Tentang Perempuan dan Pernikahan Impiannya

Judul : Mauriel’s Wedding (Australia, 1994)

Sutradara: P.J Hogan

Cast : Toni Collete, Rachel Griffiths

 

Jaman SMA, saya menonton Mauriel’s Wedding dari sebuah televisi swasta. Sudah banyak yang disensor tentunya, dan saya belum sempat menonton ulang. Sudah banyak yang lupa sebenarnya, tapi ini salah satu film yang cukup berkesan, maklum waktu itu saya tidak banyak mengenal film dan hanya mengandalkan tivi saja.

Mauriel (Toni Collete), dalam kisah ini, seorang perempuan menuju dewasa yang tidak merasa puas dan tidak bahagia dengan hidupnya. Apa pasal? Dia gendut (walau sebenarnya ga gendut –gendut amat sih, dan sebenarnya dia juga cantik), tidak bisa masuk dalam pergaulan ‘gadis –gadis gaul’ seusia-nya, tidak pernah punya pacar, dan dianggap anak perempuan gagal oleh keluarganya.

Saat teman –teman perempuannya bergosip tentang Nirvana dengan Kurt Cobain-nya yang sedang tren saat itu , Mauriel malah sama sekali tidak mengenalnya dan yang diketahuinya hanya ABBA. Dia sangat tergila –gila pada lagu Dancing Queen-nya ABBA (saya jadi suka lagu ini semenjak saat itu ). Dia pun merasa terasingkan, dan menganggap bahwa tak seorangpun mencintainya. Padahal selayaknya perempuan muda pada umumnya, dia memimpikan banyak hal, termasuk yang sering diimpikannya adalah sebuah pernikahan sakral nan agung dimana dia akan menikahi lelaki impiannya –pangeran impian berkuda putih dan berbaju zirah bak pahlawan yang akan menjadikannya seorang pengantin perempuan yang berbahagia.

Hidup Mauriel berubah saat dia bertemu seorang perempuan yang kemudian menjadi soulmate-nya (saya tidak ingat apakah mereka menjadi pasangan lesbian atau tidak), Rhonda Epinstalk (Rachel Griffiths) yang bisa menerima dia apa adanya. Dari Rhonda lah dia banyak belajar untuk mendapat kepercayaan dirinya. Walaupun dengan cara –cara yang sebelumnya tidak berani dilakukannya. Bahkan kemudian dia dapat mewujudkan impian pernikahannya agungnya tersebut. Tidak tanggung –tanggung, dia dinikahi oleh seorang lelaki tampan nan kaya raya –walaupun pernikahan tersebut hanya rekayasa saja. Tetapi dengan penuh rasa bahagia Mauriel berjalan menuju altar dalam gaun pengantinnya diiringi lagu Dancing Queen-nya ABBA yang nyaris membuat para pengiring perempuannya mesti berjalan melompat –lompat untuk menyesuaikan dengan lagu. Haha!

Tetapi, benarkah kehidupan itu yang akhirnya di pilih oleh Mauriel? Saya pada waktu itu tidak menduga endingnya. Dan saat melihatnya, saya juga tidak terlalu terkejut. PJ Hogan, sang sutradara, spesialis drama komedi fresh yang lumayan keren menurut saya, seperti di Confession of a Sophaholic atau My Best Friend’s Wedding (yang sudah saya tonton). Saya tidak ingat beberapa kejadian detil lainnya. Ada beberapa kejadian yang terlalu ‘film’ banget: ya itu tadi, pernikahan Mauriel dengan pria antah berantah yang tiba –tiba meminta bantuannya untuk menikahinya dengan alasan kewarganegaraan. Hingga akhirnya pernikahan impiannya terwujud.

Walaupun film ini memang tipikal drama yang biasa saja, seingat saya sih begitu, tapi perubahan cara berpikir Mauriel menginspirasi saya –setidaknya pada waktu itu saat saya menontonnya dalam usia yang masih sangat muda. Rasanya kebanyakan perempuan memiliki impian pernikahan semacam itu, seperti dongeng –dongeng happily ever after. Lalu saat mendewasa, kita belajar menterjemahkan impian tersebut ke dalam kehidupan real kita. Dan seiring berubahnya cara pandang kita terhadap kehidupan, mestinya kita bisa lebih banyak belajar bahwa dalam kenyataannya banyak hal yang lebih penting dan variatif dalam menikmati kehidupan sebagai perempuan secara utuh. Bahwa kebahagiaan itu mesti kita ciptakan sendiri dengan pikiran –pikiran kita. Bahwa hidup tidak cuma tentang mendapatkan pasangan impian dan menjalani hidup itu sendiri secara datar seperti yang orang –orang lakukan sebelum kita di masyakarat.

Melihat karakter perempuan yang berkembang mendewasa dan akhirnya membuat pilihan untuk mengubah hidupnya, sangat menarik, walaupun dikemas/ didapat ‘hanya ‘dari film drama komedi ringan seperti ini. Bukan dari film ‘berat’. Yah, setidaknya saya bisa mengambil sesuatu, bukan cuma nonton sebagai penghiburan semata.

4 thoughts on “Tentang Perempuan dan Pernikahan Impiannya

  1. @Amela
    ini film lama, Mel. Kalau mau nonton kayaknya harus donlod. Lumayan lah, komedi juga ini.

    @sulunghitani
    hehe, yang itu juga lumayan fresh dan ceriaa. saya suka banget dan nontonnya sampe berkali-kali:mrgreen:

    @rumah
    makasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s