[Resensi] Alive, 1993

Informasi lebih detail mengenai film ini bisa dilihat di sini.

Ketika saya mencari film dengan kategori disaster, Alive (1993) terselip di situ dengan sebuah premis yang awalnya terlihat biasa saja. Tapi ternyata, sampai detik akhir, saya menemukan kebalikannya. Film ini, walaupun dibuat tahun 1993 dengan visual efek yang kalah jauh dibandingkan dengan film-film sekarang, tapi ceritanya tetap memiliki kekuatan tersendiri.

Jika anda pernah menonton The Grey-nya Liam Neeson (2011), film ini agak mirip di bagian awalnya: tentang sekelompok orang (di Alive jumlah orangnya lebih banyak) yang mengalami kecelakaan pesawat terbang, terjebak di padang salju antah berantah, dan berusaha bertahan hidup. Persis sama seperti itu. Hanya saja, adegan kecelakaan pesawat di The Grey terlihat lebih epik dan menegangkan, tentunya dengan dukungan teknologi spesial efek yang sudah lebih baik. Selain itu, The Grey akan berkembang menjadi semacam film survival sekelompok orang dalam menghadapi teror ‘monster pemangsa’, sedangkan Alive benar-benar rangkaian drama psikologis (menurut saya) yang justru lebih terasa disturbing-nya.

Di awal film, seorang tokoh yang merupakan mantan anggota tim Rugby ‘Stella Maris College’ menceritakan tentang sebuah peristiwa kecelakaan pesawat terbang yang terjadi pada tahun 1972. Dari sinilah cerita tim rugby tersebut bermula. Di dalam pesawat yang mengangkut para anggota tim rugby beserta beberapa kerabat serta teman-teman mereka, diperlihatkan sedikit kekacauan akibat ulah beberapa orang anggota tim yang ‘nakal’. Saat melewati pegunungan Andes yang penuh es, pesawat mengalami kecelakaan mengerikan. Bagian belakang dan 2 sayapnya terpotong-potong, berserakan di beberapa tempat. Badan pesawat sendiri akhirnya jatuh dengan menyisakan belasan orang survivors.

Dari sinilah petualangan para survivor itu dimulai. Semuanya berjalan secara natural, tidak ada monster-monster, tidak ada yang bertindak sok pahlawan, tapi semuanya menghadapi ketakutan dan depresi masing-masing selama menjalani hari-hari dingin di tengah-tengah lembah salju. Dari hari ke hari, hubungan antar survivor ini berkembang dengan cara yang mengharukan. Pada akhirnya, mereka harus bekerja sama melawan ego mereka sendiri demi bertahan hidup. Bahkan situasi makin mengerikan saat mereka harus melihat banyak kematian di depan mata mereka sendiri –kematian dari teman-teman mereka yang sekarat dan mati perlahan-lahan karena tidak mendapatkan perawatan medis memadai.

Buat saya, film ini cukup menyakitkan secara psikologis. Kebayang gak sih mesti bertahan hidup di tengah gurun salju yang dingin luar biasa di malam hari, dengan hanya berlindung di reruntuhan badan kapal, tidur bertumpukan seperti ikan asin bercampur dengan manusia-manusia sekarat, mayat bergelimpangan di luar kapal, tidak ada makanan dan minuman, bahkan mereka harus mencairkan salju di siang hari untuk minum. Dan yang paling disturbing menurut saya adalah ketika mereka memutuskan untuk memakai bangkai teman-teman mereka karena tidak ada lagi yang bisa dimakan.

Seorang tokoh utama yang cukup menonjol, Nando, bahkan harus berjuang agar bisa memakan daging adik perempuannya sendiri yang sudah meninggal di pelukannya. Tentu saja tidak semua setuju dengan ide makan bangkai ini, dan mereka punya argumen sendiri-sendiri terutama yang percaya kepada Tuhan dan agama, tentang hukuman Tuhan bagi manusia kanibal. Mereka mempertanyakan hal itu : mending mati atau makan bangkai teman sendiri?

Bagaimana rasanya daging manusia itu? Saya tidak bisa membayangkannya. Orang-orang itu menangis saat memakannya.

Saya sendiri tidak bisa menyalahkan pilihan mereka. Menurut saya pilihan untuk tetap hidup adalah sesuatu yang berani dalam situasi seperti itu, walaupun memakai bangkai manusia adalah dosa. Mereka tetap berani berusaha tanpa kenal lelah, selama hampir 3 bulan, untuk survive dan mencari pertolongan.  Mereka tetap menjaga dua orang yang sekarat, menghidupkan radio, mencari serpihan pesawat demi mengambil baterai,  dan beberapa orang bersedia berjalan ber-mil-mil jauhnya untuk mencari pertolongan sampai nyaris putus asa.

Saya teringat pada perkataan salah seorang tokoh di situ, bahwa walau bagaimanapun mereka harus tetap bertahan hidup dan terus mencari bantuan, karena jika lebih lama lagi terasing di tempat itu, mereka akan lupa bahwa mereka adalah manusia. Terus terang, ini mengharukan, dan saya bisa menerima apapun ending film ini.

Wah, sepertinya saya terlalu dramatis menceritakannya.  Tapi film ini sangat saya rekomendasikan. Enjoy watching !

3 thoughts on “[Resensi] Alive, 1993

  1. kalau melihat dari gambar, saya kira tentang bagaimana bertahan hidupnya para petualang / pendaki di gunung, ternyata kisahnya malah sedikit “seram” begituh…. sepertinya masuk film yang tidak akan saya tonton, ngeri juga filmnya kalau ada adegan “makan-memakan”

    Like

    • Sebenarnya, hanya seram secara psikologis karena situasinya dibuat begitu natural dari awal. Maksud saya, ini bukan jenis cerita horor kanibal pemangsa manusia yang melihatnya membuat kita ngeri dan jijik (dan hanya itu efeknya buat kita) karena yang diekspos adalah keseramannya itu sendiri, misal tubuh manusia yang dicincang, dimasak, dsb. Tapi di ‘Alive’, tenang saja, tidak diekspos se-menjijikkan itu dalam proses ‘makan’-nya, justru lebih terlihat manusiawi, hanya saja karena ini ditempatkan dalam kondisi dramatik yang sangat real dan diperlihatkan pertentangan-pertentangan dalam diri mereka sendiri, jadi menurut yang menonjol justru depresi psikisnya. Mereka bahkan menemukan pasta gigi seperti menemukan emas. Coba deh tonton, worth to watch kok. Mereka bukan kanibal seperti di horor-horor kok :p

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s