Tentang Hubungan Seks : ‘Untuk Apa?’ Bukan ‘Kenapa?’

Saya baru saja mengobrol dengan seorang kawan soal hubungan seks, dan tiba-tiba saja tercerahkan oleh ceramah singkatnya. Tanpa keterlibatan norma, agama, ataupun hukum formal lain yang berlaku di negeri ini, melakukan hubungan seks merupakan sebuah pilihan yang sah-sah saja dilakukan oleh pasangan apapun dengan beberapa kondisi :

  1. Sudah tahu apa itu hubungan seks dan dampaknya terhadap tubuh
  2. Dilakukan dengan aman (tidak berpotensi menyebarkan penyakit menular pada orang lain dan tidak menyebabkan kehamilan jika tidak menginginkannya)
  3.  Paham sedalam-dalamnya tentang resiko pilihan ini sehingga bisa bertanggung jawab sendiri sepenuhnya
  4. Dilakukan dengan kesadaran/kehendak sendiri, tanpa paksaan, dan memang karena menginginkannya.

Kondisi-kondisi ini penting apalagi untuk pelaku pemula atau pertama kali melakukan hubungan seks. Konon dikatakan bahwa hubungan seks pertama kali sebaiknya dilakukan dengan orang yang memang dikasihi dan juga mengasihi seperti pacar atau suami/istri, mungkin agar dampak kepuasannya lebih terasa karena menggunakan perasaan yang timbal balik.  Terutama karena konon (juga) katanya bagi perempuan itu seks bukan semata soal penetrasi dan lain sebagainya yang berifat ragawi, tapi juga keterlibatan emosi dan perasaan. Karena pengalaman pertama kadang bisa menimbulkan sesuatu yang bersifat traumatik jika dilakukan dengan tidak tepat.

Karenanya, sebelum termehek-mehek kepada seseorang sampai ingin melakukan hubungan seks, demikian yang dikatakan sang teman, coba dipikir ulang kembali dengan memberikan pertanyaan sederhana pada diri sendiri : “Untuk Apa Hubungan Seks Tersebut Dilakukan?”. Atau apalagi bagi yang belum pernah melakukan sebelumnya yang notabene akan melepaskan keperawanannya, juga tanyakanlah terlebih dahulu untuk apa hal itu dilakukan. Lalu jawab dengan sejujurnya.

Untuk apa, bukan kenapa.

Kalau pertanyaan kenapa, menurut saya jawabannya lebih banyak bersifat pembenaran terhadap apa yang akan kita lakukan sehingga menguatkan niat kita sendiri tanpa mengetahui motif sebenarnya kenapa hal itu dilakukan. Misalnya, “karena dia penting bagiku” , “karena aku mencintainya”, atau hanya “karena aku memang ingin melakukannya” dan lain sebagainya. Tapi kalau pertanyaannya diubah menjadi ‘untuk apa?’, bagi saya jawabannya akan lebih jujur pada diri sendiri dan akan menemukan alasan pribadi kita, yang hanya berlaku untuk diri sendiri beserta seluruh dampaknya.

Meskipun kita berhak untuk melakukan apapun dengan tubuh kita sendiri, tapi buat saya, hubungan seks itu adalah sesuatu yang spesial dan penting yang harus dilakukan dengan orang yang spesial juga, dengan satu tambahan personal yang akhirnya saya putuskan sendiri setelah berpikir beberapa hari ini : orang yang sudah halal bagi saya. Makanya tidak bisa dilakukan begitu saja, dan ketika bertanya pada diri sendiri ‘untuk apa saya melakukan hubungan seks’ maka akan keluar jawaban yang bisa dijadikan refleksi sehingga saya berpikir ulang, benarkah saya memang menginginkan itu.

Jadi, untuk apa? Jawabannya bisa beragam. Kalau yang sudah menikah dan latar belakang agamanya mendominasi mungkin akan menjawab “untuk menyenangkan suami dan mendapatkan cinta Tuhan”,  atau “untuk bersenang-senang”, “untuk mendapatkan kepuasan seks dan penyaluran birahi saya sendiri”, “untuk mendapatkan cinta dari orang yang melakukan hubungan seks dengan saya”, “untuk membuktikan cinta” dan lain sebagainya.

Lalu apakah ada jawaban yang salah? Tidak. Karena akhirnya semua akan tergantung kepada keputusan dan pilihan kita sendiri. Ketika sudah tahu APA sebenarnya yang kita lakukan dan UNTUK APA kita melakukan hal tersebut, maka kita akan belajar untuk mengetahui resiko dari apa yang akan kita lakukan. Lalu idealnya sebagai seorang manusia dewasa, menerima serta bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Seks juga harus dilakukan dengan smart, terutama bagi para perempuan, seperti yang dikicaukan oleh @mbakrimaH berikut ini :

 “Girls, when a guy compliments your looks, how sexy you are, it’s not a compliment. It’s a sneaky way to get laid without spending a dime.”

“So girls, fuck smart, fuck cos YOU want to, not cos you’re grateful for his compliments. He says the same things to at least 20 other girls.”

Setelah lama tidak menggunakan twitter sampai akun saya hangus, akhirnya saya membuat akun baru demi melihat timeline (TL) mbakrimaH tersebut yang benar-benar telah meracuni pikiran saya berhari-hari, bahkan sampai detik ini pun racunnya tidak bisa dinetralkan. Benar-benar sudah meresap ke darah. Sepertinya sih begitu:mrgreen:

Kesadaran-kesadaran seperti ini amat tipis adanya. Kebanyakan perempuan mungkin tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam kondisi dimanfaatkan, yang di tahu hanyalah bahwa dia menikmati kondisi tersebut dan percaya pada apapun untuk sebuah alasan yang bermuara pada cinta dan pemujaan. Terkadang kesadaran ini pun menjadi sebuah prasangka-prasangka cerdas yang membuat perempuan lebih kritis terhadap segala hal yang terjadi kepadanya. Jadi, sekali lagi, bukan soal benar dan salah. Karena itu tergantung dari persepsi pribadi kita sendiri. Jika merasa fine-fine saja dengan pilihan yang dijalani, maka silahkan. Tapi be wise, yaitu dengan memahami hal tersebut sebaik mungkin (sebuta apapun kita terhadap cinta, bila kita melakukannya karena cinta) dan resiko yang akan ditimbulkan di masa depan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s