#IndonesiaJujur : Mulai Berkarya

Mengamati kasus Ibu Siami –yang saya sebut sebagai pelaku kejujuran, membuat saya berpikir tentang diri saya sendiri. Saat hendak berteriak mengapa, mengapa, dan mengapa selalu terjadi keanehan di negeri ini, saya sampai pada pertanyaan yang menggaung jauh dari dalam pikiran saya sendiri: sudah jujurkah saya selama ini?

Jujur, terutama kepada diri sendiri. Jujur, untuk mengatakan sesuatu yang benar meskipun menyakitkan. Jujur, dari sesuatu yang sering kita anggap kecil –misal : mempergunakan waktu kerja untuk kerja saja.

Ya, rasanya berteriak –teriak aja sudah terlampau melelahkan. Tentang drama politik di pemerintahan yang begitu –begitu saja –bahkan lebih hancur dari shitentron, berbagai peristiwa aneh di masyarakat, dan sekarang muncul kengerian baru tentang penghakiman sepihak kepada pelaku kejujuran. Ada apa sebenarnya pada kita?

Tapi, jika kita hanya berteriak, itu tak pernah cukup bukan? Meskipun terkadang berteriak bisa lebih mudah daripada beraksi nyata, namun seperti yang pernah dikatakan Anis Matta dalam bukunya Arsitek Peradaban, bahwa hidup adalah masa karya. Walaupun kadang semakin hari saya semakin skeptis, bahwa harapan untuk masa depan indonesa menjadi lebih baik itu hanyalah utopia, karena manusia –manusia yang menyuarakan kebenaran malah dianggap seperti penjahat, namun itu mungkin akan terjadi jika kita sendiri tidak mengubah diri sendiri menjadi lebih baik dan berkarya demi kemanfaatan banyak orang.

Maka apapun yang terjadi, yang perlu kita lakukan adalah bangkit bergerak, dan tak pernah berhenti berkarya dengan apa yang kita bisa.

Karena tak ada yang kecil jika kita memandangnnya sebagai sesuatu yang besar. Komponen –komponen kecil akan terakumulasi dan terkumpul menjadi besar.

4 thoughts on “#IndonesiaJujur : Mulai Berkarya

  1. Beberapa orang yang saya kenal juga ikut menyesalkan tindakan Bu Siami, walau mereka juga tidak setuju soal pengusiran itu. Cukup aneh, mengingat masyarakat internet & media televisi memuji Bu Siami. Apa saya bergaul dengan orang yang terbiasa dengan lingkungan korup, atau malah bagus karena mereka jujur mendukung kecurangan (yang sama saja artinya saya menuduh sebagian dari mereka yang teriak mengecam penekanan terhadap kejujuran Bu Siami sebagai orang munafik?) Maaf. Kelewatan sepertinya. Entahlah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s