Tentang Berbakti Pada Orang Tua

Kali ini, saya bertanya –tanya, sekali lagi, tentang arti ‘berbakti pada orang tua’. Dulu, saya sering mengatakan tentang keinginan atau cita –cita (yang saya pikir, ini adalah impian standar para anak di dunia), yaitu ‘membahagiakan orang tua’. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, dengan cara bagaimana?

Orangtua (baik yang single ataupun lengkap), punya cara –cara sendiri dalam membesarkan dan merawat kita ,cara –cara yang tak akan pernah dapat kita balas. Kebanyakan para orang tua, akhirnya tidak hidup untuk diri mereka sendiri, tapi untuk anak –anaknya. Dengan demikian, dengan segala kebaikan dan jasa –jasa mereka tersebut maka dalam aturan kehidupan secara universal (tanpa membedakan latar belakang ideologi apapun) anak –anak berkewajiban untuk bersikap baik kepada orang tuanya.

Hubungan darah yang demikian lekat ini, disertai proses merawat dalam kondisi apapun sejak munculnya dalam rahim hingga menjadi manusia dewasa baru –selain menimbulkan ikatan emosi yang kuat, juga kadang membuat beberapa orang tua menganggap anak –anaknya sebagai properti atau milik mereka. Dan beberapa anak, karena mempunyai kewajiban berbakti pada orang tua mereka, mereka akan senantiasa patuh dan taat demi kebahagiaan orang tua atau keluarga mereka sendiri.

Tetapi, selayaknya manusia pada umumnya, bukankah otak kita berbeda (walau seerat apapun ikatan emosi, sedekat apapun hubungan darah), sehingga kita selalu memandang segala sesuatunya (termasuk kebahagiaan) dengan cara yang berbeda –beda? Kadang –kadang, apa yang membahagiakan orang tua tidak bisa membahagiakan anak –anaknya. Dan, sebagian orang tua terkadang merasa lebih tahu tentang apa yang bisa membuat anak –anaknya bahagia tanpa bertanya pada mereka.

Lalu, jika sudah begitu, bagaimana caranya berbakti dan membahagiakan orang tua ? Bagaimana caranya untuk bisa membuat mereka tersenyum tulus dari lubuk hatinya? Karena, ternyata menjadi anak baik saja tidak cukup. Karena ternyata, kadang apa yang dipikirkan dan dipilih oleh saya (sebagai anak) sebagian tidak membahagiakan orang tua. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Terkadang, para orangtua menjadi egois. Mereka, sebagaimana manusia pada umumnya, mempunyai standar kehidupan yang ‘baik’ menurut mereka, terutama pengaturan kehidupan perempuan. Misal, salah satunya, perempuan harus segera menikah sebelum menjadi tua, melahirkan, mengurus anak, dan begitulah seterusnya sampai tua; menjadi seperti mereka (orang tua). Mereka selalu berusaha membentuk anak -anaknya, tanpa bisa diprotes.

Para orang tua menceritakan mimpi –mimpi mereka yang tentunya harus diwujudkan: tentang pernikahan dan rumah tangga yang bisa mereka lihat, mereka akan bahagia jika anak –anaknya melakukan itu –memilih cara hidup seperti orang kebanyakan dalam jaman mereka. Tapi, mereka lupa bertanya apa yang bisa membuat anak –anaknya bahagia.

Saya tidak tahu, mengapa sebenarnya para orang tua selalu mencemaskan pernikahan anak –anak mereka? Apakah murni karena kasih sayang? Apakah karena suatu ketakutan –yang tidak saya tahu –dalam jiwa mereka? Ketakutan, seperti saya juga, yang dilingkupi ketakutan terhadap apa yang orang lain pikiran tentang diri saya? Dan takut terhadap perkataan orang ini, sangat berbahaya. Apakah orang tua juga merasa begitu dengan anak –anaknya? Ataukah mereka menyangka kita tidak bahagia jika tidak menuruti apa harapan mereka?

