Selamat Merayakan Warna-Warna Kehidupan, Lumiere

Dear Lumiere,

Lumiere,  seseorang pernah bertanya kepadaku di masa lampau, “apa visi dan misi pernikahanmu?”. Lalu aku menjawab sambil tertawa, “untuk menguasai dunia!”. Dan dia pun tertawa pula. Jika aku tidak percaya kepada Tuhan dan mengesampingkan alasan-alasan agama, Lumiere, tentulah sudah kukatakan bahwa aku tidak pernah memikirkan hal-hal yang terlalu kompleks tentang pernikahan.

Yang ada dipikiranku hanyalah, menikah adalah terus belajar menghadapi kehidupan dengan sudut pandang yang berbeda dan cara-cara baru, menyeduh teh hangat untuknya setiap pagi, menurunkan ego dengan lebih banyak melakukan me- daripada di- , mengobrol apapun dan berbagi banyak hal ke level yang lebih pribadi. Bukan hanya tentang pengumuman ke seluruh dunia bahwa kita sudah bisa melakukan hubungan badaniah secara bebas dan keberhasilan menunaikan tugas-tugas kehidupan di masyarakat.

Aku tidak tahu lagi tentang hal-hal lainnya, mungkin sebenarnya kebersamaan semacam itu bisa dilakukan dengan tidak melibatkan pernikahan. Tapi, yang menjadi berbeda adalah karena pernikahan akan melegalkan bentuk hubungan itu secara hukum maupun agama, di sini. Juga, agar Tuhan pun mencintai kita. Itu saja yang aku tahu.

Lumiere, jika pernikahan demikian sakral seperti layaknya hubungan badan sepasang manusia, mungkinkah karena engkau menganggap bahwa itu adalah perpaduan jiwa? Lagi-lagi aku tak paham. Tapi sekarang aku berpikir bahwa hal itu akan menjadi sakral jika membawa ketenangan pada jiwa, dan tidak terbelah dalam kegelisahan. Aku tidak tahu bagaimana indahnya hal itu, tapi melakukan hal-hal besar yang akan mengubah hidup kita butuh keberanian dan kepercayaan yang sangat besar.

Lumiere, apakah menurutmu melegalkan bentuk kebersamaan itu berarti masing-masing kita akhirnya saling memiliki? Menurutku, tidak. Karenanya, aku tidak terlalu paham dengan perkataan ‘aku ingin menjadi milikmu’ atau ‘jadilah milikku selamanya’. Karena manusia tidak bisa menjadi milik manusia lainnya, kecuali dalam perbudakan, itupun secara fisik. Bagiku, kehadiran seseorang yang menemani hidup kita tidak menjadikan jiwa, pikiran, atau diri kita sendiri menjadi tidak punya kehendak sendiri.

Karena ‘menjadi milik’ itu terkesan bahwa kita bisa melakukan apapun terhadap apa yang kita miliki meskipun kita ataupun dia tidak menyukainya. Makanya, berkumpulnya dua orang tersebut haruslah menjadi sebuah simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, secara fair dan timbal balik dalam rasa. Karena jika tidak, maka salah satu akan menderita. Semua hal akan menjadi bergantung pada kesepakatan bersama dan menjaga kesepakatan tersebut.

Lumiere, bagiku menikah adalah kebersamaan dengan orang yang sangat spesial bagi pikiran dan jiwa, seperti diri kita juga yang spesial baginya. Seperti juga engkau dengan sang pendampingmu, dalam naungan aturan-aturan agama kita. Bagiku, kalaupun itu tidak melibatkan agama, tapi ada keinginan memberikan segala hal yang spesial untuk orang yang telah menjadi suami. Hanya untuk orang tersebut saja.  Karena itulah seluruh hubungan-hubungan yang terlampau sakral pun hanya bisa dilakukan dengan suami. Mungkin kedengaran sangat konvensional dalam hal ini, tapi tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menjadi diri sendiri, dengan identitas kita sendiri, tanpa harus memaksakan diri menjadi sesuatu yang membuat jiwa kita terbelah.

Lumiere, terima kasih atas semuanya. Engkau sudah menemukan salah satu sumber kebahagiaan dan akupun akan menemukan sumberku sendiri. Barakallaah. Selamat berbahagia, selamat dengan kehidupan yang berbeda dalam kebersamaan dan pernikahan, dan selamat merayakan warna-warna kehidupan tersebut. Insha Allah.

(Untuk sahabatku, Lumiere)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s