[Mini Fiksi] Malam Abadi

1

“Maukah semalam dengan saya, Tuan?” perempuan itu membungkukkan badannya kesekian kali –dia tak dapat menghitungnya lagi, kepada sebuah mobil yang berhenti tak berapa jauh dari pinggir jalan tempat ia berdiri kaku karena kedinginan. Tak ada siapapun di sekitarnya karena hujan belumlah reda sepenuhnya. Hanya dia seorang yang nekat berdiri di tepi jalan.

Malam mulai menua dan lebih dingin dari sebelumnya, bercampur sisa-sisa hujan, dan dia ingin segera pergi dari tempat terkutuk itu.

Mobil itu mundur perlahan-lahan, mendekatinya. Kaca bagian depannya terbuka sedikit, lalu seorang lelaki melongok dari balik kaca. Menatapnya. Menawarkan transaksi yang akan terus diingat olehnya seumur hidup, mungkin setelah itu.

Transaksi pertamanya.

“Siapa namamu?”lelaki itu bertanya dengan suara tertahan.

“Nina”tidak perlu menyebutkan nama sebenarnya untuk orang yang akan dia lupakan selamanya, begitu pikirnya.

“Berapa?”

“Untuk keperawanan saya, 20 juta”

Tidak terdengar lagi suara. Beberapa saat setelah itu kaca mobil bergeser makin ke bawah. Lelaki itu mengeluarkan kepalanya melalui kaca tersebut, melihat dengan tajam ke arahnya. Dia sedang menilainya dengan lebih jelas. “Baik. Masuklah”sahut lelaki itu kemudian.

Perempuan itu tertegun sejenak. Dia tak terlihat senang ataupun sedih. Matanya kosong, tanpa perasaan. Akhirnya, dia berpikir, tanpa penawaran. Hal seperti itu sudah ditunggunya sejak malam baru mulai tadi dan dia berdiri sepanjang malam dengan penuh penderitaan. Tapi dirinya tidak merasa bahagia sama sekali. Mungkin nanti, dia akan bahagia setelah semuanya berakhir.

Dia masuk ke dalam mobil, dan melihat lelaki itu tertawa kecil kepadanya. Seorang lelaki berbaju setelan mahal dan berdasi mengkilap seperti para konglomerat pada umumnya. Usianya mungkin sekitar pertengahan empat puluhan. Wajahnya tidak akan membuat siapapun melirik kepada dia tapi yang berada di dompetnya pasti bisa membuat siapapun buta, dan dirinya sedang berusaha membutakan diri pula.

Lelaki itu bertanya beberapa hal selama perjalanan. Namun perempuan itu tidak banyak berbicara.

2

Kadang-kadang dia membayangkan sebuah adegan dalam cerita seperti dongeng atau film-film romantis yang sering dia lihat pada masa mudanya. Mungkin cerita dan film-film itu telah demikian sukses memanipulasi pikiran dan perasaannya sampai saat itu. Seorang perempuan yang belum menjadi pelacur dan amatir dalam segala hal, begitulah yang dipikirkannya, oleh sebab beberapa hal yang tidak beres dalam pikirannya tiba-tiba saja memutuskan untuk melepaskan keperawannya begitu saja dengan harga sedemikian –bahkan dia sebenarnya tidak tahu seberapa besar mesti menghargai keperawannya dalam nominal rupiah, dia hanya asal sebut saja tadi.

Lalu, dikarenakan sebuah keberuntungan hidup sebagaimana dicontohkan dalam film-film romantis itu tadi, seorang lelaki kaya raya akan menidurinya pada malam itu, dan sebenarnya lelaki itu adalah lelaki baik hati yang hanya melakukan kekhilafan pada malam itu saja dikarenakan sebuah sebab –entah apa, pokoknya sebuah sebab yang masuk akal. Lalu lelaki kaya nan baik itu, pada pagi hari saat terbangun di sisinya akan menatapnya dengan perasaan cinta, menyadari telah meniduri perempuan yang salah dan bahwasanya dia hanyalah perempuan lugu yang terjebak dalam kondisi naas seperti itu. Beruntunglah perempuan itu karena menyerahkan malam pertamanya kepada seorang lelaki yang tanpa sadar ternyata telah ditulis oleh Tuhan di dalam kitab kehidupannya, sebagai pasangannya sendiri.