Saya berpikir, apakahpara orang tua itu memang sakti, keramat dan sakral? Sehingga apapun yang mereka harapkan merupakan hal yang baik bagi anak –anaknya (selama tidak melanggar hukum agama dan Negara)? Karenanya, anak sebaiknya menaati harapan tersebut walaupun sejujurnya tidak suka pada hal tersebut? Apakah lantas semua itu akan menjadi baik bagi si anak? Untuk hidup yang berkah? Apakah kita selalu hanya bisa mengatakan ‘yah, namanya juga orang tua”?

Doa ibu yang tersakiti hatinya, sangat manjur katanya. Lalu, bagaimana dengan kebahagiaan sang anak? Saya rasa, komunikasi sebaik apapun tidak bisa membuat seseorang menjadi ikhlas menerima keputusan orang lain yang dipilihkan untuknya. Karena dia harus memilih sendiri dengan kesadaran. Bahkan dari orang tua sekalipun.

Kebahagiaan sejati memang berasal dari pikiran kita sendiri –bagaimana kita memetakan pikiran kita. Dan sebenarnya, kita bisa saja membuat pikiran kita terus berpositif menerima dengan ikhlas pembentukan  orang tua sehingga kita merasa bahagia lahir dan batin. Tapi bagaimana jika pikiran kita tetap menolaknya? Bagaimana jika dalam lubuk hati kita tak dapat menerima pilihan hidup yang ditawarkan orang tua meskipun, katanya, itu baik untuk kita? Baik untuk kita. Siapa yang bisa menentukan itu? Pengalaman orang tua?

Sekarang, jika ada harapan orang tua yang harus kita wujudkan, dengan keyakinan keramatnya para orang tua, lantas kita menerimanya walau kita tidak pernah benar –benar menginginkannya, apakah orang tua akan merasa bahagia dengan mengetahui semua itu? Apakah jika saya melakukan itu, Tuhan akan mengasihani saya sehingga membuat hidup saya lebih baik dan mengubah perasaan –perasaan saya menjadi bahagia, karena saya telah berbakti pada orang tua dan membuat mereka bahagia?

Ah, ternyata itu terlalu berat buat saya.

Kenapa para orang tua selalu menyangka bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak –anaknya tanpa bertanya ?

Apakah saya sekarang sedang melawan para orang tua, menjadi seorang anak pembangkang dan tidak berbakti? Berdosakah saya karena mempertanyakan hal –hal ini? Entahlah.

Tetapi, sejujurnya, saya sangat ingin membuat orang tua saya bahagia. Saya belum tahu cara yang lain untuk mewujudkan itu, selain menjadi seorang anak perempuan baik –baik. dan saya memohon ampunan pada mu wahai Ibu dan Bapak, atas segala pikiran dan pilihan hidup yang membuat kalian tidak bahagia. Saya hanya bisa mengatakan itu. Saya ingin mengatakan semua ini dengan sebaik –baik perkataan, selembut –lembutnya suara, semanis –manisnya senyuman.

Sebab, yah, kalian wahai orangtua yang mulia, adalah sebaik –baik manusia bagi diri saya, dan kasih sayang paling tulus di dunia ini. Yang tak putus –putus apapun adanya diri saya. Sebab ridhomu adalah juga ridho Allah. Tapi bagaimana caranya, jika ada beberapa hal yang tidak saya inginkan dari seluruh harapan kalian?

Perkataan bagaimana yang tidak akan menyakitkan hati kalian?

Semoga kasih sayang Allah selalu sampai pada kalian.

Selamat hari keluarga.

9 thoughts on “Tentang Berbakti Pada Orang Tua

  1. ah iya, satu hal yang saya lupa: alhamdulillah orangtua saya masih lengkap. Mungkin, yah, jika orangtua sudah tidak lengkap lagi, pikiran saya pasti berbeda. Tapi, keluarga itu seperti gurita, katanya. kita bagian dari tantakel-nya, karena dimanapun kita berada, kita akan menjadi bagian darinya (kutipan dari buku chiken soup, lupa sumbernya) Itulah hebatnya.

