Vanishing On 7th Street : Kegelapan Yang Membingungkan

Sejak akhirnya mengetahui cara mendownload paling gampang dan asyik di piratebay, saya keranjingan menyedot film –film yang saya sukai. Ah, okelah, ini memang bajakan, tapi mau gimana lagi? Saya mengoleksi film –film yang pernah saya tonton sekilas sewaktu masih kecil dulu dan memberikan kesan yang mendalam, jadi apa boleh buat, saya nyedot bajakan saja *mukapembajak*.

Dengan sok kerennya saya bertekad untuk mengoleksi film yang tidak mainstream. Tetapi ternyata yang disedot tetap film yang ‘sangat hollywood sekali’ berdasarkan beberapa review yang saya temukan. Haha. Tapi banyaknya berjenis ‘depressing’ sehingga ending film bisa dipastikan tragis atau menggantung (kesukaan saya banget). Nah, jadinya beberapa bulan ini saya berubah jadi tukang nonton film. Dan baru kali ini saya menulis kesan saya setelah melihat 2 buah film yang baru saya tonton kemarin. Berkesan sekali : kesan terburuk dan kesan terbaik.

 Vanishing On 7th Street (2010)

Jika anda bertanya, film apa yang paling aneh yang saya tonton belakangan ini? Jawabannya adalah Vanishing On 7th Street. Yeah, film ini memang memiliki rating yang kurang bagus di imdb, tapi saya tetap menontonnya karena awalnya tertarik dengan ide cerita yang saya baca sekilas di beberapa review film; tentang hilangnya seluruh manusia saat kegelapan menyelimuti bumi. Saya berharap bisa mendapatkan sesuatu setelah menonton sendiri. Tapi kemudian, yang saya dapat adalah kerutan alis dan bibir menyeringai : “he? Sudah? Begitu saja?”

Oke, saya memang tidak terbiasa membuat resensi sebuah cerita film. Atau apalagi harus menilai sampai kepada detilnya, semisal karakterisasi, penyutradaraan, sinematografi, plot dan lain sebagainya. Tapi, bayangkan saja begini : sejak awal anda sudah diarahkan terhadap pertanyaan besar mengenai peristiwa maha dahsyat terhadap kemanusiaan, dan tentu semestinya kita digiring kepada babak –babak pencarian jawaban atas pertanyaan tersebut, dan berakhir dengan sebuah –minimal, penjelasan masuk akal kenapa kejadian itu ada. Nah, di Vanishing On 7th Street, sebagaimana jenis cerita post-apocalypse pada umumnya, sayangnya tidak menemukan jawaban apapun. Bahkan para tokohnya sendiri hanya berputar –putar di situ saja tanpa kejadian berarti yang bisa memberikan sedikit penjelasan terhadap situasi sebenarnya.

Cerita berawal dari seorang laki –laki yang bekerja di sebuah bioskop, James (Jacob Latimore) membaca sebuah berita tentang sebuah koloni yang hilang di masa lalu (pada akhirnya, ternyata berita tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkembangan cerita film). Tiba –tiba saat sibuk mengatur pemutaran film di belakang layar, semua lampu mati dan suasana menjadi sunyi senyap seperti di kota mati. James sendiri masih bisa melihat dalam kegelapan karena lampu senter kecil yang terpasang di helm di kepalanya. Saat mencari tahu apa yang terjadi, maka sadarlah James bahwa seluruh orang (bahkan seluruh manusia) telah menghilang dari dalam bioskop. Hanya tersisa pakaian mereka saja yang masih berada ditempatnya semula.

Disusul kemudian dengan adegan seorang dokter perempuan, Rosemary (Thandi Newton) di sebuah rumah sakit yang mengalami hal yang sama. Seluruh manusia menghilang, hanya tinggal dia sendiri.

 

Prolog yang lumayan menjanjikan kan? Bahkan, saat tokoh utama mulai muncul (Luke, diperankan oleh Hyden Christensen) yang terbangun di pagi hari sambil meniup lilin di kamarnya, film ini masih memiliki daya tarik untuk terus di tonton. Luke tidak menemukan satu orang pun di sekelilingnya, dan di sinilah –jika anda jeli melihat tiap sudut dalam film dengan teliti, akan mulai terlihat adanya bayangan –bayangan dalam gelap yang muncul setiap kamera memperlihatkan sudut –sudut gelap dalam sebuah ruangan. Bahkan kegelapan itu bisa muncul dari tiap benda yang bisa memantulkan bayangan jika terkena cahaya.

