Pedestrian

www. pedestriansigns.com

Saya adalah seorang pedestrian yang bahagia (padahal bohong😀 ). Tetapi benar, saya lebih suka jalan kaki (walaupun tentu bukan semacam jalan kaki Long March 2 malam 3 hari ke pantai Pangandaran dan disiksa senior sampai telapak kaki benjol -benjol dan tak bisa bangun sesudah duduk). Ya, walaupun polusi udara di jalan tidak membahagiakan, tapi saya menggunakan kesempatan itu untuk sekalian berolahraga (karena saya sangat jarang melakukannya).

Sejak memasuki musim kerja sesudah kuliah, saya selalu berjalan kaki ke tempat kerja. Karena saya memilih tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja tersebut, saya mulai membiasakan diri berjalan pulang -pergi. Dan sebenarnya itu adalah hal yang menyenangkan. Saya sering sengaja berangkat lebih pagi, kurang dari jam tujuh untuk menghindari polusi udara dari kendaraan di jalan. Dan agar bisa memilih jalan memutar, karena rute-nya melewati jalan yang rindang dan sawah -sawah sempit di pinggir kota. Melihat kota yang masih sejuk dan matahari pagi yang mulai menghangat adalah hal mewah yang tak bisa dinikmati tiap hari. Saya merasa bebas untuk berdiri sejenak melihat itu semua, memfoto langit dan sawah (dan juga memfoto diri sendiri, dasar narsis amit -amit :D).

Tapi di sini, agak sulit juga menjadi pedestrian, bagi saya.

Pertama, banyak ruas jalan yang tidak memfasilitasi para pedestrian. Kalaupun ada trotoar, kalau tidak rusak parah dan  bolong -bolong, paling tidak ada beberapa kemungkinan : habis dipakai para pedagang kaki lima, dipakai parkir angkot, atau bahkan dipakai oleh pengendara motor yang tak kebagian jalan dan ngotot ingin mendahului sehingga mereka menggunakan trotoar sebagai jalan. Dan ini terjadi hampir di seluruh jalan -jalan non-protokol. Sudahlah jalannya sempit sekali, trotoar pun diembat juga. Tapi memang kebanyakan karena trotoar yang sudah hancur lebur. Bahkan ada yang tanpa trotoar. Kalau sudah begini, memang lebih enak berjalan di jalanan kecil yang sepi semacam di desa -desa.

Kedua, salah satu hal yang sangat mengesalkan adalah jika musim hujan dan kita sedang berjalan di trotoar dan di samping kita ada jalan yang bolong penuh air, tiba -tiba ada kendaraan lewat dengan semena -mena sehingga air hujan itu menyemproti baju kita. Atau keserempet angkot yang pintunya terlalu penuh oleh orang yang tas ranselnya segede gaban. Padahal kita sudah memilih jalan paling pinggir.

Ketiga, masalah sebrang -menyebrang😀

Walaupun saya sangat hobi berjalan kaki dan sudah cukup lama juga tinggal di kota yang cukup besar, tapi salah satu hal yang saya takuti adalah menyebrang. Makanya, setiap berada di jalan raya, saya berusaha untuk menggunakan semua fasilitas yang dirasa lebih aman. Tetapi tiap hendak menyebrang, terutama di jalan besar yang sangat ramai, saya selalu deg -degan. Saya selalu memilih zebra cross atau jembatan penyebrangan walau harus memutar atau membutuhkan waktu yang lebih lama. Teman -teman saya biasanya menyeret saya untuk menyeberang sembarangan, toh kadang polisi pun membiarkan kami, tapi saya selalu merasa tidak nyaman. Karena saya merasa, dengan menyebrang sembarangan akan sangat mengganggu kendaraan di jalan raya. Mereka bisa marah atau terjadi kecelakaan. Saya agak grogi juga kalau melihat orang yang marah -marah.

Pernah suatu waktu saya hendak menyebrang sendirian di jalan utama yang sangat ramai dan padat. Saya sudah bersiap di depan zebra cross. Tapi tiba -tiba ada angkot berhenti di zebra cros -tepat di depan saya, sehingga saya jadi tak bisa menyebrang karena terhalangi. Lalu ada polisi yang menghampiri angkot itu dan meledaklah amarahnya. “woi, jangan berhenti disitu! Ada orang mau nyebrang jadi terhalangi!” dan blablabla lainnya, sambil polisi itu menepuk -nepuk bagian belakang angkot. Sang sopir pun ngibrit pergi. Lalu polisi itu mengantar saya menyebrang melalui zebra cross tersebut😀

Dan yang dahsyat itu adalah jalan Soekarno Hatta, kalau di Bandung. Menurut saya ini adalah jalan yang tidak berperi kemanusiaan (halah). Susah sekali menyebrang. Modelnya memang by pass, satu arah. Walau sudah ada zebra cross, pengemudi tak pernah memberikan kita kesempatan untuk menyebrang. Kecuali macet total. Parahnya lagi, tidak ada jembatan penyebrangan. Jembatan penyebrangan yang saya tahu hanya ada di dekat perumahan metro (saya lupa tepatnya).

Waktu saya tinggal di sana sebentar, tiap pagi saya selalu deg -degan karena harus menyebrang. Paling sebentar saya harus menunggu 15 menit untuk mendapatkan kesempatan menyebrang dengan aman. Kalau beruntung, saya ikut menyeberang dengan rombongan orang -orang atau orang yang lebih berani menyebrang, saya mengekor di belakangnya😀. Dan pernah ada bapak -bapak yang menceritakan hal yang mengerikan saat saya hendak menyebrang “hati -hati Jang, kapungkur oge rerencangan bapak aya nu nyebrang didieu, kasamber motor dugi ka parotong sampean-nana (translate-nya kurang lebih begini : hati -hati Jang, dulu juga temen bapak ada yang nyebrang di sini, kesamber motor sampai patah -patah semua kakinya). Beugh.

Tips menyebrang sebenarnya adalah nyali saja, dan tentu memilih waktu yang tepat. Saya selalu melambaikan tangan, dan kendaraan akan melambat jika kita menyebrang di tempat yang tidak seharusnya. Jangan ragu -ragu. Itu kata teman saya yang ahli menyebrang😀.

Yah, menjadi pedestrian itu asik. Saya jadi bisa menikmati banyak hal di jalan. Mumpung saya masih bisa menjadi pedestrian dengan bebas, karena mungkin ada saatnya nanti, sesuai kondisi yang berubah, saya tidak mungkin lagi berjalan kaki seperti sekarang. Ah, andaikan kita punya trotoar luas dan keren seperti di luar negeri, di eropa misalnya, berjalan kaki menjadi begitu mengasyikan sambil memandang gedung -gedung kuno nan eksotis.

[Merupakan re-post dari sebuah situs komunitas politik yang sudah saya hapus🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s