Pertanyaan Dari Miranda Risang Ayu

Kira-kira pada awal bulan ini saya bertemu dengan seorang penulis perempuan, Miranda Risang Ayu . Sebenarnya, saya bukan seorang fans atau pengagum beliau. Saya mengenal namanya sebagai penulis saat berusia 14 tahunan, jadi sudah lama sekali. Pada waktu itu saya membaca sebuah cerpen karya beliau di jurnal Ulumul Qur’an (yang mana saya tidak paham sama sekali tentang isi jurnal tersebut, tetapi belakangan saya berpikir kalau jurnal tersebut mengkaji tentang spiritualisme dalam islam). Saya lupa judul cerpen tersebut, tapi masih mengingat isinya dengan baik. Saat saya katakan kepada beliau tentang cerpen itu, beliau segera menjawab bahwa cerpen itu berjudul ‘Surti’. Ya, cerpen itulah yang membuat saya tahu bahwa ada penulis perempuan bernama Miranda Risang Ayu.

Saya pikir beliau pengarang biasa seperti yang lainnya -ya, tipikal pengarang buku-buku bernuansa islami/relijius dan saya tidak pernah sekalipun membaca bukunya. Saya hanya tahu selintas saja tentang nama beliau. Setelah kemarin bertemu langsung dan mengobrol selama 2 jam, barulah saya tahu bahwa betapa cerdasnya perempuan tersebut. Beliau rupanya sangat memahami (dan menekuni) hal-hal semacam spiritualisme, sufisme, dan sejenis itulah. Saya tidak paham dan tidak (atau belum) tertarik dengan hal seperti itu. Sulit untuk dimengerti, begitu menurut saya. Kawan saya yang merupakan penggemar berat beliau, memperlihatkan beberapa buku dan kumpulan puisi Miranda Risang Ayu. Setelah saya baca-baca sedikit, bahkan dari judulnya saja saya sudah tahu bahwa beliau memang membahas berbagai hal dari sudut pandang yang ‘berat’ menurut saya (semacam spiritualisme itu), misal tentang menemukan Tuhan, dan lain sebagainya.

Pada waktu itu, Miranda Risang Ayu mengajukan 2 pertanyaan yang, bagi saya, bukan pertanyaan biasa. Tapi beliau meminta saya untuk menjawab secara spontan melalui reaksi pertama dari apa yang saya rasakan setelah mendengar pertanyaan tersebut.

Pertama, beliau bertanya : ‘BAGAIMANA HIDUPMU?’

Entah kenapa saya langsung terbayang warna abu-abu, jadi saya menjawab abu-abu. Beliau meminta saya menjelaskan lebih lanjut kenapa saya menjawab abu-abu. Saya hanya bisa mengatakan, bahwa abu-abu merupakan area ketidakjelasan; atau mungkin lebih tepatnya, sesuatu diantara benar dan salah. Saya sendiri bingung.

Kedua, beliau bertanya : ‘BAGAIMANA JIKA SEANDAINYA TUHAN ITU TIDAK ADA? TUHAN, YANG SELAMA INI KAMU KONSEPKAN DALAM PIKIRANMU, BAGAIMANA JIKA SEBENARNYA DIA TIDAK ADA? DAN AGAMA ISLAM YANG KAMU PERCAYAI ITU SEBENARNYA TIDAK PERNAH ADA?”

Untuk pertanyaan kedua, saya tidak bisa menjawabnya. Saya hanya bisa terdiam. Kaget dan agak shock. Seumur hidup, baru kali itulah ada orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu secara langsung kepada saya.

Bahkan, sampai sekarang pun, saya tidak bisa memikirkan jawabannya. Saya tidak tahu jawabannya. Tapi, saya ingin bertemu lagi untuk mengobrol lebih lama dan lebih banyak lagi dengan beliau…

 

2 thoughts on “Pertanyaan Dari Miranda Risang Ayu

  1. Jawabannya sangat ditentukan oleh pengertian “ADA” menurut pemahaman yang bertanya terhadap yang ditanya (atau sebaliknya, atau oleh siapa pun). Seorang filsuf seperti Rene Descartes meski untuk mendapatkan alasan pembenar bahwa dirinya ADA adalah melalui (kesadaran) atas keberpikirannya. Suatu ‘alasan’ yang kelak dikoreksi kesalahannya oleh para filsuf Hikmah (teosofi transenden). Suatu kajian yang –menurutku niscaya– akan menuntun kepada pengatahuan (pengenalan) tentang TUHAN.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s