Saya kemudian menjadi bingung saat cerita meloncat pada ’72 hours later’. Semua ekspektasi saya meleset. Seluruh kejadian misterius di awal itu tidak ada jawabannya bahkan sampai film ini tamat. Bukan hanya para tokoh yang bingung dengan apa yang terjadi, bahkan penonton (misalnya saya) pun tetap bingung. Tidak ada penjelasan kenapa kegelapan muncul dan mengambil roh –roh manusia yang masih hidup. Manusia yang telah lenyap ini pun nantinya akan muncul lagi sebagai roh (tampak dalam bayangan dalam kegelapan) untuk ‘memangsa’ manusia lainnya. Setidaknya ‘roh’ inilah penjelasan yang masuk akal yang sempat dilontarkan Rosemary saat mereka mati –matian bertahan hidup dalam kegelapan.

Okelah, Vanishing On 7th Street memang tipikal film post apocalypse sejenis I am Legend, The Mist, atau The Road. Tentang beberapa manusia yang selamat dari wabah internasional dan berusaha bertahan hidup. Dan bisa dipastikan satu persatu dari mereka akan mati. Tapi, menurut saya, The Mist saja lebih mending daripada film ini. Setidaknya ada alasan kenapa muncul monster –monster di The Mist dan ketegangannya pun lebih lumayan. Usaha untuk bertahan hidup itulah yang biasanya menjadikan film sejenis ini penuh ketegangan.

Saya sampai bingung mengkategorikan film ini sebagai film jenis apa, karena bahkan usaha pertahanan hidup pun sama sekali tidak heroik atau apalagi menegangkan. Drama yang dibangun pun malah terkesan dipaksakan. Tidak ada ikatan emosi yang bisa dibangun, semua jadi serba tampak dipaksakan. Pokoknya, secara keseluruhannya ini adalah film terparah yang pernah saya tonton. Serba tidak jelas. Pertanyaan mendasar tentang “mengapa hanya kita yang tersisa, dan ada apa dibalik selamatnya kita?” pun tidak jelas. Belum lagi tokoh anak kecil aneh yang tiba –tiba muncul dan tidak dijelaskan kaitannya dengan kejadian di film, atau yang paling mengecewakan adalah pada akhirnya film ini berkaitan dengan agama; seorang tokohnya selamat hanya dengan sebatang lilin yang tersisa di sebuah gereja.

Keheranan saya bertumpuk saat berpikir, bagaimana mungkin mereka begitu bodohnya tidak bisa bertahan hidup setelah 3 hari karena kehabisan cahaya di malam hari? Toh, walaupun listrik di seluruh kota mati, kota modern pasti menyimpan banyak tenaga lain sebagai sumber cahaya : misal bensin, minyak, lilin, lampu tempel, obor, dan lain –lain lah. Kalau lompatan cerita sampai puluhan tahun sejak listrik mati dan dunia gelap total, mungkin masih masuk akal. Karena membayangkan kehidupan menjadi primitif lagi tanpa listrik.

Well, kekecewaan saya sedikit terobati dengan muka Hyden Christensen. Haha.

Okay. Karena ini sudah terlalu panjang, ulasan tentang film lain yang berkesan terbaik nanti saja ya. (sumber gambar dari sini)

31 thoughts on “Vanishing On 7th Street : Kegelapan Yang Membingungkan

  1. yaaah, dapet bocorannya… jadi males nontonnya..
    saya juga muka pembajak kok mbak..
    apalagi di sini ga ada bioskop,, ah, biar tetap apdet ya mau ga mau ngebajak
    itupun bisa diapdetnya pas pulang doang
    soalnya koneksi internet di sini suka bikin emosi.hehehe

    Like

    • ga ada bioskop? amela di kota mana?🙂

      hehe, iya maaf jadinya spolier ya. tapi coba aja tonton dulu. kan ini hanya persepsi saja aja. siapa tau menurut amela mah beda. iya kan?😀

      coba donlod aja kalau misal ada koneksi internet yang memadai mah.

      Like

      • Baubau mbak,, hehehe..
        kemarin udah dikopiin sama mas sih… belum sempet nonton..masih tergoda film2 lain..
        nanti ditonton juga kok, kalo stok film udah menipis.. hehe

        Like

  2. Ah, saya baru nonton ini kemarin di bioskop. Dan pas ending, reaksi saya: “….Eh?” *popcorn belum habis* *dagu di atas tangan* *bingung* Mungkin salah satu film paling… (maaf ya) gaje yang pernah saya tonton, padahal saya datang untuk nonton itu dengan berharap banyak😛

    Like

  3. @amela
    iya, selamat nonton ya Mel. tonton aja dulu. nanti buat review versi mu, kyknya asik juga tuh😀

    @ahmad alkadri
    hehe, wah reaksi kita sama kan? berarti memang bukan cuma karena saya yang sentimen sama film ini -dengan ketidakjelasannya yang maha ampun itu:mrgreen:

