Pembebasan Pikiran

“Semakin banyak yang aku tahu, semakin jauh aku dari kebenaran”Masalahnya adalah, bagaimana kita tahu dan yakin bahwa itu benar ? jika demikian, berarti kita sudah tahu tentang kebenaran, tetapi kadang kita tidak mendekat atau menuju padanya –tetapi malah berbalik arah menjauh daripadanya. Perasaan seperti ini tidak membebaskan, tapi membelenggu; yakni saya sudah tahu apa yang benar (yang juga dibenarkan oleh mayoritas orang, dari aspek apapun), tetapi dengan sadar –sesadarnya saya semakin menjauh dari kebenaran tersebut, dan merasa bahwa diri sendiri sudah tersesatkan. Maka diri pun didera rasa bersalah –sebuah penghakiman pada diri sendiri, meyakini apa yang dilakukan salah tapi tidak bisa meninggalkannya. Diri saya pun menjadi terombang –ambing seperti daun tertiup angin.

Pembebasan pikiran adalah, meyakini bahwa apapun yang dilakukan adalah benar menurut diri kita sendiri, tanpa dipengaruhi kebenaran mayoritas orang. Selama itu tidak menganggu orang lain, kita sudah berbuat benar. Tak peduli dunia menghakimi kita seperti apa. Diri kita terbebaskan dari rasa bersalah yang tidak perlu, karena dengan penuh keyakinan melakukan semua hal. Kita sudah punya arahan pilihan –jalan kehidupan yang akan kita tempuh.

Apakah saya sudah berada pada titik kebenaran itu? Sebenarnya jawaban itu pada diri saya sendiri. Orang akan menjawab ya atau tidak sesuai keyakinan mereka. Karena apa yang kita anggap benar, tidaklah akan dianggap sama oleh semua orang. Jadi jika kita selalu terpengaruh oleh keyakinan orang lain, kita tak akan pernah menemukan diri sendiri pada kebebasan yang sebenarnya.

Tetapi, pengetahuan kadang menakutkan. Semakin banyak yang kita tahu, beberapa hal akan terkuak dan kadang itu membuat keyakinan kita berubah. Ketakutan muncul karena saya tidak siap menerima kenyataan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Pada awalnya mungkin tidak pernah terpikirkan, tetapi setelah menemukan beberapa hal baru, pikiran dijejali dengan pertanyaan –pertanyaan menggelisahkan. Tiba –tiba saya takut untuk berpikir lebih jauh karena itu sepertinya membuat saya tersesat. Karena saya merasa itu tidak akan dibenarkan oleh mayoritas orang. Inilah yang membuat saya tidak berkembang. Tidak terbebaskan.

Sekarang, pilihannya ada dua, tetap membiarkan diri terbelenggu oleh pemikiran –pemikiran yang dipengaruhi kebenaran mayoritas orang, ataukah membebaskan pikiran dengan penuh percaya diri dan terus belajar berpijak pada pikiran sendiri tanpa intervensi siapapun ?

4 thoughts on “Pembebasan Pikiran

  1. Kalau menurut saya pribadi, di balik kebenaran mungkin ada kebenaran lagi, kebenaran di sini bukan berarti selalu kebenaran yang lama menjadi salah, mungkin kebenaran yang lama kurang sempurna. Bisa jadi kan?

    Yang jelas, dalam mengejar ilmu, tidak perlu kita khawatir akan keimanan kita, jikalau kepercayaan kita jadi goyah anggap saja berarti ilmu kita belum sempurna, dan itu akan senantiasa membuat kita untuk belajar dan belajar lagi, meneliti dan meneliti lagi, agar tiap waktu semakin baik. Ya, itu yang lebih penting, semakin baik, bukan mencapai kebenaran yang mutlak atau sempurna.

    Like

  2. Truths are not relative. What are relative are opinions about truth.Human kill each other to fight for our opinions of truth

    We will confirm our opinions by meeting the absolute truth, we don’t really know when it will come to each of us.Just don’t kill your opponent to win your opinions

    Like

  3. Aku melihat kebenaran itu laksana cahaya. Semakin ia mengisi “ruang” pemikiran dan batin kita, semakin bertambah keyakinan kita. Dan tanda yakin itu adalah ketenangan yang menyelimuti segenap jiwa-raga kita. Tapi kebenaran menurut daya “tangkap” atau daya “penyingkapan” kita (manusia) memang tak pernah sempurna karena di dalamnya selalu ada keraguan terhadap pencapaiannya itu. Tentu hanya Tuhan saja yang menggenggam kebenaran absolut… Karena itu, mendapatkan secercah cahayaNya saja sudah merupakan keberuntungan yang besar……… karena(paling tidak) arah untuk mencapai kebenaran itu telah jelas dan pasti. [jangan pernah menghindar untuk berdaya-upaya untuk mencapainya, karena Kebenaran pasti akan menarikmu ke arah-Nya]

    Like

  4. @Yari NK
    iya, saya ingin terus belajar tanpa dikejar rasa takut. Takut apakah ini hal yang benar atau tidak🙂

    @Kang Maximmilian
    ah, sepertinya saya menemukan sebuah gagasan menarik dari pernyataan anda. Jadi, jika kebenaran itu sesuatu yang mutlak, lalu siapa yang mengetahui kebenaran tersebut sedangkan manusia selalu memiliki opini yang berbeda mengenai kebenaran?
    ataukah hanya cukup beranggapan bahwa apa yang kita yakini sudah merupakan sebuah gagasan yang benar ?

    @MJ
    Terima kasih, sangat menyejukkan🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s