Tentang Dunia Maya dan Jejaring Sosial

Sudah lama sekali saya merasa bahwa sedikit demi sedikit kehidupan saya telah berpindah ke dunia maya (cyberworld). Apalagi setelah saya mengenal dan berpartisipasi dalam beberapa forum, blog, kemudian jejaring sosial.

Sebenarnya bisa dibilang saya sangat terlambat mengenal internet dibandingkan yang lain. Bahkan saat kuliah pun –dimana saat ini internet sudah menjadi salah satu kebutuhan dalam pendidikan, saya tidak friendly dengan internet. Saya belum paham apa asiknya, karena tiap ke warnet saya hanya mencari data-data yang dibutuhkan untuk bahan laporan kuliah. Rasanya tidak asik sekali internet itu. Biasanya saya hanya menghabiskan waktu kurang dari setengah jam, membosan setengah mati, akhirnya malas. Makanya, waktu itu saya heran kenapa kebanyakan kawan-kawan saya selalu kekurangan waktu di internet, bahkan 2 jam pun kelihatannya tidak pernah cukup.

Lalu setelah lulus kuliah, saat saya mulai sering diajak ke warnet (yang letaknya memang strategis sekali, menyatu dengan rumah kosan) oleh seorang kawan dan di kenalkan pada fasilitas chating yahoo massanger, saya mulai mencandu. Terjadinya begitu cepat, dan tahu-tahu saya sudah merasa ada yang kurang jika tidak online sehari pun. Setelah itu, saya mengenal forum, blog dan tentu saja, jejaring sosial. Forum, blog sudah tidak mengikat saya lagi, namun ternyata jejaring sosial telah berakar dengan kuat tanpa saya duga. Apa jadinya jika saya tidak membuka facebook sehari saja? Rasanya ada yang hilang.

Ini gawat.

Saya memikirkan kenapa orang-orang senang berlama-lama di dunia maya. Saya membandingkannya dengan saat dimana saya tidak suka online. Dan ya, jawabannya tentu saja adalah karena ada berbagai hal di dalam dunia maya yang telah mengikat saya secara emosi. Sebenarnya, ini hal yang wajar jika terjadi dalam porsi yang biasa saja terutama untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang bermanfaat buat diri kita dan (kerennya lagi) buat sekeliling kita.

Mempergunakan internet sesuai kebutuhan, itu tentu bagus bukan? Karena dari sana juga banyak hal positif yang bisa diambil. Namun, jika sudah berlebihan dan menyita waktu hidup kita secara keseluruhan, rasanya saya perlu mengevaluasi lagi apakah saya harus tetap mengikuti candu tersebut atau menguranginya pelan-pelan (karena kalau dihilangkan secara ekstrim, sulit juga sih).  Terutama berkaitan dengan jejaring sosial.

Berbeda dengan forum, blog atau fasilitas bersosialisasi lainya di internet (baca: bertemu dengan masyarakat maya dan teman-teman maya sambil berbagi banyak hal), jejaring sosial menyajikan percakapan realtime dengan notifikasi. Kita bisa cuap sana-sini dengan tanggapan yang langsung sehingga lebih menyenangkan dan seru.

Dan, biar terlihat keren dan gahool, saya juga membuat akun di beberapa social network yang terkenal (facebook, twitter, plurk, google plus). Jumlah teman yang bahkan tidak pernah bertemu pun makin bertambah. Tapi saya selalu mengusahakan agar tidak cuma memperbanyak jumlah, namun saya mengenali mereka paling tidak dari blog atau forum terlebih dahulu. Biasanya dari kesamaan interest, akan bermunculan teman-teman baru sebagai kawan diskusi. Selebihnya, tentu saja berisi teman-teman yang saya kenal di dunia nyata.

Saya tidak pernah membedakan mereka hanya karena belum pernah bertemu dan kenal di dunia maya saja. Walaupun saya memang mengelompokkan mereka ke dalam perlakuan-perlakuan tertentu (ada yang sering berinteraksi dan ada yang tidak) –biasanya bahkan ada kawan SMA atau kuliah yang tidak saya kenal, jadi saya tidak bertegur sapa dengannya. Namun sebaliknya, ada kawan dunia maya yang sering berdiskusi padahal belum pernah bertemu sama sekali.

Salah satu role penting dalam kehidupan dunia maya yang sering saya lupakan adalah, bahwa saya sering membawa sisi emosi dan sensitivitas saya yang berlebihan ke dalamnya. Jika saya sudah merasa akrab dengan seseorang karena seringnya diskusi, walaupun saya belum pernah bertemu dengannya, saya tiba-tiba menjadi sangat sensitif kepadanya. Padahal banyak orang mengatakan, jangan terlalu di pikirkan karena belum tentu dia juga memikirkan hal itu. Ini dunia maya.

Keterikatan saya dengannya, harusnya, hanya sebatas diskusi yang akan menguap tak berbekas sesudah semuanya selesai. Semua selesai, dan tidak perlulah kita terlalu memikirkannya sampai mempengaruhi hidup kita sendiri, misalnya, jika tiba-tiba dia menghilang atau berubah sikap. Begitukah? Tapi kadang-kadang saya terlalu memikirkan hal itu dengan sangat mendalam, sehingga jadi sedih dan over sentimentil. Seolah-olah tidak ada hal lain yang saya urusi selain hal tersebut. Padahal kenal baik pun tidak (atau mungkin saya seringnya sok telah mengenal, padahal sebenarnya tidak).

Ya, yang terbaik adalah berlaku sewajarnya saja memang. Ambil sebanyak-banyaknya manfaat, dan jangan libatkan emosi yang terlalu dalam. Kegiatan-kegiatan ini harusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan, ya kan?

8 thoughts on “Tentang Dunia Maya dan Jejaring Sosial

  1. Wah, kalau saya justru gampang naksir di dunia nyata. Kalau ketemu yang cantiknya alhamdulillahiminzalik bawaannya kangen dan ingin jadi lebih dekat. Untunglah saya nggak pinter ngomong, apalagi merayu. Jadi tidak banyak orang terganggu :))

    Like

    • Saya sih ga naksir-naksiran sekarang mah. Cuma dalam pergaulan pertemanan aja, kadang terlalu mikirin hal yang sebenarnya ga penting-penting amat. over sentimentil katanya sih.

      Wah, ga pinter aja banyak yg nempel. apalagi klo mas guh pinter ngomong atau merayu, pasti lebih banyak yang nempel di mana-mana :p

      Like

    • Idem. Hehe. Meski ada sejumlah rekan jadian karena dunia maya, tapi nggak pernah tertarik untuk begitu. Malas. Karakter seseorang juga tetap saja akan lebih bisa dinilai di luar internet daripada di internet, bagaimana sikap dan sifatnya.

      Like

      • I see:mrgreen:

        Untuk hubungan-hubungan seperti itu, mungkin memang begitulah. Tapi untuk pertemanan biasa (lintas gender, agama dan sejenisnya), bagi saya sih tidak ada bedanya. Sampai sekarang saya tetap berkawan baik dengan teman-teman yang awalnya bertemu di internet ini walaupun belum pernah bertemu di luar internet. Dan beberapanya memang lebih erat lagi setelah bertemu langsung. Melihat orang secara langsung dari gesture dan raut muka memang lebih bisa dinilai secara tulus ya…

        Like

  2. Pingback: Kopdar Minggu di Kedai Mangga « Hidup Itu Harus Dinikmati…

  3. salam kenal mbak. iseng2 buka dr tautan blognya si febri (asop). hihi..saya cuma mau menambah daftar mrg yg dikenal lewat dunia maya-nya mbak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s