Berhutang Untuk Ritual Ibadah ?

Seorang rekan kerja saya memiliki ‘kerja sampingan’ sebagai seorang pembimbing umroh. Beliau bekerja sama dengan sebuah tour & travel umroh yang baru saja terbentuk, sekaligus merekrut orang-orang yang tertarik untuk berumroh, melalui dana talangan. Ini tentu sebuah bisnis yang sangat memikat. Dana talangan umroh sedang happening dan tren di masyarakat. Saya sendiri sudah ditawarkan berkali-kali untuk mendapatkan fasilitas dana talangan umroh tersebut , namun dengan sebuah alasan, saya tidak berminat untuk menerimanya.

Alasan saya sebenarnya sederhana saja: saya tidak mau melakukan ibadah semahal itu dengan berhutang. Saya tidak bermaksud mengecilkan arti dari ibadah haji/umroh, namun saya merasa jika bukan untuk berbisnis, berhutang itu tetap merupakan hal yang memberatkan. Hutang menjadi beban buat saya. Di dalam Islam sendiri memang ada pengaturan tentang utang-piutang, namun bukankah Allah tidak akan memberatkan sesuatu jika pun itu dalam rangka menyembah-Nya?

Alasan kedua, rukun islam kelima menyebutkan tentang ‘melakukan haji, bagi yang mampu’ (ataupun umroh). Saya garisbawahi di sini : MAMPU. Sangat jelas. Bukan MAMPU (BERHUTANG). Saya mendefinisikan mampu di sini sebagai kemampuan fisik dan finansial, dalam artian bisa membayar biaya perjalanan untuk menempuh jarak yang sangat jauh secara tunai, dengan uang kita sendiri. Bukan dengan uang pinjaman. Karena, bagaimana jika seandainya saya meninggal sebelum menyelesaikan utang itu? Saya tidak ingin mewariskan hutang kepada yang masih hidup. Saya sudah terlalu banyak merepotkan orang saat hidup, masa mati juga masih juga meninggalkan hutang? Ini sangat membebani saya. Hidup menjadi tidak tenang karena hutang.

Jadi, saya memahami MAMPU di sini bukan hanya mampu berangkat ke tanah suci, tapi mampu membayar beban biayanya secara tunai dan mampu menafkahi keluarga yang ditinggalkan.

Alasan ketiga, saya merasa sekarang ini tren melakukan ibadah umroh dengan dana talangan sudah menjadi sangat komersil. Melihat iklannya saja membuat saya berpikir bahwa ini tertanya bukan hanya tentang ritual ibadah, melainkan wisata timur tengah. Memang, umroh itu sendiri hukumnya sunnah dan konon bisa menjadi sarana wisata rohani.

Lihat saja gambar baliho di atas, umroh pada waktu liburan termasuk di dalamnya paket mengunjungi Turki, Al-Aqsa dan lain sebagainya. Padahal menurut cerita kawan saya yang pernah melaksanakan umroh, ibadah inti umroh itu sendiri sebenarnya bisa dilakukan dalam 1 hari saja dalam beberapa jam. Sedangkan paket-paket ibadah yang disediakan biasanya sekitar 9-12 hari. Sisanya digunakan untuk apa selain jalan-jalan di kota Timur Tengah? Sedangkan ritual haji bisa diselesaikan dalam waktu 5 hari (adanya pembengkakan waktu selama 14 sampai 40 hari dikarenakan waktu menunggu pemberangkatan atau kepulangan).

Kalaupun saya berniat untuk berwisata ke luar negeri, tentunya akan saya rencanakan sebagai wisata saja dengan biaya sendiri yang memang sudah persiapkan (misal dengan menabung).

Oya, menurut sebuah sumber yang saya dapat dari  sini , dana talangan dipastikan merupakan sebuah hutang, dan secara hukum tidak disarankan karena pada saat itu sebenarnya ia belum mampu. Di sumber itu memang disebutkan juga bahwa demi adab dan ketaqwaan boleh saja mengambil dana talangan asal dipastikan ada jaminan untuk bisa membayar hutangnya di masa depan (misal dari gaji). Malah membingungkan ya, tapi seperti yang sudah saya katakan di atas, tidak pernah ada jaminan bahwa kita akan hidup lama, jadi tidak usah memaksakan diri berhutang.

Saya tentu tetap meyakini bahwa ibadah haji (yang menjadi rukun islam) harus tetap saya lakukan jika saya telah mampu. Dan saya juga sudah berniat untuk melakukannya suatu hari nanti, jika saya masih hidup, sehat, dan memiliki cukup uang. Jadi, sekarang menabung saja dulu🙂

3 thoughts on “Berhutang Untuk Ritual Ibadah ?

  1. It’s the best time to make a few plans for the longer term and
    it is time to be happy. I’ve read this post and if I may
    just I want to counsel you some interesting
    issues or tips. Maybe you can write next articles relating to this article.
    I wish to learn even more things about it!

    Like

  2. Sependapat.. hemat kami iblis tidak henti2nya menghembus2kan bahkan dalam ibadah sekalipun dengan nafsu.. keinginan untuk segera apalagi diketahui orang banyak.

    Bagi kami yang awam ini dangat sulit untuk meluruskan niat jika cara2 yang dilakukan adalah dengan memaksakan diri apalagi bagi yang sudah berkeluarga.

    Apalah artinya ‘egois’ beribadah jika yang ditinggalkan atau kelak menghadapi masalah lain sekembalinya ke tanah air.

    Meski begitu mari kita doakan agar saudara2 kita yang menjalankan peroleh pahala serta hikmah dalam beribadah serta mendapat rezeki lebih untuk melunasinya. Aamiin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s