S a r i t e m

Aku melihatnya pertama kali pada akhir bulan Oktober, pertengahan musim hujan yang suram. Namanya Nina, dan aku mencintainya. Dia mengenakan gaun pendek biru muda, turun dari taksi dan masuk ke sebuah bangunan bertingkat dua di jalan itu. Ini adalah kawasan dimana kau yang mengaku diri sebagai manusia baik -baik akan mengutuknya dengan keji. Pada siang hari, kau tidak akan melihat apapun selain kehidupan biasa yang sepi di pinggiran kota. Tapi saat malam tiba, tempat ini menjadi Las Vegas. Tapi Nina tidak seperti kebanyakan wanita -wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil bagus yang lewat. Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu.

Aku selalu mengamati tiap laki -laki yang selalu membawa Nina dari kejauhan. Bagiku, Nina menjadi semacam penghiburan saat aku penat kerja dan aku melongok keluar jendela untuk melihatnya. Dengan melihatnya, aku mendapat kebahagiaan yang menggerakkan semangatku.  Aku ingin juga menemuinya dan berbicara dengannya. Kesempatan itu datang saat sebelum tengah malam Nina keluar dari gedung sendirian. Dia menundukkan wajahnya sambil memeluk jaket kulitnya. Dia sepertinya buru -buru, tapi aku menghadangnya di trotoar saat dia hendak menyetop taksi.

“Kamu punya uang berapa?”tanya Nina. Aku memang tidak membawa mobil. Aku hanya punya sepeda motor.

” Tidak banyak, tapi kita bisa mengobrol saja, aku…”

“Kalau kamu tak punya uang, tolong jangan buang -buang waktuku, ok? Mengobrol saja? Kamu pikir aku tukang ngobrol ?”dia tampak begitu cantik. Aku tak akan menyesal seumur hidupku jika harus membuang seluruh uangku untuk bisa melihat wajahnya yang cantik itu. Dia semakin cantik saat menolakku seperti itu. Aku merasa harus mengasihani diriku sendiri yang miskin. Tapi malam itu tak akan kulupakan, aku baru pertama kali melihatnya dari jarak dekat seperti itu.

Dia meninggalkanku saat hujan rintik -rintik mulai turun. Dia naik taksi dengan cepat, lalu pergi.

Nina memiliki sepasang bola mata bercahaya bak kristal yang menakjubkan. Aku suka melihat dia tersenyum dan tertawa -tawa, dan akan ikut sedih jika melihat dia berwajah muram saat keluar dari gedung tempatnya bekerja. Aku ingin memastikan dia baik -baik saja. Tiap dia hendak pulang menjelang subuh dari gedung itu, aku mengikuti taksi-nya dari belakang. Tapi kadang -kadang aku kehilangan jejaknya saat dibelokan atau terkena lampu merah.

Suatu malam aku tertidur di meja kerjaku. Dan entah pukul berapa, aku mendengar suara sirine dan suara -suara gaduh di luar. Aku melihat dari jendela. Ya Tuhan, polisi ! Aku berlari keluar dan melihat orang -orang berhamburan dari dalam gedung tempat Nina bekerja. Polisi merazia tempat itu, dan menangkap semua pekerja-nya. Beberapa orang wanita, atau…apakah dia pria, entahlah, dengan dandanan minim di seret -seret dimasukkan paksa ke dalam mobil. Sebagian lagi berjejer di depan mobil, dan masuk satu -persatu ke dalamnya.

Bagaimana nasib Nina -ku? Aku mencemaskan dia, dan berharap dia sedang berada di luar malam itu. Aku berusaha lebih mendekat lagi agar bisa melihat para wanita itu dengan jelas. Tapi aku tak melihat Nina.

Seminggu setelah itu, aku tidak lagi melihat dia. Apakah dia ikut tertangkap dan mereka melakukan sesuatu yang buruk padanya? Tapi, di suatu minggu siang yang panas, saat sedang sibuk melayani pembeli, sekilas aku melihat seorang wanita bertubuh ramping melintas di depan kedaiku. Aku mengenal cara jalannya. Itu Nina. Itu pasti dia! Aku memanggil dia, dan dia menoleh ke arahku. Ternyata memang dia Nina, dan dia tampak sangat baik -baik saja. Baru kali itu aku berjumpa denganya di bawah sinar matahari bulan Nopember yang menyengat.

Nina, berdiri di trotoar dengan sweter krem-nya sambil tersenyum kecil padaku. Tiba -tiba aku membayangkan dia menjadi istriku dan kami hidup bahagia di kota ini. Tidak, aku akan membawanya ke kota lain, ke kota kelahiranku. Di sini mungkin terlalu banyak hal yang akan membuat dia sedih, jadi dia pasti lebih senang jika berada jauh dari sini. Aku tak peduli dengan keadaannya sekarang -bahwa dia sudah tidur dengan tiap laki -laki yang dia temui. Dia punya alasan melakukan itu, tapi  dia tetap seorang wanita yang mengagumkan. Dia tentu bisa berhenti melakukan ini, dan aku bisa menjamin semua kekhawatiran keuangannya. Aku akan mengumpulkan banyak uang, aku akan menolongnya keluar dari pekerjaan ini, dan aku yakin dia akan lebih bahagia jika tidak lagi menjadi seorang wanita panggilan kan?

“Sok tahu”jawab Nina saat beberapa hari kemudian dia datang ke kedaiku untuk makan siang. Dia bilang kalau dia butuh beberapa minggu untuk tidak lagi datang ke gedung itu. Saat semuanya sudah beres, dia akan mencari tempat kerja baru. Dia ikut tertangkap malam itu,tapi dia tak pernah mau bercerita apa yang terjadi dan bagaimana dia bisa keluar dari kantor polisi.

