Semacam Catatan Pra Nikah Untuk Sang Teman (Perempuan) 2

Bagian 2, Err, Malam Pertama?

Okai, sudah cukup soal stres mengenai persiapan materi pernikahannya. Saya sendiri hanya bisa mendengarkan apapun yang keluar dari sang teman, karena saya tahu beliau hanya butuh didengar atas segala yang berjubel di kepalanya. Seperti ledakan mendadak bom atom. Saya mengatakan padanya, ‘jadi apa yang bisa saya bantu?’. Beliau seperti kebingungan. Akhirnya saya juga bingung harus mengatakan apalagi. Karena membantu dengan uang jelas saya belum mampu.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu, dan ini mungkin bisa menjadi pembicaraan menarik untuk membuat dia lupa sejenak pada level depresinya. Walaupun saya sama sekali tidak punya pengalaman apapun dalam hal rumah tangga atau pernikahan (dan entah kenapa saya selalu menjadi konsultan dadakan persoalan hubungan para kekasih, kegalauan persiapan pernikahan, dan bahkan urusan rumah tangga), dan saya benar-benar dalam posisi soktau saat bertanya pada beliau ‘sudah mempersiapkan malam pertama?’. Pertanyaan ini membuat beliau tertawa terbahak-bahak, terdiam sebentar, lalu menjawab malu-malu ‘belum’.

Nah, ini dia. Salah satu hal yang sering terlupakan.

Saya menceritakan kepadanya tentang pengalaman seorang teman kami yang sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Saat mempersiapkan pernikahannya, teman kami itu tampak lebih tenang, bahkan beliau bercerita bahwa salah satu hal penting yang harus disiapkan juga adalah malam pertama. Mengapa ini menjadi sangat penting? Karena apa yang terjadi di malam pertama itu akan berpengaruh pada hubungan seksual mereka selanjutnya, begitu katanya.  Namun agaknya jarang sekali perempuan yang mau terbuka terhadap persoalan ini. Beliau bahkan secara terbuka membicarakan soal malam pertama bersama calon suaminya. Misal, kapan mereka akan bermalam pertama (misal direncanakan seminggu setelah resepsi), tempatnya dimana, dan kondisi yang diinginkan bersama. Mereka ingin memastikan bahwa kegiatan tersebut harus mereka lakukan di saat tidak cape oleh proses resepsi dengan tetek bengeknya, supaya bisa dinikmati bersama pula. Saya benar-benar takjub kepada beliau.

Bagi yang belum pernah bermalam pertama, persoalan ini menjadi lebih penting lagi. Tunggu, bukankah Nabi dan islam itu sendiri sudah memberikan panduan dalam hal hubungan seksual? Dan konon katanya hal seperti itu akan terjadi dengan sendirinya berdasarkan insting walau tanpa belajar terlebih dahulu? Hasrat melakukan hubungan seksual mungkin memang sudah insting alami, tapi tatacaranya bukankah tidak datang begitu saja?

Okai. Memang dalam islam sudah ada tuntunan teoritis tentang hubungan seksual, misal berdoa terlebih dahulu, shalat sunat dulu, dan lain sebagainya. Buku-buku sudah sangat banyak membahasnya. Tapi menurut sok tau saya, hanya sebatas itu sajalah yang dibaca para calon pengantin. Saya sendiri punya beberapa buku tentang pernikahan, tapi itu tidak pernah mencakup persoalan teknis berhubungan intim yang tepat, apalagi di malam pertama bagi para perempuan yang masih virgin. Karenanya, perlu juga diketahui bagaimana ‘tata cara’nya yang benar, tidak hanya dilihat sebagai bagian-bagian yang bisa mendapatkan pahala doang. Tapi juga, nyaman dan siap gak kita melakukannya? Siap secara fisik dan mental (psikologis).

Memang, apa pentingnya sih? Yang penting kan bisa berbakti pada suami dan sama-sama mendapatkan pahala sebagai bagian dari ibadah?

Bagi saya sih tidak melulu soal ibadah dan pahala. Menurut penjelasan lebay seorang teman yang kuliah di jurusan Farmasi dan sering mengurusi soal-soal kesehatan, malam pertama bagi perempuan virgin itu amatlah sakit. Ya, intinya pasti ada rasa sakit dan tidak nyaman. Nah, bagaimana caranya supaya perempuan tidak terlalu fokus pada sakitnya, dan bahkan tidak terasa sakit? Makanya, kata teman tersebut, ada teknik-tekniknya yang harus diketahui oleh kedua belah pihak. Misal, ada foreplay terlebih dahulu, dan bla bla lainnya. Dengan demikian, pihak perempuan akan lebih fokus pada rasa nikmat yang akan diterimanya, jadi tidak terasa sakit lagi. Dan, katanya harus berani terbuka kepada suami tentang persoalan seksual, misal jika sedang ‘ingin’ atau memang tidak, dan hal-hal seperti apa yang akan membuat dirinya senang juga. Tidak hanya bentuk pelayanan saja kepada sang suami, menerima apapun begitu saja.

Saya pun bilang kepada teman yang akan menikah itu, untuk mengisi waktu menunggu hari H pernikahannya dengan mencari informasi yang tepat tentang malam pertama beserta teknik-teknisnya. Bukan cuma tentang doa-doa, sholat sunat dan hal-hal pengundang pahala. Saya rasa informasi sekarang sudah banyak dan mudah di dapat ‘kan ya?

Walau bagaimana pun, ini hanya sok tau-nya saya saja karena sebenarnya tidak pernah mengalami apapun yang saya jelaskan tersebut. Apa yang saya katakan bisa saja tidak tepat. Seperti juga persoalan-persoalan rumah tangga yang seringkali saya pikirkan dari berbagai cerita teman. Kadang saya bingung menjawabnya, karena saya tidak tahu. Jadi saya lebih sering menjadi pendengar saja, lalu mengatakan bahwa saya pun tidak tahu karena belum pernah mengalaminya. Tapi, senang sekali jika bisa banyak belajar, belajar bersama, dari pembicaraan-pembicaraan seperti itu.

Barakallaah. Selamat menikah, semoga selamat sampai tujuan🙂

One thought on “Semacam Catatan Pra Nikah Untuk Sang Teman (Perempuan) 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s