Pesan dari Masa Depan [1]

Ingatannya tidak pernah kembali dengan baik. Saat pelupuk matanya tiba –tiba terbuka karena hentakan dari tenaga listrik yang mengalir ke jantungnya, dia mendapati seolah seolah seorang malaikat kecil berkulit hitam telah membangunkannya dari tidur panjang. Bukan seperti putri tidur yang terbangun dengan ciuman seorang pangeran tampan, tapi otak buatannya menerima perintah untuk bangun pada hari itu. Hari dimana sebuah sejarah masa depan telah dimulai.

Ia merekam semua data yang bisa dipandangnya di ruangan itu –dimana ia pertama kali bangun. Sebuah ruangan besar yang porak poranda. Tapi bekas benda –benda dari masa lalu masih berserakan di sana; tabung reaksi, komputer besar, dan berbagai alat percobaan yang sambung menyambung satu sama lain. Semua sudah using ditutupi debu dan sarang laba –laba. Tempatnya berbaring pun tak lebih dari sebuah kapsul seukuran tubuh manusia yang di dalamnya suhu terasa lebih dingin dan mengepulkan asap. Tempat apakah ini, pikirnya.

Ia mencari –cari sebuah angka yang bisa mengingatkannya akan waktu pada hari itu. Tapi ia tak menemukan apapun. Di kapsul tempat tidurnya tadi ia tidak menemukan angka apapun. Ia pun bangkit, membuka pintu besi ruangan itu, dan berjalan menaiki tangga. Di ujung tangga itu ada pintu besi menuju ke dunia luar. Dia membuka pintu itu perlahan –lahan.

Sebuah sinar yang terang benderang menembus keseluruhan tubuhnya. Ia memejamkan mata.

Matahari.

######

Dunia telah berubah. Seperti itulah kelihatannya. Perang besar telah mengubah kehidupan, dan ia berdiri diantara puing –puingnya. Gedung –gedung skyscraper hanya tinggal reruntuhan dan mengepulkan asap. Taman –taman berwarna abu. Burung –burung melintas di langit, bergerombol seperti memberitakan sesuatu. Dia tidak melihat tumbuhan satupun. Udara terasa lebih panas. Ia berdiri tertegun di pinggir jalan, merasakan sinar matahari. Ia menyukai sinar matahari –ada sesuatu yang ia rindukan dalam kulitnya yang lembap dan pucat. Ia merasa hidup.

Ia berjalan menyusuri trotoar yang penuh sampah dan batu –batu kecil. Tak ada satupun kendaraan atau manusia yang melewati jalan itu. Ia melihat –lihat sekeliling. Agak jauh di pinggir jalan di sebelahnya, ada seorang anak kecil mengawasinya dari balik sebuah gedung tua. Bola matanya membesar dan terfokus pada sosok anak  itu. Lensa matanya mengirimkan gambar yang lebih jelas sekarang: itu adalah anak kecil yang dia lihat sekilas di ruangan bekas laboratorium dimana ia pertama terbangun tadi.

Ia merabai lehernya, merasakan sebuah tekstur kalung dan liontin kecil yang melingkar di sana. Diambilnya liontin itu. Liontin tersebut berbentuk bulat serupa kotak kaca yang bisa dibuka. Di atasnya terdapat ukiran sebuah nama yang indah : Florence Winter. Jelas itu bukan namanya. Nama adalah satu –satunya yang bisa ia ingat saat bangun tadi: Maximillan. Dan Florence Winter, mungkin adalah satu –satunya petunjuk bagi dirinya. Ia memutuskan untuk mencari nama itu sekarang.

Ia melangkah tergesa –gesa menuju ke arah anak laki –laki yang masih mengintipnya di kejauhan. Tapi tiba –tiba ia merasakan kepalanya berdenyut keras. Seseorang memukul kepalanya dari belakang. Ia menoleh, dan dilihatnya beberapa orang lelaki dengan dandanan sangar menertawakannya. Mereka menyerangnya lagi –memukuli kepalanya dengan tongkat besar. Ia terjatuh dengan mata masih terbuka lebar. Sinyal –sinyal di otaknya bergetar tak tentu arah. Seperti baru saja terjadi tabrakan arus di dalam kepalanya.

