Mitologi Cinta

Ketika saya bertanya kepada seorang kawan, “apakah cinta itu ada?”, beliau malah bertanya balik, “apakah Tuhan itu ada?”. Sampai sekarang saya tidak terlalu paham apa hubungannya. Setelah beberapa kali dirunut, mungkin menurut beliau Tuhan adalah bentuk mutlak dari cinta itu sendiri. Entitas yang tak bisa terlihat, tetapi ada. Mungkin begitu. Tetapi entah seperti apa bentuknya, atau bagaimana cara mengetahuinya bahwa apa yang kita rasakan adalah cinta.

Jika cinta didefinisikan sebagai sebuah perasaan tulus dan tanpa pamrih (selayaknya hubungan platonis) untuk senantiasa merawat, menjaga dan memberikan hal-hal yang dianggap baik untuk seseorang, maka itu baru bisa saya lihat dalam hubungan antara anak dan orang tuanya, walau tidak semuanya seperti itu. Lalu bagaimana kalau dalam konteks hubungan dengan pasangan, kekasih, suami/istri dan sejenisnya?

Saya sering menyamakan cinta dengan rasa kekaguman pada seseorang dalam setiap aspeknya, lalu tumbuh rasa suka, ingin memperhatikan, dan keinginan untuk bersama orang tersebut baik secara jiwa maupun raga. Pada beberapa kasus yang saya temui, rasa-rasa itu timbul bermula dari kekaguman yang teramat kuat pada aspek-aspek yang kita lihat dari dalam diri seseorang, dan ini sangat subjektif karena hanya kita sendiri yang melihat hal tersebut, menurut persepsi kita saja.

Misal, karena menurut kita orang tersebut ganteng, kaya raya dan mapan, karena pintar, karena sangat baik dan perhatian, karena ideologi dan cara berpikirnya yang super keren, karena agamanya, dan karena-karena lainnya yang kebetulan sesuai dengan selera kita  atau ‘dia tipe gue banget’. Kekaguman ini mungkin akan luntur jika kita mengetahui satu/beberapa hal yang tidak kita sukai,  atau sebaliknya akan menguat ketika kita semakin mengetahui hal yang lebih detil tentangnya.

Kekaguman dan rasa suka itu tipis sekali jaraknya. Rasa kagum yang dipupuk biasanya berkembang menjadi suka, dan terus berkembang lagi menjadi rasa-rasa lainnya, yang akhirnya oleh sebagian orang disebut sebagai jatuh cinta. Tapi tentu tidak semua kasus akan berkembang seperti itu.

Sebenarnya, sama sekali tidak ada masalah dalam seluruh proses itu. Malah sangat menyenangkan, buat saya sih begitu. Dunia terlihat cerah ceria dan penuh semangat setiap hari. Senang saat bertemu dengan dia, rasanya melambung tinggi dan tidak mau turun-turun lagi. Senang saat mengobrol dengannya, bercanda-canda, memperhatikan hal-hal kecil, jadi ingin terus mengulang hal-hal tersebut, dan rindu jika sehari saja tak menyapa atau melihatnya, gelisah jika tidak bisa menghubunginya karena sudah terbiasa dengan kehadirannya. Merasa ketakutan kalau suatu hari nanti tidak bisa lagi bersama dengannya. Nah, hal-hal seperti itulah.

Apakah itu semua yang disebut cinta? Saya belum tahu. Tapi apapun rasa-rasa itu dinamakan, biasanya akan diikuti dengan keinginan, harapan dan ekspektasi lanjutan mengenai sang pengisi hati. Yang sering terjadi adalah : keinginan untuk dibalas perasaan, sehingga keduanya menjadi sinkron dan akhirnya masuk ke jenjang pengikatan rasa dengan perjanjian atau komitmen dalam sebuah aktivitas yang dinamakan berpacaran. Tidak peduli apakah perasaan itu sinkron beneran atau hanya pura-pura. Rasa kan tidak bisa dilihat, dan sikap-sikap yang memperlihatkan ‘aku punya rasa yang sama’ pun bisa diciptakan dengan topeng yang terpahat sempurna. Yang penting masing-masing sudah bilang ‘I love you’ dan bersedia melakukan pengikatan.

Yang menjadi masalah awal pada kasus-kasus begini adalah jika sang pengisi hati tidak sinkron sesuai keinginan/harapan. Jadilah patah hati, kecewa, merasa ditolak, merasa diri tidak berharga karena tidak bisa membuat si dia berpaling dan menyukai dirinya pula, merasa dunia pun runtuh dan kejam,  sehingga sedih berkepanjangan. Tiap hari mendengarkan lagu patah hati, membaca tulisan-tulisan patah hati, bahkan ada yang sampai bunuh diri lho. Mungkin tergantung akut atau tidaknya rasa yang menempel itu.

Kenapa hal yang indah tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang paling buruk dan berat untuk dihadapi? Karena sedari awal sudah terlalu banyak memupuk harapan dan keinginan pada orang tersebut. Baiklah, bicara memang mudah. Karena pada kenyataannya tetap saja menyakitkan, bukan? Bagaimana supaya tidak terasa sakit? Karena harapan dan keinginan itu sepertinya sudah satu paket dengan rasa kagum dan suka, jika terus dipupuk.

