Swordsman II (1992)

“Baik dan Jahat selalu bertarung di dalam setiap jiwa yang ada di muka bumi ini. Semuanya hanyalah masalah pengendalian diri. Dan Pilihan. Tidak kurang, tidak lebih” (Paulo Coelho~The Devil and Miss Prym).

Judul : Swordsman II (Hongkong, 1992)

Sutradara: Siu Tung Ching, Stanley Tong

Cast : Jet Li, Brigitte Lin, Michelle Reiss, Rosamund Kwan

Swordsman adalah film tentang pertarungan baik dan jahat. Demikian resensi film kali ini…

*bakbuk bakbuk di hajar massa*

Oke, serius.

 

Bagi saya, menonton film yang menyenangkan adalah apabila dari film tersebut saya bisa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan –apapun itu. Bisa menghibur, sok –sok menafsirkan makna filosofisnya, mengambil hal –hal positif darinya buat kita sendiri, inspirasi tulisan, atau hanya untuk diceritakan kembali pada kawan –kawan selepas keluar bioskop. Yah, apapun itulah.

Saya jarang suka film –film kung fu atau yang banyak perkelahiannya. Saya suka Swordman II gara –gara jatuh cinta sama tokoh antagonisnya, yaitu Tong Fang Pu Pai (dalam bahasa mandarin disebut Dongfang Bubai, dan ejaan hokkian tadi membuat saya tersesat  di google). Dia diperankan oleh Brigitte Lin si spesialis pemeran cowok (baik yang menyamar atau yang jadi –jadian mwahahahahah). Keren lah. Sampai saya berburu versi novel yang menceritakan tokoh ini, tapi ebooknya belum sempat dibaca sampai sekarang T_T

Sebenarnya, ceritanya sih biasa saja. Bahkan sinematografi atau visual efek pertarungannya sendiri tentu masih kalah sama Crouching Tiger Hidden Dragon atau Hero yang konon mengandung unsur warna -warna khas itu. Banyak sekali tokohnya, yah begitulah. Standar khas kisah –kisah kungfu dari Hongkong. Melanjutkan kisah pendekar ahli pedang dalam dunia persilatan pada jaman itu dari film pertamanya, Swordsman (saya belum liat, hehe). Pendekar tersebut, Ling (kali ini diperankan oleh Jet Li) berniat untuk meninggalkan dunia persilatan. Tetapi sebelum itu, dia menemui sahabatnya dari klan yang berbeda. Namun justru dari situlah berbagai masalah malah bermunculan, dan sang pendekar pun akhirnya harus mencabut pedangnya lagi demi menolong sahabat –sahabatnya tersebut.

Ling bertemu dengan sahabat –sahabat satu perguruannya, termasuk salah seorang gadis muda yang menyukainya (yang awalnya menyamar sebagai pria dan sangat tomboy). Mereka  bersama –sama membantu klan sahabat Ling yang di serang kelompok penjahat pimpinan Tong Fang Pu Pai, yang kemudian mempertemukannya dengan Putri Yin –Yin, sang kepala klan dan ayahnya. Rupanya Putri Yin –Yin juga jatuh hati sama Ling. Wow, banyak sekali yang jatuh cinta sama pendekar ini. Lebih rumit dari itu, suatu malam Ling bertemu cewek misterius yang cantik mempesona. Malah mereka sempat minum arak bersama –sama. Ling malah jatuh suka pada perempuan tersebut –yang ternyata adalah Tong Fang Pu Pai yang sudah semakin gemulai (wakakakakak).

