Rain On a Beautiful Day

Mya memperhatikan hujan dari balik kaca jendela kamar itu. Tidak besar hujannya, hanya tetesan kecil mirip jarum putih yang jatuh satu persatu dari langit. Suaranya masih belum mengalahkan hatinya yang masih terus berbicara.

Dia duduk di atas tempat tidur yang ditutupi seprai putih. Kedua kakinya ditekuk di bawah dagunya, dan kedua tangannya melingkari kedua betisnya. Di depannya, seorang laki –laki muda sebaya dengannya berbaring di atas kursi panjang. Laki –laki itu menyilangkan kedua tangannya di bawah kepalanya dan matanya terpejam.

Mereka tidak berbicara.

Lalu, tiba –tiba laki –laki itu berkata padanya, “kau harus pulang”.

“Hum?”dia memandang laki –laki itu. “Apa kau mencemaskan aku?”

Laki –laki itu tertawa kecil. “Aku tak perlu mencemaskan seorang gadis paling populer di SMA H. Sungguh”

“Mantan. kita sekarang sudah bukan anak SMA lagi kan, Rang?” Mya mengambil handphone yang tergeletak di dekat kakinya. Beberapa hari terakhir sejak dia loncat ke dalam kereta di hari sesudah kelulusannya waktu itu, dia tak pernah mengaktifkan handphone tersebut. Dia menghapus semua jejak yang mungkin bisa dilacak keluarganya.

Lalu dia memandang keluar lagi, ke arah hujan yang membuatnya terpesona. “Hei…lihatlah, hujan hari ini indah sekali bukan? Apa menurutmu juga begitu, Rang?”tangannya sibuk mengaktifkan handphonenya.

Rang tidak menjawab, juga tak bergerak sedikitpun. Dia tetap memejamkan matanya.

“Kakakku mencemaskanku”gumam Mya. Dia memperlihatkan deretan pesan dari kakak perempuannya, yang seluruhnya berisi kata –kata yang sama ‘Pulanglah, Mya’. Lalu dia berhenti agak lama pada sebuah pesan yang berbeda.

‘Apakah kini bidadariku kawin lari dengan monster es?’. Begitu isi pesannya. Dikirimkan pada hari dimana ia melihat gurunya di stasiun kereta untuk menghentikannya tepat di hari kelulusannya, tapi tak ada yang bisa menghentikannya saat itu.

“Pak guru cemburu padamu”Mya menyerahkan telepon itu pada Rang.

“Laki –laki aneh itu?”

Mya tersenyum. “Apa waktu itu kau benar –benar dihajar olehnya?”

“Dia benar –benar kuat. Dasar sial. Hanya dia satu –satunya orang yang mengalahkanku di sekolah…rasanya aku ingin membunuhnya. Pukulannya keras sekali”

“Tapi pak guru sayang padamu, lho”

Rang tertawa terbahak –bahak. Lalu terdiam. “Kau pulang saja besok. Dengar, kalau kau pergi berdua denganku –berhari –hari, orang –orang akan yakin kalau kau pasti pulang dalam keadaan tidak baik”

“Kecuali kalau kau seorang gay”sambung Mya.

“Yah, anggap saja aku seperti itu ?”

“Dan teman –temanku akan membunuhmu, Rang”

“Malang sekali. Dianggap gay, lalu dibunuh para pemujamu”Rang tertawa.

Mya tidak tertawa. Dia membaca pesan dari gurunya berulang –ulang. “Tapi Pak guru itu orang yang baik. Apa aku boleh mengatakah satu rahasia padamu?”

“Kalau rahasia itu adalah ‘aku mencintai pa guru’, aku sudah tahu. Kau tak perlu mengatakannya lagi”

“Aku sungguh –sungguh. Tapi malam itu dia menolakku. Aku menunggunya sampai hampir mati. Tapi dia tak pernah datang. Lalu aku mengatakan, ‘aku akan pergi jauh. Kalau kau datang di stasiun, akan kuanggap kau menerimaku dan aku tak akan pergi lagi’”

“Waktu itu dia datang ke stasiun”

“Iya, tapi kupikir, dia tak pernah benar –benar mencintaiku. Jadi aku tetap pergi. Dan sekarang dia mengira aku ikut denganmu untuk kawin lari”

“Jadi itu rahasianya?”

