Menjadi Penulis Ada Kecenderungan Bunuh Diri?

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi oleh milis penulis lepas beberapa tahun lalu, dan sayangnya arsip milis tersebut hilang dari file saya. Milis tersebut membahas tentang para penulis kenamaan yang mengakhiri hidupnya dengan tragis, sehingga menjadi pembicaraan hangat, benarkah menjadi penulis ada kecenderungan bunuh diri?

Mari kita lihat beberapa riwayat hidup para penulis terkenal yang sempat melegenda dengan karya –karya masterpiece –nya. Misalnya –yang paling terkenal –ada Ernest Hemingway -penulis Amerika, Virginia Woolf dari Inggris, dan juga Yukio Mishima serta Yasunari Kawabata dari Jepang. Bahkan Hemingway sempat meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1954 berkat Novelnya The Old Man And The Sea, dan Kawabata menjadi orang Jepang pertama peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1968. Novel terkenal Kawabata diantaranya Yama No Oto. Dan penulis yang baru –baru ini memutuskan untuk bunuh diri adalah Hunter S. Thompson, seorang pengarang asal Amerika, dengan cara menembak dirinya sendiri.

Menurut Haris Priyatna –seorang editor buku, dalam Republika Online, para penulis yang melakukan bunuh diri ini mengalami gejala yang sama sebelum meninggal, yakni gangguan psikologis dan kejiwaan yang sangat hebat. Biasanya disebut bipolar. Mereka merasa amat depresi, gelisah, ketakutan, dan kekecewaan yang tidak masuk akal terhadap dirinya sendiri, sebelum akhirnya bunuh diri. Sedangkan Yukio Mishima memilih untuk mati sebagai protes karena menurutnya Jepang telah tenggelam dalam rutinitas politik dan ekonomi modern, tanpa keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan. Mishima yang melakukan seppuku (ritual memburaikan isi perut) diikuti oleh partnernya, Yasunari Kawabata.

Bipolar –menurut Barbara D.Ingersol, Ph.D dan Sam Goldstain, adalah “suatu kondisi yang dicirikan oleh episode depresi yang diselingi dengan periode manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. Begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik”. Mengenai Bipolar ini akan dibahas dalam tema khusus nantinya.

Di akhir penjelasannya, Haris Priyatna mengutip penjelasan Emile Durkheim, bahwa “tindakan bunuh diri terkait dengan tingkat keterikatan seseorang dengan masyarakat. Durkheim menemukan bahwa bunuh diri biasanya terjadi ketika seseorang tidak memiliki ikatan sosial atau hubungan dekat”.

Saya kadang –kadang merasa heran kenapa ada orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup begitu saja. Pengungkapan berbagai alasan apapun, tetap saja sulit untuk diterima. Namun, karena saya juga suka menulis -walaupun belum menghasilkan karya besar yang spektakuler –tapi saya merasakan ada hal yang sangat berbeda saat menulis. Dan biasanya itu sangat erat kaitannya dengan kondisi kejiwaan/ psikologis. Jika dilihat dari karya –karya pengarang yang bunuh diri tersebut, misalnya saja Kawabata, isi tulisannya cenderung melukiskan hal yang memperlihatkan kehampaan dan indahnya kematian. Dari isi tulisannya kita bisa melihat ’isi’ kejiwaan sang pengarang itu sendiri.

Ketika menulis, seperti kata Joni Ariadinata, kita sering harus melepaskan diri kita dan menjadi orang lain dengan berbagai macam karakter, semacam topeng. Dan untuk menampilkan sebuah karakter yang betul –betul nyata, kita harus melebur dengan karakter yang kita bawakan dan melepaskan ’kekitaan’ kita. Dan mungkin inilah salah satu pemicu awal dari gejala –gejala gejolak psikologis yang –pada akhirnya –tidak stabil lagi. Dalam sebuah film, bahkan ada kisah seorang penulis yang saking ingin menjiwai karakter seorang PSK, dia bukan hanya menelurusi kehidupan kehidupan para PSK, tapi malah menjadi seorang PSK betulan. Dan banyak lagi penulis lain yang melakukan tindakan ’beresiko’ agar bisa menciptakan karakter fenomenal dalam karyanya.

Saya pikir, tidak salah kita kalau kita berbuat secara totalitas dalam menghasilkan karya. Namun, selayaknya manusia yang memiliki aturan –aturan dalam hidupnya, ada beberapa garis yang tidak bisa kita lewati untuk melakukan totalitas. Saya setuju dengan kata –kata Asma Nadia bahwa jika kita menulis, maka tulisan kita hendaklah sebuah karya yang mencerahkan. Tentu saja, mencerahkan –terlebih dahulu bagi penulisnya sendiri –terlebih lagi, mencerahkan untuk orang lain. Mencerahkan, dalam artian saya –secara subjektif –mengandung kebaikan dan hikmah bagi siapapun yang membacanya. Dan jika kita sudah memahami prinsip ini, saya yakin tak ada sedikitpun kecenderungan seorang penulis untuk mengidap gangguan bipolar, yang akhirnya berujung pada bunuh diri.

Yang terpenting, seperti juga yang dikatakan Haris Priyatna ”menulis adalah pekerjaan yang asketik. Dalam proses kreatifnya, pengarang sering menarik diri dari masyarakat. Sebagai akibatnya, ia akan merasa kesepian. Dalam kondisi seperti itu, ia perlu mengakrabi Tuhan. Bahkan semestinya ia bisa menemukan Tuhan dalam tulisan-tulisannya”. Benar. Jika kita menanamkan dalam jiwa kita bahwa menulis adalah bagian dari sebuah perjuangan, apresiasi diri, pencerah bagi dunia, maka justru dengan menulis kita akan menemukan bahwa diri kita bisa menemukan sesuatu yang berharga dari dalam diri kita sendiri, bukan malah memilih mengakhiri kehidupan yang berharga. Ya, karena kehidupan ini sangat berharga.

Sumber tulisan:

http://www.id.wikipedia.org/kawabata

http://www.id.wikipedia.org/ernest-hemingway

http://www.republika-online.co.id/pustaka/selisik. Oleh Haris Priyatna, 06 Maret 2005

http://www.sivalintar online/Teman Dekat Kala Gelisah

[re-post dari blog lama yang telah dihapus]

One thought on “Menjadi Penulis Ada Kecenderungan Bunuh Diri?

  1. Ooooh, begitu…😐

    Memang para penulis itu seperti aktor ya, menganggap dirinya sebagai tokoh dalam ceritanya. Si tokoh lagi bahagia, penulis ikut bahagia. Si tokoh cerita lagi depresi, penulis jadi depresi juga…😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s