Pada akhirnya, Ling tahu jati diri perempuan misterius yang dikejarnya. Dan pada saat dia tahu, justru dia harus bertarung mati -matian dengannya untuk menegakkan kebenaran. Nah, siapakah yang menang? Siapakah yang akhirnya memenangkan hati sang pendekar? Silakan cari tahu sendiri jika berminat😀

Lupakan cerita tentang si pendekar. Saya lebih suka mengamati cerita Tong Fang Pu Pai itu sendiri. Sayangnya, dia tidak dikisahkan dengan porsi yang lebih banyak. Kalau tidak salah, ada lagi film tentang dia, tapi sampai saat ini saya belum menemukannya. Saya hanya ingat endingnya saja: dia terbang sambil membawa mayat perempuan yang mengorbankan nyawa demi dirinya.

Tong Fang Pu Pai awalnya hanyalah pendekar biasa saja. Tetapi ambisinya yang meledak –ledak untuk menjadi yang terkuat membuatnya melakukan apa saja demi tercapainya cita –cita sesatnyatersebut. Dia mempelajari sebuah ilmu terlarang, yaitu kungfu kasim dan mengabaikan perasaanya sendiri. Kungfu kasim mengharuskannya mengebiri alat kelaminnya sendiri, menjadikan dia bukan lagi seorang lelaki sejati.

Lama -kelamaan ada sisi feminin muncul dalam dirinya, dan dia kadang berdandan ala perempuan. Gender -nya pun menjadi bias. Tong Fang Pu Pai kemudian menjadi pendekar sesat tak tertandingi. Sangat jahat, ambisius, dan licik. Dia selalu dikelilingi wanita cantik, walau sepertinya kadang ia juga tertarik pada sesama lelaki. Ada seorang wanita yang sangat memujanya. Meskipun tahu masa lalunya, wanita itu tetap setia mendampinginya. Tong Fang Pu Pai awalnya hanya menjadikannya alat untuk menaklukan musuhnya, tapi wanita itu tidak peduli. Yang penting bisa tetap di sisi sang pendekar tersebut.

Wanita tersebut akhirnya berkorban demi Tong Fang Pu Pai dan meninggal dalam pertempuran. Perasaan Tong Fang Pu Pai tidak pernah diperlihatkan sampai akhir, inilah yang saya suka. Atau mungkin dia sudah tidak punya perasaan, mungkin juga begitu. Saat masih menjadi pria, dia begitu cool, misterius, dan penuh wibawa.

Agak mirip dengan tokoh Srikandi versi aslinya, dari India. Tapi kebalikannya. Srikandi sebenarnya adalah perempuan tomboy, lalu jatuh cinta pada seorang putri (dia sudah mencintai seorang cewe sejak sebelum diberikan kejantanan oleh para dewa), dia bertapa dan ada seorang tokoh (saya lupa siapa) yang menukarkan alat kelaminnya dengan Srikandi, sehingga jadilah dia seorang lelaki sejati. Hohoho.

Mereka memang hanya ada dalam alam fiksi yang diciptakan penulisnya. Tapi pembuatan karakterisasi yang kuat merupakan hal yang sangat luar biasa; itulah yang ada pada Srikandi dan Tong Fang Pu Pai. Saya mengenang mereka sesudah membaca atau melihat filmnya, ada semacam rasa terkesan yang tertinggal. Tak banyak karakter yang bisa menimbulkan kesan seperti itu.

Liku kehidupan penuh warna yang mereka jalani, itulah yang menginspirasi saya. Masing -masing punya cara untuk mempertahankan hidup. Pilihan yang tidak biasa berserta segala resikonya, membuat mereka amat menawan.

(gambar dari sini)

8 thoughts on “Swordsman II (1992)

  1. –Ghani–
    silakan ^^

    –neilhoja–
    kelainan gender gimana yang dimaksud? soalnya, klo seseorang yang sedari kecil punya sifat dominan yang berlawanan dengan yang seharusnya (misal cowo tapi kemayu) itu bisa jadi genetis. Dan itu ga berpengaruh sama orientasi seksualnya; tetep normal. tapi klo udah mengarah ke orientasi seksual, itu mah biasanya psikologis. setau saya sih gitu😀

    –mas J–
    wow suka Rosamund Kwan?😯

    –asop–
    sama -sama asop ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s