“Orang –orang ga akan mengira kau sebagai gay lagi, kalau begitu”Mya tesenyum lebar –lebar. Barisan giginya yang mungil tampak menggemaskan.

“Kacau kalau begitu”Rang bangun dari kursinya. Tiga langkahnya yang panjang menjangkau lemari es. Dia mengambil sebotol minuman dingin, lalu meneguknya sampai setengahnya.

“Dia mengatakan kita kawin lari. Apa memang sebaiknya kita kawin lari saja?”Mya mematikan handphonenya. Dia memeluk kedua lututnya, menyimpan dagu di atas lututnya itu.

“Ide bagus, tapi kurasa kita tak bisa melakukannya”

“Kenapa?”

“Kau tak akan merasa bahagia” Rang menyeringai. Mereka tak pernah bercanda seperti itu sebelumnya. Persahabatan mereka selalu datar saja.

“O begitu. Jadi kau tak pernah berpikir seperti itu ya”

Rang menatap gadis itu lama. “Seperti itu?”tanyanya.

“Katakan…katakan satu saja rahasiamu padaku. Apakah aku bisa mengetahuinya? Rahasia yang paling penting…katakan padaku” Mya beringsut ke tepi tempat tidur. Dia menatap Rang dengan  tajam. Pandangan mereka bertemu pada satu titik yang nyaris menguak segala kebenaran.

Rang mengalihkan matanya, “Apa aku pernah mengatakan kalau aku punya rahasia penting?”

“Malam kemarin…aku tahu” Mya meraba keningnya perlahan –lahan. “Apa aku boleh tahu…?”.

Malam kemarin, Mya tidur lelap di kamar itu –tapi tak cukup lelap untuk merasakan sesuatu mendekatinya, lalu benda dingin menyapu lembut keningnya. Dingin sekali. Lebih dingin dari es. Sampai Mya berpikir bahwa hati orang itu tentu lebih dingin dari kulitnya. Monster es itu.

Rang diam saja.

“Kita tak pernah bisa pergi ya?” Mya tersenyum nanar. Samar –samar matanya berkabut.

Rang bangun dari kursinya, “anggap saja karena aku seorang gay”.

“Aku sebenarnya tidak tahu kenapa waktu itu tiba –tiba memutuskan untuk loncat ke dalam kereta saat melihatmu akan pergi. Kurasa tak ada yang tersisa lagi di sana, untukku. Aku tak mau jadi seorang Mya yang dikelilingi orang –orang terkuat dan menjadi inspirator geng di sekolah, atau Mya yang menerima bunga setiap hari dari para pemujanya. Aku tak membutuhkan itu”

“Aku hanya melihatmu waktu itu, dan berpikir bahwa aku akan selalu bisa percaya padamu. Kau selalu melindungiku” lanjut Mya.

“Kau ini cuma belagak kuat. Aku setuju penilaian  gurumu itu. Tapi, meskipun begitu kau memang kuat ya, kutinggal di jalan saat tengah malam pun kau tetap bisa pulang ke rumah tanpa kurang suatu apapun” Rang tertawa kecil. “Sihir macam apa itu ?”

“Jadi, untuk alasan apapun, kau tak pernah bisa menyukaiku ya. Walaupun untuk menyenangkan hatiku saja” Mya menundukkan wajahnya diantara kedua lututnya.

“Untuk menyenangkan hatiku, tentu saja” Rang mendekatinya pelan –pelan. Dia berdiri di samping gadis itu. “Apa kau mengira aku seorang yang tak berperasaan?”

“Itu membuatku sakit“ Mya mengangkat wajahnya.

Rang mengulurkan tangannya. “Aku punya satu rahasia. Selama hidupku aku tak pernah mengatakannya pada orang lain”.

*****

Hujan turun lebih deras sekarang.

Mya teringat beberapa bulan lalu, ia mendengar ada perkelahian rahasia di lapangan sepakbola di belakang sekolah. Menjelang malam, ia sengaja tidak pulang dan naik ke atap gedung sekolah. Benar saja, di situ tergeletak Rang dengan wajah penuh luka. “Pak guru menghajarmu” katanya.