    Like

    • nah iya kan? tidak semua bisa menyesuaikan dengan kehendak hati mereka, walau itu bisa membahagiakan hati mereka (menurut pandangan mereka) ^_^

      Like

  2. Terima kasih telah berbagi. Sekalian minta do’anya, semoga Ayahku cepat diberikan kesehatan.
    Salam kenal mba.

    Like

  3. Dulu saya selalu menentang dan menyakiti hati orang tua,selalu bikin masalah dikeluarga.Tak terhitung sudah berapa kali orang tua dipanggil ke sekolah atas kenakalan saya.Saya selalu berontak karena orang tua saya tidak mampu memenuhi keinginan saya,saya selalu membandingkan dengan orang tua yang lain.(Ayah saya PNS).Sekarang ayah sudah meninggal,dan saya sudah berkeluarga.Baru sekarang saya bisa merasakan bagaimana susahnya menjadi orang tua saat anak saya nakal.Bagaimana rasanya saat anak minta sesuatu yang kita tidak sanggup menjangkaunya (karena saya sekarang juga PNS).Jika anak saya nakal,ibu selalu bilang itulah gambaranmu dulu.Sekarang saya baru mengerti,tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita,dan orang tua tau yang baik untuk anaknya. Didikan,ajaran,dan kesabaran mereka,itu yang sekarang saya hadapi setelah menjadi orang tua.Sekarang tinggal ada ibu,saya ingin membahagiakan dimasa senjanya.Saya dan kakak2 saya saling berlomba untuk membahagiakan ibu.Kami sangat bersyukur diberikan orang tua seperti mereka.
    Maap,jadi curhat nie…..

    Like

  4. Aku paham dilemamu, tapi tentunya kamu lebih beruntung dibanding anak lain, dan kupikir kamu lebih beruntung daripada aku. Bapak dan ibuku pisah tanpa cerai waktu aku masih 5 tahun (jadi sekarang sudah 22 tahun), sejak saat itu aku tinggal di keluarga pamanku yang pengantin baru hingga mereka kini punya 6 orang anak. Kedua orangtuaku tidak berkomunikasi dengan baik untuk kepentinganku dan adikku, dan pada akhirnya aku sulit berkomunikasi dengan mereka. sejak kecil aku terbiasa berkomunikasi dengan pamanku untuk banyak urusan, termasuk biaya sekolah. Sudah 9 tahun aku mulai hidup sendiri, tepatnya sejak kuliah, dan aku tidak pernah memulai komunikasi dengan orangtuaku kecuali mereka yang bicara padaku. Hidup seperti ini sangat menyiksa, tapi aku nggak tahu harus bagaimana. kupikir, bukan aku yang memulai miskomunikasi sehingga menyebabkan luka psikologis yang tak tersembuhkan. padahal aku selalu menjadi yang terbaik bagi mereka, aku berprestasi, tidak pernah buat malu nama baik keluarga, bahkan kuliah dengan beasiswa dan tidak pernah minta hal yang neko-neko sebagaimana anak-anak manja yang menyusahkan orangtuanya.

    sedihnya, untuk rencana pernikahan adikku bulan depan saja pamanku yang mengurusi segalanya. tak ada keadaan yang paling menyedihkan dari kehidupan semacam ini. tak ada hal yang paling menyakitkan selain bicara dengan orangtua sendiri melalui surat, sebab aku selalu menangis kalau mulai bicara dengan ibu atau bapakku, menangis menahan rasa sedih, marah dan ingin merubah keadaan. aku berharap ujian ini adalah jihadku dihadapan Allah, bahwa dalam keadaan apapun, aku selalu mengelola emosiku agar tidak bicara kasar pada mereka, meski rasa sakit menusuk-nusuk jiwaku dan membuatku sering mimpi buruk dan susah tidur.

    Jadi, buatmu, kurasa masalahmu adalah kamu harus mengubah caramu berkomunikasi dengan orangtuamu. bicara tanpa menyudutkan mereka, berilah contoh dan kamu berjanji bahwa apa yang kamu pilih sebenarnya untuk kebaikan mereka juga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s