    Like

  4. Hi, gue kesini langsung nyari sinopsis ttg ini film soalnya lg tayang di tivi, gue pikir ini cerita menarik jadi gue search ttg ini, dan setelah gue baca, gue berfikir ulang untuk melanjutkan nonton ini, btw thanks reviewnya

    Like

  5. iya nyesel gua nonton.. ada film yg akhirnya ‘nggantung’ tapi bagus.. tapi kalo Vanishing on 7th street ini bukan nggantung.. tapi melayang.. melayang ntah ape kapan.. beeddd
    tapi ada temen yg bilang film ini kalo di lihat 2 ato 3 kali bakal ketemu maksudnya..(bodok mamat)

    Like

  6. hahahaa, barusan aja nonton…
    mereka masi idup cz keinginan untuk “eksis” di dunia masi kuat, kalo keinginan itu berkurang pasti lgsg dimangsa, itu sih penangkapanku
    kalo anak kecil gaje itu bisa bertahan cz dy ada senter solar energy sama ada lampu di spatunya (maybe)

    yg jd pertanyaan tuh apa arti croatoan?

    Like

  7. Tuuh kan ternyata bukn cm gw yg bingung haha
    Tapi kalao diliat dri endingnya mnurut gw sh mngkin bisa dbilang kayak film 2012 versi mininya haha
    Sianak cewek n cowok bakal berkembang biak meneruskan peradaban dikota itu wkwkw #gagalPaham

    Like

  8. Ini film aneh yg pernah saya tonton… endingnya ngeselin… bener dtengah nagih pgen tau apa kelanjutanya… nyatanya???whats the hell…

    Like

  9. kirain saya yang gak tanggap. pas fulmnya habis barusan, saya melongo. lho, kok udah selesai? makanya cari sinopsisnya.

    eh, ternyata emang membingungkan.

    Like

  10. Hahaha ternyata bukan ane doang yg gr2 nongol filmnya di TV lsng nyari review atau sinopsis, bener kata reviewer disini, filmnya diawal ud bikin kita penasaran banget sama yg terjadi, eh akhirnya anti klimaks banget, masih banyak pertanyaan2 dikepala ane tntang ini film, plothole ya itu, anak kecil yg nyelonong sendirian tb2 muncul, wkwkwk kentang filmnya, lumayan nyesel sih nntn smpe jam sgni pdahal bsok masuk pagi -_-

    Like

  11. Ada hal yang dapat dipelajari … artinya kita harus hemat energi dan gunakan energi ramah lingkungan untuk bertahan hidup. Suatu saat kita kehabisan energi dan gelap gulita .. karena sikecil selamat karena senter yang ramah lingkungan.. di akhir kisah yang menghargai alam yang selamat

    Like

  12. Btw guys sejujurnya ane juga jadi bingung karna akhirnya begitu
    Tapi yg ane tangkep maksud dari film ini ada beberapa aja
    1. Kenapa mereka yg tersisa ?
    Jawabannya karena mereka beruntung,sebelum listrik padam ada penerangan disekitar mereka.seperti senter dan lilin

    2. Kenapa saat di bar penjaga bioskop mati di atas meja biliar ? Padahal di film dia berjalan ke lorong.
    Jawabannya mungkin itu semacam halusinasi dia entah gimana ane jelasinnya ane juga gk pinter ngomong tapi ini bersangkutan sama flashbacknya si luke waktu dia dapet pesan dari org yg di chicago katanya “jangan percayai cahaya yang datang” dan ini jadi masuk akal

    3. Croatoan ?
    Mungkin itu semacam legend dari negara luar entah di amerika atau eropa gan silahkan telusuri sendiri hahahaha

    Like

  13. Kirain saya, saya aja yg lemot mkirnya, pdhal emng film nya gaje gaje aduhai 😆
    Di awal udh pnsaran aned eh ujungnya molohok”loh mksdnya ape ni film??!! Eng ing eng
    Yg bkin sya kecewa tuh kenapa si luke juga ikutan matii ?! Andai pa sutradara mmberikan izin untuk ku menyelamatkan dirimu luke😍😍

    Like

  14. Kirain saya, saya aja yg lemot mkirnya, pdhal emng film nya gaje gaje aduhai 😆
    Di awal udh pnsaran aned eh ujungnya molohok”loh mksdnya ape ni film??!! Eng ing eng
    Yg bkin sya kecewa tuh kenapa si luke juga ikutan matii ?! Andai pa sutradara mmberikan izin untuk ku menyelamatkan dirimu luke😍😍

    Like

    • Wkwkwk,, iya beneraaaan, kirain pas luke balik lagi nyelametin si bocah mereka berdua selamet trus k chicago n dapet jawabannya. Tetnyata twewewww Luke malah mati😥
      Sumpah gaje bangettt. Tr**s g selektif milih pelemnya *sigh,,

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s