P a m a l i

Pernahkah anda mendengar kata ‘pamali’ ? Secara harfiah, saya belum menemukan definisi yang tepat untuk kata ini. Tapi selama pengalaman hidup sebagai orang sunda yang dibesarkan dalam budaya yang sangat nyunda, saya mulai bisa merangkai definisi asal untuk ‘pamali’, yaitu hal –hal yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang. Kenapa tidak boleh dilakukan? Ada beberapa alasan, tapi kadang –kadang alasannya tidak masuk akal. Bisa jadi berhubungan dengan mitos. Dan ternyata menurut sumber di sini, pamali memang demikianlah adanya : sesuatu yang tidak boleh dilakukan, tabu, atau pantangan.

Di sunda, para orang tua yang ingin melarang anaknya melakukan hal –hal tabu atau tidak baik menurut mereka, mereka akan menggunakan kata ‘pamali’. Seolah –olah kata ini keluar begitu saja, tanpa bisa dibantah, dan mereka tidak berkepentingan untuk menjelaskan kenapa ada ‘pamali’ kepada anak –anaknya.

Dan, yang menakjubkan adalah, kata ‘pamali’ lebih banyak ditujukan kepada para perempuan. Mereka banyak sekali ‘pamali’-nya. Karena, menurut adat seorang perempuan itu haruslah berbudi pekerti luhur dan keibuan, penyayang serta lembut, maka berderet –deretlah pamali yang tidak boleh dilakukan oleh para perempuan. Ini saya alami sendiri. Sejak menjelang remaja, saya sering dilarang melakukan beberapa hal karena ‘pamali’, dan saya jarang mendapatkan alasan masuk akal (belakangan saya baru menemukan sendiri alasan logisnya). Sedangkan adik laki –laki saya lebih bebas untuk melakukan hal yang dilarang kepada para perempuan.

Beberapa ‘pamali’ atau larangan yang sebagian besar mirip dengan budaya sunda, ada di sini. Tapi ada beberapa ‘pamali’ yang alasannya berbeda dengan yang dikatakan orangtua saya. Misalnya, ‘pamali’ duduk di ambang pintu bagi para perempuan yang masih gadis (dilarang duduk di muka pintu). Setahu saya, alasan pamali tersebut adalah : “nongtot jodo” –artinya, jodohnya tidak kunjung datang, cuma nongol saja tapi tak kunjung ke pelaminan (sepertinya artinya begitu, agak susah juga menterjemahkannya).

Contoh lain dari pamali bagi para perempuan yang masih gadis, yang saya tahu, beserta alasannya, adalah :

  1. Pamali bersiul –siul. Karena tidak sopan seorang perempuan bersiul –siul (dalam bahasa sunda : heheotan)
  2. Pamali makan daging ayam bagian ceker atau bokong. Bagian ceker bisa menyebabkan tulisan tangan menjadi jelek. Bagian bokong dilarang dimakan, sampai saat ini saya belum mendapatkan penjelasan kenapa perempuan pamali memakannya.
  3. Pamali melanjutkan menyapu atau mengepel yang awalnya telah dikerjakan oleh orang lain. Karena apa? Karena nanti suaminya bisa direbut oleh orang yang melanjutkan menyapu atau mengepel tersebut (wakakakakakakak)
  4. Pamali keluar pada waktu ‘sareupna’ (waktu sareupna itu sekitar jam 6 sore, menjelang waktu maghrib sampai sekitar menjelang isya). Karena apa? Karena bisa diculik kalong wewe. Apakah itu kalong wewe? Mungkin sejenis makhluk jadi –jadian semacam kuntilanak yang senang menculik anak perawan.

Dan masih banyak pamali –pamali lainnya.

Saya selalu percaya bahwa alasan pamali seperti contoh diatas itu adalah bohong belaka. Saya tidak pernah sekalipun percaya, karena sejak beranjak remaja dan mendengar kata pamali demikian seringnya, saya selalu bertanya “kenapa pamali?”. Saya jarang mendapatkan jawaban yang masuk akal. Jadi saya pikir, bodoh sekali jika saya mempercayainya. Bahkan, bukan hanya para orang tua, hampir semua orang berpikiran sama mengenai pamali –itu larangan, demikian adanya, diwariskan menjadi pengetahuan turun temurun. Kalaupun ‘pamali’ ini saya taati, itu hanyalah karena alasan yang menurut saya lebih masuk akal.

Misal, ‘pamali duduk di muka pintu’, ini bisa diterima, dengan alasan bukan karena nongtot jodo, tapi karena menghalangi orang untuk lewat di pintu. Sesederhana itu saja. Atau ‘pamali memakan ceker dan bokong ayam’, alasannya adalah karena itu bagian yang paling enak, jadi para orang tua tidak ingin memberikan bagian itu pada anaknya. Ha! Saya lebih percaya alasan ini.

Pamali keluar pada waktu sareupna bagi kaum perempuan yang masih gadis, bukan karena takut diculik kalong wewe, tapi karena pada malam hari kondisi bisa menjadi begitu membahayakan bagi siapapun. Jadi itu sebenarnya rasa sayang orang tua pada anak gadisnya, karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk. Saya sangat menaati pamali yang ini, dengan alasan tersebut. Doktrinnya sudah melekat sampai ke akar. Dan tepatnya bukan pada waktu sareupna, tapi pada waktu malam. Kecuali kalau ada urusan super penting, dan tidak sendirian.

Sebenarnya, tidak ada hukuman formal atau akibat yang akan kita terima dari pelanggaran pamali, menurut saya sih begitu. Saat kita sudah memahami kenapa ada pamali, pamali bersifat personal, dan semua tergantung pada pilihan kita untuk melihatnya sebagai suatu masukan dari orang tua untuk kebaikan kita atau diabaikan saja. Tetapi mengungkapkan alasan klasik turun temurun yang tidak masuk akal seperti diatas, merupakan pembodohan dan kebohongan pada anak –anak. Meskipun tujuannya baik, ingin menerapkan nilai –nilai moral dengan membuat larangan –larangan seperti itu, tapi tentulah ada cara yang lebih baik. Sehingga anak –anak atau remaja yang memilih untuk menaati aturan tersebut disebabkan karena kepahamannya terhadap dampak pilihannya, bukan semata –mata karena takut pada sesuatu yang tidak jelas yang hanya diwariskan dari para leluhur.

Bagaimana menurut anda ?

2 thoughts on “P a m a l i

  1. Sudah, percaya saja apa kata orang tua dulu. Seperti halnya saia yang dulu acuh tak acuh dengan buku-buku primbon, tapi setelah ada sejarahnya dalam sejarah keilmuan Islam klasik—dengan penjelasan yang rumit tentunya—ya saia jadi mengapresiasi. Kasarnya, itu semua adalah segenap pengalaman nyata yang sudah diuji dan teruji selama kurun generasi. Yang paling mudah saja, soal hari baik dan hari buruk. Jika ditarik ke garis tauhid, tentu saja ide tersebut terlihat konyol, tapi jika menukik ke realitas kultur dan kenyataan praktis, ternyata tidak semua salah. Misal jangan mengadakan acara pernikahan di bulan X karena bulan X adalah bulan yang jelek. Bisa jadi parameternya adalah, misalnya, o karena bulan X tersebut adalah bulan penghujan. Kredibilitas soal “pamali”/tabu pun ya mirip-mirip begitu.

    *kembali nyari mie ayam*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s