Lalu mereka akan bercakap-cakap pagi itu, dan saling jatuh cinta. Lalu semua berakhir  bahagia.

Perempuan itu merasa sedikit terhibur dengan pikiran-pikirannya sendiri saat dia berdiri telanjang di hadapan lelaki tua yang menatapnya nyalang penuh birahi. Pastilah akan seperti itu, jika saja hidup bisa kutulis sendiri bab-bab-nya, pikirnya lagi saat melihat tubuh polos lelaki tua yang mulai mendekatinya. Dia sama sekali tidak merasakan apa-apa.

Terngiang percakapannya dengan seorang teman perempuan pada beberapa hari yang lalu.

“Jangan lupa, lakukan dengan aman”.

“Apa yang akan terjadi padaku?”

“Kau akan baik-baik saja, kurasa”

Dia membaca semua buku yang dia bisa dan menonton apapun yang membuatnya dapat menghapal adegan-adegan percintaan dengan susah payah. Sampai dia membasah. Dan temannya menertawakan dia, “apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang ciuman pertama saja belum pernah?”.

“Banyak hal”dia menjawab jumawa karena merasa telah bisa mengingat banyak hal dari buku-bukunya.

Tetapi saat melihat lelaki tua itu mengeras dan menindihnya, dia melihat matanya bak binatang buas yang tak pernah dia lihat sebelumnya, tiba-tiba semua ingatan-ingatan itu lenyap begitu saja. Yang dia ingat hanyalah, bahwa semua cerita dan film-film romantis itu palsu belaka.

Itu adalah malamnya yang abadi.

3

Perempuan itu berdiri di depan temannya sambil tersenyum kecil. “Sudah kulakukan”

“Oya? Apa kau ingat siapa orangnya?”

Perempuan itu tertawa-tawa, “sayang sekali aku sudah tidak ingat. Dia memperkenalkan diri dan memberikan kartu nama, tapi aku sudah membuangnya. Aku pergi lebih dulu dari hotel tadi”dia melemparkan tas kecilnya ke atas kursi, lalu membuka ikatan rambutnya. Dia merasa kepanasan. Diambilnya sebuah sisir, lalu dia mulai menyisir rambutnya. Itu terus dilakukannya, padahal rambutnya sudah rapi.

“Dan oh, aku melupakan satu hal yang sangat penting!”katanya lagi. “Aku lupa membawa cek 20 juta yang diberikan lelaki itu. Tertinggal di hotel”

“Kamu yakin tidak sengaja meninggalkannya?”

Perempuan itu mencengir saja.

“Bagaimana perasaanmu?”temannya menatapnya dengan lembut.

“Aku merasa terbebaskan. Pagi ini aku bangun dengan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dan kau tahu, aku tidak merasa sakit sama sekali! ”

“Apa kau yakin?”

Perempuan itu mengangguk. “Aku mau mandi”katanya lagi.

“Baiklah. Aku juga mau ke warung sebentar”temannya tersenyum demikian lembut, lalu bergerak cepat mengambil jaket di dalam kamarnya dan melangkah ke teras. Tetapi dia tidak pergi kemanapun, melainkan duduk tercenung di kursi di dekat pintu depan sambil mendengarkan suara dari dalam rumah.

Dan perempuan itu mengambil handuk kecil, lalu menyalakan televisi. Dia duduk sebentar sambil memindahkan channel tv itu berulang-ulang. Tak lama dia mematikan kembali tv tersebut. Lalu dia berjalan mondar-mandir di ruang makan sambil meletakkan jari-jari tangannya di kedua pipinya. Dia masuk ke kamar mandi, menyalakan keran air. Lalu dia berdiri agak lama di depan cermin besar di dalam kamar mandi itu.

Setelah itu dia kembali ke ruang tengah. Lalu bergerak pelan-pelan ke kamar tidurnya. Saat melihat tempat tidur tertata rapi, tiba-tiba dia merasakan sesuatu bergerak dalam perutnya. Wajahnya pucat pasi, keseluruhan bibir dan mulutnya mati rasa dan mendingin. Dia berlari ke kamar mandi, muntah berulang kali. Setelah semua isi perutnya keluar, dia duduk kelelahan dan lemas di belakang kaki kursi di ruang makan. Dia menundukkan mukanya, menyatu dengan lututnya.

Dia menangis. [end]

2 thoughts on “[Mini Fiksi] Malam Abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s