Lupa Bersyukur

Saat membuka –buka kembali arsip foto beberapa waktu lalu, saya teringat dimana saya mendapatkan foto –foto itu, dengan jelas sekali. Dan saya teringat kejadian beberapa tahun lalu saat saya melewati gang –gang kecil di kawasan Gegerkalong Girang, Bandung,  yang sempat sangat terkenal sekali.

Pada waktu itu, di sebuah gang saya melewati sepasang kakek dan nenek yang sudah sangat uzur dan renta sedang duduk di pinggir jalan gang yang sempit. Saya kira mereka sedang beristirahat atau memang sengaja duduk di situ. Pakaian mereka compang –camping dan kotor. Saya pikir mereka salah satu manusia yang hidup di jalanan. Sang nenek mengeluarkan sebungkus nasi dari dalam kantong kain lusuh yang selalu dibawanya. Mungkin nasi bungkus itu pemberian seseorang. Dia menaruh nasi bungkus itu di atas tembok di hadapannya. Kemudian mereka menyantap nasi bungkus itu bersama –sama; sebungkus berdua.

Saya tidak tahu harus mengatakan apa melihat semua itu. Tiba –tiba saya teringat kedua orang tua di rumah. Dan saya tidak bisa mengalihkan pandangan dari keduanya, lalu saya hanya jongkok tak jauh dari mereka, sampai teman saya menarik saya untuk pergi.

Apakah saya terlalu melankolis? Apakah ini semacam kegombalan yang hanya bisa saya katakan/tulis saja sebagaimana orang –orang menulis tentang kepedulian mereka terhadap kemiskinan atau realitas kehidupan jalanan, dan sesudah itu, sudah saja –hanya sebagai ungkapan simpati basa –basi? Ya, bisa saja saya begitu. Karena sampai, saat ini, ternyata saya bahkan belum bisa melakukan apapun.

setiap saya melihat mereka, di foto itu, saya bahkan tidak bisa membayangkan hidup keras semacam apa yang dihadapinya tiap hari. Saya sungguh merasa amat kecil. Kecil sekali. Hidup seperti ini saja, sibuk sendiri saja, mengeluh setiap hari dan selalu merasa kurang. Kadang merasa bahwa Allah tidak adil dengan tidak mengabulkan apa yang sangat saya inginkan. Setiap hari saya bisa makan, bisa belanja, dan merasa telah bekerja habis –habisan untuk bertahan hidup. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh mereka, yang kadang keberadaanya kita lupakan itu?

Mereka telah bekerja lebih keras. Mereka hidup dengan lebih keras –yang bahkan jika saya mengalami itu mungkin saya tidak akan bisa setegar dan setahan mereka.

Kau bisa tanyakan apakah mereka mengenal internet, apakah mereka tahu tentang pemerintah kita, apakah mereka berita –berita hiruk pikuk dunia yang makin menua? Ketika kita asyik masyuk berdialog, sibuk dengan urusan masing –masing, mengurusi ini itu, menjadi penonton setia sandiwara politik dan menyoraki pemimpin –pemimpin yang tak pernah kita anggap becus, apakah mereka sempat memikirkan hal itu juga? Apakah kita sempat mengingat mereka juga?

Mereka yang mungkin tak pernah punya suara, tidak seperti anak pinter kaya yang ibunya terkena kasus hukum dan bisa mengeluh lewat internet sehingga dunia tahu dan bersimpati pada nasibnya, tapi apa yang bisaorang –orang ini lakukan? Siapa yang bisa mendengar dan mengingat mereka?

Saya kadang tenggelam dalam keharu-biruan yang selalu datang pada saat melihat kenyataan ini: bahwa saya sering lupa bersyukur. Bersyukur atas apa yang ada dalam diri saya karena banyak orang yang tidak seberuntung saya. Berhenti mengeluh dan mulai memikirkan hal sekecil apapun yang bisa dilakukan. Dan akhirnya tersudutkan pada pertanyaan pada diri sendiri: sudah sampai dimana saya? Apa yang telah saya lakukan untuk orang lain dan untuk lingkungan?

Ya Allahku. Terimakasih, untuk seluruh kehidupan ini. Engkau yang tak pernah lupa dan pergi, meskipun saya sering melupakan-Mu.

[Bandung, 23 Februari 2011]

2 thoughts on “Lupa Bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s