Tapi Rang tidak bergerak. Samar-samar hanya didengarnya bisikan, “jika kau menemuiku sekarang, kau akan membuatku lebih parah”

“Aku sendirian kok” Mya tersenyum. “Aku minta semuanya untuk pulang” dia melangkah mendekatinya. Saat itu, hujan rintik –rintik turun dengan cepat. Mya mengambil payung dari dalam tas nya. Dia berdiri di samping laki –laki itu, memiringkan payungnya ke arah Rang, supaya air hujan tak membasahinya. “lihat Rang, hujan turun”

Rang masih diam. Mya mengira laki –laki itu pingsan. Tapi dia melihat jemari tangan Rang bergerak merespon air hujan yang mengguyurnya.

“Aku ingin bisa mengingat banyak hal yang indah saat hujan” Mya memayungi wajah Rang.

“Kalau begitu, jangan kau ingat hari ini”bibir Rang bergerak –gerak. Mya tersenyum lembut. Dia jongkok di samping laki –laki itu. Didengarnya Rang berkata lagi, “Aku masih saja tak paham, kau begitu lemah dan sakit –sakitan tapi bisa menggerakkan anak –anak. Kau bukan memimpin mereka dengan kekuatan fisikmu, tapi dengan matamu itu”

“Kau ngomong apa sih?” Mya mengetuk –ngetuk kening Rang dengan ujung telunjuknya.

Mya terus mengingat percakapan singkat itu. Dia mengira, sekarang semuanya akan berubah, semenjak dia kabur hari itu. Bukan untuk mengikuti Rang pada awalnya. Namun dia berubah pikiran saat tiba di stasiun pertama. Saat Rang menarik tangannya keluar kereta sambil berkata, “jangan jadi orang bodoh”.

“Bodoh?” Mya berjalan mengikuti di belakangnya. Rang menoleh ke belakang, menatap mukanya dengan tajam, “melakukan hal yang bisa merugikan diri sendiri, itu bodoh” jawab Rang. Mya hanya berjalan tanpa sadar mengikutinya.

Pertemanannya dengan Rang bukan dalam hitungan hari atau bulan. Rang bersamanya sejak kecil. Dan seolah ada ikatan khusus yang membuatnya selalu percaya padanya. Bukan rasa seperti pada orang yang disukai, atau dua orang kekasih yang melarikan diri. Tapi Rang satu –satunya orang yang tak pernah melihatnya sebagai wanita terpopuler yang dipuja -puja di sekolah.

Mya tak bisa mendefinisikan ikatan khusus itu. Dia berpikir, bersama Rang mungkin tidak apa –apa. Dia bisa hidup sebagai sahabat Rang selama –lamanya.

Sekarang, Mya seolah –olah sedang bermimpi. Panjang sekali. Dan tiba –tiba saja, sesuatu menyadarkannya. Dia melihat tangan Rang terkepal kuat di dekatnya. Wajahnya tertunduk. Bahunya gemetaran, seperti menahan amarah. “Rang…?” katanya sambil menatap Rang dengan lugu.

Rang menjauhinya. Tatapannya seperti sedih. Mya tak pernah melihat matanya seperti itu. “Mya !” Rang mencengkram kedua bahu Mya kuat –kuat. Lalu mengguncangkannya. Wajahnya terkulai di sisi bahunya. “Apa yang bisa kita pikirkan di usia 17 seperti ini? Menikah? Aku menginginkan hal itu lebih dari apapun. Menikahimu. Aku ingin membawamu, sejak dulu hingga aku selalu takut tak bisa menahan diriku lagi. Apa kau tahu?”

Mya menggelengkan kepalanya.

“Tapi aku hanya bisa memikirkannya” suara Rang menjadi parau.

“Rang” tangan Mya bergetar saat terangkat perlahan -lahan, melingkari bahu sahabatnya itu. Ada senang, dan kepedihan yang menyergapnya bersamaan.

“Aku punya rahasia. Dan karenanya aku tak bisa bermimpi apa –apa”

“Kenapa?”

“Aku mengidap AIDS”

“Kedengarannya aneh. Kukira kau akan mengatakan tentang gay itu”

“Aku mengidap AIDS”

Mya terdiam. Rang mengulang kata –katanya, itu berarti dia tidak berbohong.