Orang –orang itu meraba –raba saku celana jeans-nya. Mencari dompet atau lembaran uang. Tapi mereka tidak menemukan apa –apa. Mereka pun merasa kecewa dan menendang tubuh lelaki itu. Mereka meninggalkannya dengan terburu –buru. Sedangkan laki –laki itu masih terkapar sendirian tanpa bergerak sedikitpun.

Setelah orang –orang itu tak terlihat lagi, ia mengamati telapak tangannya. Tak sakit, bisiknya sendiri. Ia hanya terkejut tadi. Sesaat kemudian sinar matanya meredup. Langit menjadi gelap dan gedung –gedung berputar seperti baling –baling tertiup angin. Bola matanya membulat dan berwarna putih, tanpa kilauan. Deretan angka dan tulisan berbaris rapi memenuhi bola matanya. Ada slide –slide lingkaran sinar memenuhi kepalanya, lalu ia melihat dua bayangan manusia mendekatinya. Seorang laki –laki dan perempuan yang sebaya dengannya.

Sebuah peristiwa terulang. Muncul begitu saja di dalam memori otaknya…

Max…max….suara –suara memanggil namanya dari kejauhan. Seperti datang bersahutan dari dunia lain. Suara laki –laki dan perempuan di masa lalu. Samar –samar muncul seorang laki –laki muda berkacamata mengenakan jas laboratorium berwarna putih, melintas  di hadapannnya sambil sibuk mengocok tabung reaksi. “Max…jadi kau sudah memutuskan untuk mengenakan seragam itu dan mengikuti jejak ayahmu di kemiliteran? Sudah kau putuskan ?”

“Iya, sudah kuputuskan begitu”

Laki –laki berkacamata itu tersenyum sambil menatapnya.

Lalu bayangan lain melintas menggantikan wajah lelaki berkacamata. Seorang perempuan muda bermuka muram meratapi bunga mawar putihnya yang jatuh dari lantai atas tempat dia merapikan bunga –bunganya. Rambutnya yang coklat berkilauan tertimpa cahaya matahari sore. Matanya yang bulat cemerlang memancarkan cahaya laksana sihir, menatapnya dengan teduh.

Dan sesaat waktu seperti berhenti bergulir. Angin melambat, menderaikan rambut gadis itu, menghantarkan wangi ke arahnya. Di lehernya terlihat kalung perak, dengan sebuah nama terukir di liontinnya.

Laki –laki itu menggerakkan jemari tangannya perlahan. Bayangan –bayangan itu telah lenyap seketika dari sekelilingnya. Mereka memburam, menjadi bayangan putih dan garis –garis horizontal di matanya. Lalu menghilang sama sekali. Ia mengedipkan matanya berulang kali. Kesadarannya telah pulih dengan sepenuhnya. Dia berbaring saja, menatap langit yang mulai menguning menuju senja. Debu –debu berhamburan menutupi wajah dan tubuhnya.

“Aku bermimpi”katanya berulang –ulang.

Lalu didengarnya sebuah suara dari sampingnya. Ia bangkit dengan cepat. Dilihatnya anak berkulit hitam yang sedari tadi mengintipnya, berlari meninggalkanya dan kakinya menginjak kaleng bekas minuman. “Tunggu! Hei! Tunggu…”dia mengejar anak itu.

Anak itu menoleh, dia berhenti berlari. Dengan ragu –ragu dia menatap lelaki itu. “Sebenarnya kau ini siapa? Apakah kau manusia? Lazarus?” Tanyanya sambil mundur pelan –pelan.

“Bukan” lelaki itu tersenyum, “aku bukan Lazarus”

[bersambung]

2 thoughts on “Pesan dari Masa Depan [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s