Surat Cinta Untuk Sang Rasul

Mendengar nama anda, yang saya tahu, adalah selalu dalam alunan salam sebagai salah satu tanda pengingat dan penghormatan kami kepada anda. Hanya untuk anda, yang bahkan dalam mimpi pun saya tak pernah melihat bayangan anda.

Engkau, wahai Nabi yang dicintai, terbentuk melalui imajinasi sedari masa kanak –kanak saya, hingga kini, yang tak pernah sekalipun memudar dalam lipatan kerangka pemikiran –pemikiran yang mendatangi saya sesudahnya. Para guru ngaji dan para orang tua menceritakan kisah –kisah tentang anda. Buku –buku dan berbagai sumber literatur yang membahas segala sisi kehidupan manusiawi dan kenabian –anda. Tapi hanya sedikit saja yang saya tahu, sampai saat ini, sedikit saja yang saya tahu tentang anda.

Segala bentuk imajinasi yang tersimpan dalam hati dan pikiran saya, satu –satunya yang tetap saya jaga bahwa engkau adalah kebenaran adanya. Walaupun kita tak pernah hidup dalam suatu masa, dimana saya bisa melihat wajah dan berbicara dengan anda, tapi imajinasi itu begitu hidup dan seolah –olah menjadi nyata dalam pikiran saya. Pun bahkan anda tersebut dalam setiap syahadat yang diucapkan seorang muslim, meskipun anda sama sublimnya dengan keilahian Allah SWT, namun saya ingin menundukkan penguasa rasionalitas –bahwa rasa meyakini ini dipandu dan dibawa ke dalam ranah hati dan perasaan manusiawi kita.

Jika saja, ada sebuah pintu yang bisa membimbing saya bertemu dengan anda, dan meletakkan saya untuk duduk di dekat saya saat ini, tahukah anda bahwa ada begitu banyak hal yang ingin saya tanyakan mengenai kekinian. Anda tentu paham, sebab sebelum anda meninggal, bukankah anda mewariskan pada kami tiga hal? Yakni, tegakkan shalat, menjaga kaum wanita, dan umat anda (yang tidak lain adalah kami saat ini, jika kami masih bisa mengklaim-nya demikian). Saya ingin curhat tentang berbagai hal, wahai Nabi yang agung. Tentang harga –harga yang terus melonjak naik, tentang karakter pemimpin yang sulit ditemukan mendekati anda. Ada apakah gerangan?

Yang bisa saya lakukan, adalah tetap berusaha bertahan hidup dan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Memberikan yang terbaik meskipun sedikit, untuk dunia yang semakin rapuh dan menua. Dan, terus mendekat kepada Allah seperti yang telah banyak anda ajarkan, dan juga belajar mencintai anda dengan lebih baik lagi.

Ya Rasulullah, kalaulah ada kesempatan untuk bisa melihat wajah anda yang dirindukan seluruh umat yang tak sempat hidup pada masa anda, kerinduan itu selalu mengharu biru sampai saat ini. Akankah cita –cita melihat wajah anda yang agung, terlaksana di surga? Ya Rasul, saya hanya ingin belajar menjadi manusia yang baik, yang tak pernah memberikan kesusahan pada manusia lainnya.

Keteladanan dan banyak hal baik yang anda wariskan, akan selalu hidup di sini. Saya ingin selalu belajar untuk tetap pada jalan yang anda ajarkan. Maafkan, karena hanya inilah yang bisa saya katakan ucapkan: yaitu salam dan shalawat untuk anda. Selalu. Karena ternyata saya masih harus belajar banyak tentang kisah hidup agung anda. Dan semoga, saya tidak hanya mengingat dan mengucapkan salam kepada anda pada saat momen Maulid Nabi atau Isra Mi’raj saja.

Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad…

4 thoughts on “Surat Cinta Untuk Sang Rasul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s