Jackpot Daging Sapi

Sejak kecil saya jarang makan daging, terutama daging merah. Keluarga saya tidak membudayakan mengkonsumsi daging. Kalau pun ada menu daging, paling daging ayam dengan kuantitas yang sangat sedikit. Kami terbiasa memilih daun –daunan daripada daging. Maklum di kampung. Daging adalah menu yang sulit habisnya dan mahal, tidak terjangkau, jadi jarang ada di rumah. Setiap hari raya qur’ban dan keluarga kami kebagian jatah daging –terutama kambing, ibu saya hanya mengolah daging tersebut kemudian membagikannya lagi kepada tetangga. Kami sekeluarga tidak suka daging kambing.

Lalu, tahun kemarin –tepatnya saya lupa, seorang teman kerja sengaja membawakan saya sepotong rendang daging sapi berukuran kecil. Karena dia sudah memasaknya sendiri dan membawakannya untuk saya, saya pun membawanya pulang untuk dimakan di kosan saja. Waktu itu, saya memang jarang sekali makan daging sapi, jadi saya lumayan harus menunggu lama munculnya mood makan. Akhirnya saya memanaskan sepotong daging kecil tersebut dan baru sempat memakannya keesokan paginya.

Saya makan seperti biasa pagi itu, hari Sabtu, di kantor.

Pada mulanya tidak terjadi apa –apa. Tapi beberapa menit setelah makan dan duduk manis di depan komputer untuk mulai bekerja, tiba –tiba saya merasa ada sesuatu yang menyeruak di dalam perut. Dengan cepat lambung saya terasa penuh, mendesak ke atas. Saya mulai gelisah, keringat membanjir di seluruh tubuh. Mulut saya mulai terasa sangat asam. Saya mengulum permen mint dengan harapan perasaan –perasaan itu akan segera hilang. Saya merasa mual.

Permen tidak membantu. Mual itu terasa makin menjadi –jadi. Saya terus berpikir, apakah saya telah salah makan, ataukah maag saya kambuh dengan tiba –tiba dengan kondisi tubuh yang kurang fit, ataukah jangan –jangan karena saya makan daging sapi tadi ? Atau saya keracunan makanan ?

Saya tidak kuat duduk. Saya mengungsi ke belakang, mendekati toilet. Karena saya punya firasat sesuatu akan mendesak keluar dari perut, tak tertahankan lagi. Dan ternyata benar. Saya jackpot. Saya berharap semua akan membaik setelah itu. Saya menghirup minyak cajuput dan menenggak sirup anti masuk angin pelan –pelan. Tapi anehnya, perut saya tidak membaik. Tetap sebah. Lambung masih terasa penuh, dan rasanya isi perut saya terus naik berada di tenggorokan.

Teman –teman saya sudah mulai khawatir. “Ga apa –apa”kata saya. Selang setengah jam, saya jackpot lagi. Kali ini saya langsung duduk lemas di kursi. Oh, apakah sekarang semuanya sudah berakhir ? saya berharap tidak akan ada lagi yang keluar. Tapi kenapa perut saya makin melilit dan kepala saya mulai berdenyut –denyut? Wajah sudah memucat. Saya mengalihkan perhatian dengan membalas candaan teman –teman, “waduh, udah berapa bulan, is?”. Saya menjawab, berusaha tersenyum, “empat bulan”

Tak lama kemudian saya lari ke kamar mandi, untuk yang ketiga kalinya jackpot. Luar biasa. Sampai tiga kali. Dan saya sudah tidak tahan lagi. Air mata bercucuran. Saya jongkok berpegangan pada pintu kamar mandi. Beberapa detik saya kehilangan kesadaran. Saya tidak bisa bicara dan tak bisa bergerak. Teman –teman saya memapah saya ke kursi. Lalu saya di bawa ke ruang istirahat. Lalu tidur.

Itu adalah daging sapi terakhir saya. Walaupun sang terdakwa jackpot saya waktu itu belum tentu daging sapi, tapi sampai sekarang, saya tidak bisa lagi makan daging sapi. Dalam bentuk apapun. Tiap melihatnya saya ingat kejadian tersebut, dan sama sekali kapok. Sekarang malah bukan hanya sapi, ayam pun mulai berkurang. Begitu juga dengan goreng –gorengan.

Setelah ngobrol dengan beberapa orang teman yang menerapkan pola vegetarian, walaupun saya tidak berniat untuk hidup sebagai vegetarian, tapi saya baru sadar bahwa sejak kecil saya ternyata sudah terbiasa menjadi vegetarian. Pantesan adik saya selalu bilang bahwa saya mirip ulat yang sukanya makan daun, bahkan minta oleh –oleh sekarung daun dari desa Banjarsari, tempat teteh saya menetap. Daun –daun yang ditanam sendiri di belakang rumah kami. Haha. Lha di kampung makanannya ya begitu.

Sampai sekarang, saya tidak tahu pasti kenapa waktu itu saya mengeluarkan lagi semua isi perut setelah makan daging sapi. Mungkin memang masuk angin dan sedang kurang sehat saja. Tapi efeknya adalah saya sama sekali tidak pernah lagi makan daging sapi, tidak sama sekali. Dari yang tadinya jarang -jarang, menjadi berhenti sama sekali.

Haaa…dasar sapi *nyalahin sapi*:mrgreen:

[gambar dari sini]

4 thoughts on “Jackpot Daging Sapi

  1. kalau daging sapi tertentu kadang membuat perut tidak tahan, apa lagi seperti saya yang memang asam lambung dan maag sering menggejala🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s