu menyetujuinya. Lelaki itu juga mengingatkan bahwa sekali dia masuk dan bertemu dewa, maka hidupnya akan berubah dan dia tidak akan bisa pulang ke bumi. Perempuan itu juga menyetujuinya.

Besoknya, perempuan itu masuk ke langit dengan tanpa ingatan apapun tentang hidupnya, kecuali bahwa ingin bertemu dengan sang dewa. Penjaga gerbang mengantarkannya menghadap sang dewa tersebut.

Dewa itu duduk dengan tenang di sebuah kursi besar terbuat dari tembok. Karpet besar berwarna hijau terbentang dari kaki sang dewa sampai ke tempat perempuan itu berdiri kaku, penuh kegembiraan. Keagungan terpancar dari seluruh tubuhnya, serupa cahaya bulan yang lembut tapi menyilaukan. Silau yang tidak menyakitkan mata. Tubuh perempuan itu bergetar dan semakin besar rasa kasihnya pada sang dewa. Lalu dia menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh menyembah.

“Aku sudah mendengar tentangmu dari para penjaga. Engkau adalah satu-satunya manusia yang mempertaruhkan seluruh hidupmu untuk bisa bertemu denganku. Tapi aku tidak tahu untuk apa engkau melakukannya. Dan kenapa engkau menangis, wahai manusiaku?”

“Saya terlalu bahagia, Tuan. Saya terlalu bahagia karena akhirnya bisa melihat Anda setelah sekian lama. Seandainya seseorang mencabut nyawa saya pada saat ini, tetap tidak akan menukar kebahagiaan saya bertemu Anda” jawab perempuan itu. “Saya datang kesini karena ingin menyampaikan hal yang sangat penting pada anda. Dan hal ini jauh lebih penting dari hidup saya sendiri”

Sang dewa tersenyum, “Dan apakah gerangan hal penting itu?” tuturnya.

“Sejak melihat bintang yang anda tempelkan di langit, saya jatuh cinta pada anda dan ingin bersama anda. Saya ingin berada di sini di sisi anda”

Dewa itu terdiam. Dia menghela nafas dan menjawab dengan air muka berubah agak muram, “terima kasih karena engkau begitu mencintaiku, perempuan yang baik. Aku merasakan bahwa semesta dan banyak manusia lain mencintaiku pula. Aku merasakan mereka. Mereka memberikan persembahan untukkku. Aku menerima cintamu sebagaimana manusia lainnya. Aku menerima pemujaanmu dari bumi. Tapi kenapa engkau sampai ingin datang kemari dan berada di sisiku?”

“Karena saya mencintai anda. Saya sangat mencintai anda”

“Aku tahu. Dan itu membuatku senang. Tapi untuk apa engkau menginginkan berada di sisiku? Engkau manusia, yang lemah dengan waktu hidup yang sebentar. Engkau tidak akan bertahan berada di langit”

“Saya menginginkan hal ini, atas kemauan saya sendiri. Untuk bersama anda, saya bisa melakukan apapun. Saya ingin bersama anda untuk menciptakan kebahagiaan bagi diri saya sendiri. Saya merasa sangat bahagia jika bisa bersama anda. Saya akan memberikan apapun untuk Tuan. Jadikanlah saya budak anda”

Sang dewa tak bisa menerimanya. Dia meminta perempuan itu untuk pulang, atas kuasanya sendiri dia bisa membuat perempuan tersebut pulang ke bumi.

Perempuan itu tidak bergeming. Dia menunggu di pintu keluar dan terus berpikir bahwa jika dia berusaha lebih keras lagi, lebih lama lagi, keinginannya pasti akan terwujud. Dia sudah sampai sejauh itu, dan tidak bisa kembali lagi ke bumi.

Sang dewa akhirnya merasa kasihan dan menemui perempuan itu sekali lagi. “Kenapa engkau keras kepala sekali? “ tanya sang dewa.

“Karena saya hanya ingin bersama dengan anda”

Sang dewa geleng-geleng kepala. Dia akhirnya mengabulkan permintaan perempuan tersebut. Sejak saat itu, si perempuan tinggal di langit bersama sang dewa terkasihnya dan merasa yakin bahwa dewa itupun mencintainya karena telah mengijinkannya tinggal di langit. Sang dewa menjadi lebih penting dari apapun, seperti udara baginya.

Setiap malam setelah perempuan itu memuja sang dewa dengan caranya sendiri, dia bertanya pada sang dewa “saya sangat mencintai anda”. Sang dewa mengangguk. “Tuan, apakah anda juga mencintai saya?”.

Sang dewa tersenyum, “aku mencintaimu seperti aku mencintai seluruh manusia di bumi”.

“Tidak ada bedanya untuk saya?” perempuan itu tiba-tiba merasa sedih. Sang dewa menggelengkan kepala.

Waktu berlalu sekian lama, dan perempuan itu tetap bertanya setiap malamnya. Namun yang dia terima selalu jawaban yang sama. “Kenapa anda tidak bisa mencintai saya dengan cara yang berbeda?”.

“Karena aku seorang dewa. Dan aku mencintai seluruh manusia meskipun mereka tidak mencintaiku lagi atau bahkan tidak mengenalku”

Semakin lama perempuan itu semakin merasa sedih dan kesepian. Kesedihan itu menggerogoti usianya lebih cepat. Sang dewa melihatnya dan dia berkata, “mengembalikanmu ke bumi adalah terlarang bagi para dewa. Tapi aku ingin melihatmu bahagia. Kembalilah ke bumi, jadilah manusia seutuhnya dan berbahagialah. Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu, untuk seluruh rasa cintamu itu. Di bumi, energi cintamu akan memberikan kebaikan pada banyak orang”

“Tapi saya ingin selalu bersama Tuan sampai kapanpun. Saya tidak bisa pergi dari sini…”

“Aku tahu engkau begitu mencintaiku. Tapi, engkau harus mencintai dirimu sendiri melebihi aku, supaya engkau bahagia”

Perempuan itu terdiam. Dia terus terdiam dan meninggalkan sang dewa. Lalu pada suatu hari, perempuan itu  mengintip ke bumi. Ada hamparan hijau yang luas, dan angin semilir yang menakjubkan. Dia pun menangis lama. Dia merindukan banyak hal di tempat di mana segala hidupnya bermula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s