“Berhentilah melakukan pekerjaan itu, selalu ada pilihan lain yang lebih baik”kataku.

“Semua orang berkata begitu”sahut Nina dengan tenang. Dia tersenyum, “kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Aku melakukan ini karena ini pilihanku. Apakah kamu pikir semua itu bisa dilakukan dengan mudah seperti kamu sudah bosan bekerja di kedai ini, lalu kamu tinggal mengajukan surat pengunduran diri dan pergi begitu saja? Jangan memberikan hal -hal yang utopia kepadaku”

“Tapi kamu bisa mengusahakannya”

“Apakah harus percaya pada seorang laki -laki yang datang padaku lalu bilang ‘aku mencintaimu, menikahlah denganku, dan kita akan hidup bahagia’? aku tidak percaya. Aku tidak percaya cinta, karena aku tidak tahu benda macam apa itu. Laki -laki akan mengikatku dengan kuat dalam kepatuhan dan ketundukan, untuk apa? Untuk memuaskan penilaian masyarakat bahwa dia sudah bisa melakukan tugas -tugas manusiamu -menikah punya anak, menyimpan aku dalam gelas kaca dan memamerkannya pada masyarakat dan keluarga?”

“Lagipula kamu miskin sekali. Dengan apa kita akan hidup? Cinta? Apa kita bisa makan dengan benda itu? Kita akan butuh rumah, kita akan butuh perabotan, kita akan butuh uang untuk pendidikan anak -anak. Kita butuh uang untuk merawat diri dan kesehatan kita. Apa itu cukup dengan hanya bilang ‘aku mencintaimu’ ? Apa bisa bertahan dengan mempertahankan romantisme setiap saat dengan kata -kata murahan dari cinta dan terus memimpikan dunia utopia dalam dongeng ‘bahagia selama -lamanya’? ”

“Apa itu bahagia? Kamu tidak tahu apa yang membuatku bahagia. Kamu tidak tahu apa yang kurasakan dengan penghakiman masyarakat. Masyarakat! Jangan konyol. Kita tak bisa memiliki manusia manapun di dunia ini. Kita tak akan pernah bisa memahami orang lain dengan baik, kecuali kamu hidup dengan caranya, berpikir dengan caranya, dan menghirup udara dengan cara dia melakukannya**”

“Tapi aku bahagia saat melihatmu tersenyum, Nina”kataku.

“Terima kasih. Apa kamu juga akan bahagia dengan apa yang kupilih dan kupikirkan?”

Sebenarnya aku tidak terlalu bahagia dengan pekerjaannya. Aku tak bisa bahagia dengan melihatnya bersama para laki -laki yang berganti -ganti. Menyerahkan tubuhnya begitu saja. Bagaimana kalau dia sakit ?

“Tidak kan?”Nina tertawa. “Itu tidak apa -apa, kok. Lagipula aku melakukannya dengan aman”dia terbahak -bahak.

Aku bekerja keras siang dan malam pada beberapa bulan ini. Aku mengumpulkan uang yang lumayan. Lalu aku membeli sebuah sepatu  mungil untuk Nina. Sepatu yang sengaja kubeli dari sebuah butik paling terkenal dengan harga selangit  buatku. Sepatu itu kuberikan padanya,dan dia berkata “aku akan menerimanya dengan senang hati, tapi tolong jangan ikuti aku lagi”.

Aku tak bisa berkata apa -apa. Tapi aku khawatir jika tidak melihatnya lagi. Pada suatu malam yang cerah aku melihat dia masuk ke sebuah nite klab dan aku menunggunya keluar di pinggir jalan. Dingin sekali, tapi aku tidak peduli. Dan, tiba -tiba saja, aku mendengar suara ribut -ribut dari seberang jalan. Aku melihat beberapa pengendara motor berhelm hitam sedang berputar -putar di sekitar trotoar. Aku ingat peringatan adikku di rumah: geng motor yang meresahkan masyarakat. Sepertinya ini sudah tengah malam. Tapi aku terlambat.

Aku ingat, menjelang akhir tahun, aku semakin menua. Dan sepertinya Tuhan tidak menginginkanku hidup lebih lama dari itu. Saat aku hendak berlari, motor -motor itu mengejarku. Geng motor bisa mengejar siapa saja tanpa alasan, dan aku tahu aku bisa saja mati dengan mudah. Aku tidak ingat apa -apa lagi setelahnya, hanya rasa sakit dan perutku yang berdarah -darah.

Dunia ini, oh Tuhan, sudah melingkupiku dengan banyak kebahagiaan dan penderitaan. Samar -samar sebelum kesadaranku hilang, aku seperti melihat  bayangan Nina di hadapanku. Oh Nina, aku tetap mencintainya sampai saat itu. Dia berkata dengan dingin “sudah kubilang jangan mengikutiku lagi. Dasar bodoh. Tapi sepatunya sangat bagus dan mewah, terima kasih ya”.

****

Keesokan pagi, koral lokal kota itu memuat berita pada bagian bawah headline-nya : seorang laki -laki muda ditemukan tewas dipinggir jalan karena dikeroyok geng motor. [end]

 

note:

[**terinspirasi dari kalimat Harper Lee dalam novel To Kill A Mockingbird]

Gambar nyomot seenaknya entah darimana, lupa. Cerita ini pernah diposting di Politikana, dan sudah dihapus oleh penulis.

6 thoughts on “S a r i t e m

  1. My. God. Sudah lama saya tidak membaca sebuah cerpen dari awal sampai akhir sepenuhnya tuntas tas tas. Benar-benar kejutan… cerpen yang luar biasa. Kuat dan dalam. Top Jempol!!😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s