Manajemen Menegur

“Tegurlah saudaramu dengan cinta !” [anonym]

Sebagai manusia yang tak pernah luput dari berbuat salah/ khilaf, kita sangat butuh pada sebuah teguran dari orang –orang yang peduli terhadap diri kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa senantiasa berusaha menjadi lebih baik. Jika saya berbuat salah, maka saya selalu memerlukan para sahabat yang meluruskan kesalahan itu –kesalahan dalam konteks umum maupun berdasarkan agama yang saya yakini.

Menegur ini –dalam pengertian mengingatkan seseorang terhadap kesalahan yang telah diperbuatnya, agar menjadi lebih baik –bukan berarti bahwa kita membenci orang tersebut. Akan tetapi hal ini dilandaskan pada rasa sayang dan “care” atau perhatian pada orang lain. Karena kita tak ingin orang lain mendapatkan hal yang tidak nyaman dan kerugian.

Apalagi jika kesalahan itu bisa merugikan orang banyak.

Namun, bagaimana caranya menegur agar niat kita tersampaikan dengan baik dan sesuai sasaran? Jangan sampai, niat baik untuk mengingatkan malah diterima lain oleh orang tersebut. Bisa saja, orang tersebut malah menerimanya sebagai sebuah judgement yang keras dan menyakitkan hatinya. Tentu hal itu bukannya memperbaiki hubungan, malah bisa –bisa merusak persahabatan.

Setiap karakter kita sangat berbeda. Begitu juga pemahaman dan pemikiran. Hal tersebut berpengaruh juga pada cara bersikap dan tindakan kita. Dan dalam keberagaman itulah kita berinteraksi dan berbenturan. Makanya, melakukan hal yang bisa membuat orang lain tidak nyaman adalah hal yang wajar, sebab masing –masing kita amat berbeda. Berbeda dalam menyikap berbagai hal. Namun, dari situ jugalah kita berproses terus menerus –saat kita bertemu berbagai macam karakter orang –belajar terus mejadi lebih dewasa, dan lebih baik tentunya.

Dalam islam pun, anjuran menegur itu hendaknya dilakukan dengan cara yang baik (ahsan), tidak menyakiti hati orang yang ditegur, dan tak terkesan menggurui.

Saya juga, kadang dalam kondisi tertentu merasa sebel sekali kalau di tegur atau di nasehati. Saya berpikir, “uh, kenapa sih banyak omong? Saya udah tau kok apa yang mesti saya lakukan ! tak perlu didikte begitu !”. Nah, saya pikir, tentu orang lain pun akan merasakan hal yang sama jika ditegur pada kondisi yang tidak tepat. Maka, dari situ saya belajar, bahwa kita harus sangat berhati –hati dalam berbicara –terutama dalam menegur orang lain.

Teguran memang tak selalu berbentuk kata –kata dari seseorang. Namun bisa juga berbentuk pengalaman dan kejadian yang menimpa kita, sehingga darinya kita mendapat banyak pelajaran. Tapi, kadang kita butuh juga teguran secara lisan, iya kan? Karena sebagai sesama manusia kita selayaknya saling mengingatkan dalam rangka perbaikan diri.

Nah, ada beberapa metode menegur yang bisa dijadikan pertimbangan. Metode ini saya baca dari majalah wanita Ummi edisi tahun 1997.

1. Pahami kesalahan yang dilakukan.

Jangan asal menegur, tanpa kita tahu masalahnya secara keseluruhan. Kalau bahasa sundanya mah tong beledag beledug teu puguh. Tetapi, kita harus tahu dulu kenapa ia melakukan kesalahan, disengaja atau tidak, atau apakah ia tidak tahu bahwa yang dilakukannya itu salah.

2. Pahami pelaku kesalahan

Memahami karakter dan kepribadiannya, agar pendekatan kita lebih tepat sasaran. Misalnya usia, gender, posisinya dalam kelas masyarakat, dan sebagainya. Bukannya bermaksud untuk diskriminatif, akan tetapi karakter pelaku kesalahan ini akan menentukan bagaimana kita bersikap nantinya.

3. Pilih situasi dan kondisi yang tepat.

Kita harus tahu dulu kondisi saat akan menegur, sehingga “timing” nya tepat. Sebaiknya tidak menegur dia di depan orang banyak karena khawatir akan mempermalukannya, atau ketahui dulu apakah dia sedang dalam kondisi banyak masalah sehingga emosinya sedang tidak stabil, atau dia sedang bersedih.

4. Tidak berbelit –belit

Maksudnya menggunakan bahasa yang sopan, efektif, dan tidak terlalu bertele –tele, agar tidak menimbulkan salah paham.

5. Akhiri dengan doa

Kita doakan semoga semuanya akan baik –baik saja. Dan seluruh teman serta orang –orang yang kita cintai selalu mendapat kebaikan. Juga kita berusaha agar apa yang kita tegurkan tidak terjadi pada diri kita.

Semoga bermanfaat.

[referensi: artikel “Menegur dengan cinta”, majalah ummi edisi tahun 1997]

[Re-post dari blog lama yang sudah ‘mati’].

4 thoughts on “Manajemen Menegur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s