Saya mau bilang apapun juga pasti masih menyakitkan sih. Saya tidak bilang kalau saya tahu obatnya, asal tidak sampai depresi dan bunuh diri sih ya mungkin bisa diusahakan dengan cara mencoba memikirkan sesuatu yang lain. Karena sumber semua itu kan juga dari pikiran kita sendiri. Bahasa kerennya : menata dan mengubah cara berpikir, mencoba melihat sesuatu dengan cara-cara yang beda dan baru.

Misalnya, coba dipikirkan lagi, apakah itu benar-benar sesuatu yang dinamakan cinta? Walaupun saya belum yakin tentang apa itu cinta, tapi saya masih yakin bahwa jika masih ada rasa sakit yang ditimbulkan sebagai efek dari apa yang kita rasakan pada seseorang, bagi saya jelas bahwa itu bukanlah cinta. Kalau bukan cinta, lalu apa? Berdasarkan pemikiran soktau-nya saya, rasa-rasa yang selalu diklaim sebagai cinta itu sebenarnya adalah bentuk keinginan dan harapan yang melingkupi 3 hal penting berikut ini :

 

  1. Coba diingat-ingat lagi, apakah dalam rasa-rasa yang kita pupuk itu ada sebuah keinginan untuk selalu bersama dengannya setiap waktu? Adakah keinginan untuk mendominasi seluruh perhatian dan keseharian dia supaya tercurah kepada kita saja? Adakah keinginan untuk menjadi pacar dia dan sebaliknya? Dan juga rasa-rasa lain yang bersifat sangat ingin memiliki dia (entah jiwa maupun raga ataupun keduanya), keinginan yang terlalu kuat sehingga malah mendominasi pikiran dan hidup kita sendiri. Kita menjadi disibukkan dengan pencapaian keinginan tersebut. Menurut saya itu adalah obsesif, kita sudah terobsesi padanya.
  2. Lalu, ingat-ingat pula, apakah setiap waktu kita mulai terbiasa dengan kehadiran dia, dengan sapaannya, kata-katanya, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan dia sehingga itu sudah menjadi sebuah kebutuhan primer, dan kelabakan saat ditinggal walau sebentar. Tidak tahan kalau sehari saja tidak mendengar suaranya, setiap saat teringat dia, seolah-olah hal penting di dunia ini hanya dia saja, tidak ada yang lain. Saat dipaksa untuk berhenti pun, kita akan mencari dan terus mencari sampai kebutuhan itu terpenuhi. Ada kepuasan personal lahir dan batin saat sudah menjalani rutinitas ngobrol dengannya. Hm, bukankah itu serupa dengan orang yang mencandu pada rokok atau obat-obatan? Dia sudah menjadi candu kita, dan kita jadi pecandu berat yang akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkannya. Kita sudah kecanduan, addicted.
  3. Dan, apakah ada rasa takut yang amat sangat bila kehilangan dia? Dia terlalu berharga sehingga kita selalu takut tak bisa lagi dekat dengannya.  Dalam level yang lebih parah, rasa takut kehilangan ini mengalahkan takut pada hukum-hukum masyarakat ataupun agama. Hidup menjadi penuh kegelisahan dan dicekam kekhawatiran karena takut tiba-tiba dia pergi meninggalkan kita, karena kita merasa belum siap hidup tanpa orang tersebut.

 

Dari ketiga hal itu, apakah ada terselip sesuatu yang bisa disebut sebagai cinta? Ataukah memang pada dasarnya cinta memang seperti itu adanya? Konon katanya cinta itu membebaskan pikiran dan jiwa kita. Kalau malah jadi belenggu berarti bukan cinta dong.

Saya sendiri masih kabur dengan definisi rasa-rasa tersebut, semuanya tercampur aduk sehingga kadang pikiran kita sendiri membuat pembenaran sendiri, dan kita pun enggan lepas dari belenggu. Seluruh rasa-rasa itu akan menjadi rantai yang membelenggu kebebasan jiwa dan membuat kebahagiaan makin menjauh. Kecuali kalau kita memang sudah sangat buta sehingga bisa menikmati seluruh belenggu dan rasa sakit yang ditimbulkan tersebut.

Konon, ada juga yang mendefinisikan bahwa cinta adalah self gratification (CharChar, Mangafox). Jadi segala sesuatu yang dilakukan dalam rangka pemenuhan kepuasan diri sendiri itulah cinta. Karena bukankah memang tiap orang menganggap cinta adalah sesuatu yang bisa memberikan kepuasan, kesenangan dan kebaikan bagi dirinya sendiri? Orangtua merawat anak-anaknya, menurut mereka itu hal yang baik dan mereka pun merasa senang karena hal itu, dan orang-orang menamakan itu sebagai cinta orangtua pada anaknya.

Saya sendiri masih yakin bahwa cinta adalah energi positif yang efeknya baik, dia menimbulkan hal-hal yang baik. Tapi kemudian muncul pertanyaan, baik menurut siapa dan buat siapa? Ini memang relatif, karena segala sesuatu akan kita anggap baik jika menguntungkan kita, dan itu tidak salah juga sebenarnya (karena cinta bukan tentang benar dan salah), makanya disebut sebagai self gratification. Begitulah. Wallaahu a’lam bisshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s