Ode Untuk Ayahku

Assalamualaikum.

Hi dad, it’s me. Can you see me ?

Lebih dari pengetahuanku selama puluhan tahun hidup di dunia ini, engkau lebih tahu tentang kehidupan –segalanya tentang itu, melebihi aku. Tetapi, ayah, aku tahu diriku. Aku ingin belajar untuk tahu mengenai diriku dan apa yang kuinginkan. Aku sedang belajar, dan tak pernah akan berhenti belajar. Kaupun tahu itu.

Aku sudah tumbuh berkembang dalam pengawasanmu, pun sampai saat ini. Engkau telah memberiku banyak, lebih dari apa yang kubayangkan, lebih dari apapun yang bisa kulihat, bahkan lebih dari apa yang kuminta. Cinta tak bersyarat, aku merasakannya. Aku mencintaimu karena itu. Aku akan selalu mencintaimu karena seluruh kebaikanmu itu. Aku akan selalu mencintaimu karena engkau telah mencintai ibuku dengan cara seperti itu.

Untuk semua itu, aku berterima kasih. Aku tidak pernah menyayangi orang lain seperti aku menyayangimu, ayah. Engkau laki –laki seluruh duniaku, dan itu selalu menjadi cukup bagiku. Dan hanya itu yang bisa kulakukan.

Aku sudah tumbuh besar, belajar mendewasa, jatuh cinta –bahkan sudah pernah menangis karena patah hatinya. Aku tidak keberatan jika kau menjadikanku investasi akhiratmu. Dan tahukah engkau ayah, aku bahagia dengan apa yang ada pada diriku sekarang. Aku senang dengan apa yang kupikirkan sekarang.

Tapi ayah, kita tak pernah bisa memiliki seorangpun di dunia ini kan? Aku, anak perempuanmu. Tapi aku bukan milikmu. Kebaikanmu kucintai, tapi aku lebih mencintaimu jika kau membiarkanku berpikir dengan caraku sendiri. Aku adalah diriku sendiri.

Karena itu, maafkan aku jika kadang engkau tidak bahagia dengan apa yang kupikirkan. Maafkan aku. Itu adalah hal yang tak bisa diubah. Aku akan terus terbang, seperti yang kau inginkan, menuju sebuah dunia, duniaku sendiri, atas kehendakku sendiri. Maafkanlah jika tujuan terbangku sebagian tak membahagiakanmu. Engkau selalu di hatiku. Aku mencintaimu.

Wassalamualaikum.

5 thoughts on “Ode Untuk Ayahku

  1. Kleannya cintamu bertumbuh.
    Cinta itu emang harus bertumbuh.
    Bertumbuh berubah menjadi lebih mulia.

    Mula-mula ada “cinta-kerena”
    Lalu menjadi “cinta-jikalau”
    Akhirnya hrs-lah“cinta-walaupun”

    Yg pertama itu adalah cinta natural
    Yg ke dua adalah cinta emosional
    Yg terakhira ialah cinta spiritual.

    Macam itulah pertumbuhannya.
    Macam itulah perubahannya.
    Menjadi lebih mulia.

    Salam Damai!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s