“Transfusi darah saat umurku 12 tahun. Aku terinfeksi sejak itu. Aku tak mau menularkannya”

Ruangan itu menjadi sepi. Mya tak bisa bergerak sama sekali. Mereka tak berbicara beberapa saat. Tiba –tiba Mya merasakan matanya perih tak terkira.

Rang mengambil selimut lalu menyerahkannya pada gadis itu. “Aku lelah sekali sekarang. Maaf atas sikapku tadi. Sekarang, kau tidurlah”katanya, dia melepaskan tangan Mya dari bahunya, sama sekali tidak berusaha menggenggamnya sedikitpun.

“Rang….”gumam Mya sambil berdiri pelan –pelan.

Rang menoleh ke arahnya, “Kuberikan hari esok untukmu saja…Mya” katanya lalu dia keluar dari kamar itu. Meninggalkan Mya. Seperti hari –hari yang lalu, sejak mereka bersama melarikan diri. Seperti tak pernah terjadi sesuatu.

Mya bangun dari tempat tidurnya. Lalu tersaruk –saruk menuju ke jendela, memperhatikan sisa –sisa hujan. Dia tak dapat menghilangkan gambaran dirinya saat memakai seragam sekolah, berdiri di depan teman –temannya. Dia tak pernah menangis. Kini dia tak kuasa menahan tubuhnya sendiri. Ia jatuh di lantai. Kesedihan mengambil seluruh kekuatan dan ingatan –ingatannya. Dia menangis tersedu –sedu. Lalu tangisnya makin keras. Dia menangis meraung -raung.

Hatinya terasa begitu sepi. Seolah ada sesuatu yang hilang, direnggut begitu saja darinya. Tapi ia tak bisa berkata apa –apa, juga tak bisa berbuat apa –apa.

Dia baru menyadari, bahwa tidaklah sama apa yang dirasakannya pada Rang dan pada gurunya. Akhirnya ia berbaring di lantai, memeluk selimutnya. Lalu terus menangis, tak berhenti. Baru kali itu ia merasakan kesepian dan kesedihan yang tak dapat ditahannya.

Ia merasa sama sekali tak bisa pulang. Untuk beberapa tahun ke depan, mungkin, ia masih tak bisa mengetahui apapun tentang Rang, selain menjadi sahabatnya sampai waktu penghabisannya. Cara Rang mencintai dan melindunginya adalah misteri yang hanya diketahui oleh Rang sendiri. Meskipun ia tak memahaminya, tapi ia mencintai seluruh sisa hidup Rang.

(tamat)

3 thoughts on “Rain On a Beautiful Day

  1. Dulu kuliah di Bandung juga Ma’am, kampusnya yang mungil, samping kebun binatang Bandung🙂 Sekarang mobile dulu, “being capitalist” soalnya😉.

    Soal budaya Sunda dan legendanya, iA saya paham. Sering nongkrong di Rumah Buku Hegarmanah 52, buat diskusi budaya, sambil menggali literasi yang berbobot.

    Eh, orang Sunda kan ya ? Kalau boleh, tolong dong, tuliskan soal budaya, sejarah, literatur ( sastra), dan adaptasinya, dengan budaya luar. Saya pendatang sih, dari Jawa Tengah, dan kerasa banget dulu, beda kulturnya. Saya sudah koleksi beberapa riset soal budaya Sunda, tapi tetap butuh masukan dari orang Sunda yang suka menulis, lebih taktis pastinya kan ya?

    Baiklah Ma’am, terima kasih atas diskusinya. Saya menunggu hasil pemikiran soal budaya Sunda, di blog ini.

    Terima kasih🙂

    Like

  2. @echa
    terimakasih mbak, salam kenal juga🙂

    @maximillian
    sebenarnya ini mesti dipindah ke ruang kontak biar ga OOT, tapi tak apa-apalah:mrgreen:
    iya, insya Allah secepatnya. Materi sedang dipersiapkan.
    walau sebenarnya saya tdk begitu expert ttg budaya sunda lho, bisa dibilang yah…blm tau apa -apa, apalagi sejarah. Sekarang sedang mulai tertarik aja pda beberapa hal ^_^

    btw, eh, nama Maximillian ini saya suka lho, dan kebetulan saya memakainya utk karakter (draf) novel saya yang ga selesai2 itu..pdhl udah saya buat dari tahun kapan ituu…😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s