Sapi dan Kambing

Katanya, sapi dan kambing adalah salah satu jenis hewan yang sudah ditaqdirkan untuk dikonsumsi oleh manusia. Mereka halal, jika dibunuh dengan cara yang benar menurut syariah islam, dan keduanya juga sudah ditaqdirkan untuk menjadi hewan yang bisa dikorbankan pada hari raya idul adha. Di kurbankan, artinya disembelih untuk dikonsumsi manusia, dan melakukannya merupakan ibadah.

saya melihat sapi –sapi dan kambing ini di depan sebuah masjid di kompleks perumahan kawan saya. Masyarakat –ibu –ibu, bapak –bapak, anak –anak, berkumpul menyaksikan momen itu dengan penuh sukacita. Takbir bergema dimana –mana. Saya sebenarnya merasa harus menjauhi tempat itu, karena saya sampai saat ini tidak tahan melihat darah –apalagi darah segar yang langsung mengalir dari dalam tubuh. Tetapi kawan saya mengatakan, mungkin ini bisa menjadi terapi? Tidak, sebenarnya hati saya dipenuhi dengan hal –hal yang tidak saya mengerti sampai saat ini.

Sejak kecil saya tak pernah sanggup melihat penyembelihan hewan –pun itu jika ayah saya menyembelih ayam di belakang rumah. Ketika idul adha tiba, saya menjadi sangat asosial; diam saja di dalam rumah. Jika ibu saya meminta saya bergabung dengan masyarakat untuk melihat momen pemotongan hewan kurban, saya hanya melihat dari jauh –melihat bagian kakinya saja. Saya tidak kuat melihatnya. Dan juga bau.

Kemarin, di depan masjid itu, saya coba melihat lebih dekat. Kambing –kambing itu mengembik saat diseret ke tempat penjagalan. Dibawahnya telah dibuat lubang, diatas tanah, untuk menampung darahnya nanti. Apa kira –kira arti embikan kambing itu? Apakah benar mereka telah pasrah untuk dibunuh karena takdirnya sudah begitu? Matanya mendelik ke atas saat tubuhnya dibaringkan di atas papan. Kakinya mengejang –ngejang keras saat golok menempel di lehernya.

Sampai titik itu saya menjauh. Saya hanya melihat kaki dan kaki kambing itu mengejang kuat –kuat, sekarat menjemput ajal. Darah sudah memancar ke sisi –sisi lubang. Saat dia diangkat untuk dipancung lehernya, ternyata dia masih hidup. Kepalanya bergerak –gerak, mukanya menghadap ke jalan jadi saya bisa melihatnya. Saya tak kuat, lalu berdiri mematung tak bisa berbicara di pinggir jalan kompleks.

Sapi lebih mengerikan lagi. Karena ukurannya lebih besar, perlu lebih banyak orang yang memegangnya. Saya mendekat sapi –sapi yang diikat di tepi jalan yang lain. Mereka gelisah, bergerak kesana –kemari. Kasihan kau sapi, sebentar lagi kau akan mati, pikir saya. Saya memandang sapi –sapi itu. Salah satunya ditarik dengan susah payah oleh banyak laki –laki. Sangat sudah membaringkannya di tepi lubang. Sekitar mulut dan hidungnya sudah memar karena berontak. Akhirnya sapi itu kalah,dan terbaring pasrah. Takbir berkumandang dan golok disiapkan. Lagi –lagi saya tak sanggup melihatnya. Mata sapi itu mendelik.

Saya berlari menjauh. Tapi tiba –tiba suara sapi itu seperti sangat kesakitan. Suaranya aneh, saat dia sekarat. Dia  terus bersuara, macam orang yang susah nafas dan hampir putus urat lehernya. Kawan saya juga heran, kenapa suara sapi itu terus menggema, mungkin dia sedang sekarat. Saya tidak tahu kapan mulainya, tapi saya merasa pipi saya sudah basah. Saya menutupi muka dan beristirahat di pinggir jalan. Saya menangis. Baru kali itu saya melihat ritual penyembelihan hewan (untuk kurban atau untuk apapun) secara langsung. Apalagi sapi. Dan itu adalah pemandangan yang menyedihkan. Entah kenapa. Apakah saya orang yang mulai tipis imannya?

Ya Allah, saya hanya kasihan pada hewan –hewan itu. Itu saja. Walaupun, katanya sunatullah untuk memakan daging hewan, apalagi untuk kurban kepada –Mu, tapi saya tetap sedih dan gelisah. Engkau Maha Penyayang pada seluruh makhluk, dan mungkinkah itu cara Engkau menyayangi mereka?

Seperti biasa, tahun ini pun saya tidak memakan daging kurban. Sebenarnya bukan hanya pada momen idul adha sih, tapi kebiasaan sejak kecil di keluarga; tidak dibiasakan mengkonsumsi daging. Kecuali kalau ayah baru gajian, kadang -kadang membeli daging ayam atau menyembelih ayam. Tapi itupun sangat jarang.  Walau tidak berniat menjadi vegetarian, tapi itu hanya kebiasaan saja, sejak kecil. Dan sekarang barulah saya tahu, bahwa saya memang tidak suka daging merah.

Sehabis penyembelihan itu, saya pulang dengan semakin banyak pertanyaan memenuhi kepala.

10 thoughts on “Sapi dan Kambing

  1. just wondering.. apakah tumbuhan juga punya nyawa😕. Ah pasti punya yaa, toh mereka hidup😀. Tapi gimana ya perasaan mereka ketika ditebas dan dicincang-cincang. Kalau hewan bisa berekspresi menghadapi kematiannya, tapi kalau tumbuhan.. mungkin mati dalam diam😦

    *ngayal*

    Like

  2. begitulah, miz.
    lalu manusia mesti makan apa dong?
    hewan terlihat lebih sadistic karena mereka bersuara dan berdarah. tapi tumbuhan tidak, tapi mereka juga hidup.
    hehe, makan batu aja yah:mrgreen:

    Like

  3. Iya yaa, kalau mikir begitu terus ntar jadi ga bisa makan apa-apa:mrgreen:. Mungkin memang sudah dari sononya siy hukum alam siapa yang lebih kuat dia lah yang memakan yang lemah. Apalagi karena populasi manusia sekarang ini mendominasi bumi, jadinya kita yang memangsa spesies-spesies lain. Coba dulu kaya jaman dinosourus, justru manusialah yang dimangsa.. mungkin:mrgreen:.

    Like

  4. @mizzy
    hehe…mau gimana lagi, kalau tidak memangsa daging, ya tumbuhan. Roti, ubi, atau yang lainnya pun kan tetap dari tumbuhan juga. Apapun makanan kita, tetap berasal dari makhluk hidup. Tapi kenapa kalau ke tumbuhan dan sejenisnya (selain hewan) itu tidak terlihat sadis yah? hanya tetap beresiko juga, misal sayuran beresiko kena racun pestisida:mrgreen:

    @bang al
    oh, pake ‘f’ bukan ‘v’ toh?😕

    Like

  5. sedari dulu sejak bumi ada, masing2 sudah menjadi pemakan utk makhluk lain, seiring perkembangan manusia punya akal tentunya mereka melihat yg mana saya yg pantas utk dikonsumsi. Seandainya kita tidak punya akal, mungkin saja manusia dengan manusia lainnya sudah saling memakan:mrgreen: *halah, koq ngomongku sampe segitu😀 hahaa*

    Like

  6. –achoey-
    halo, kabar baik?
    iya, semangat !!!

    –arul–
    kemungkinan begitu. bisa dibayangkan di masa depan mungkin saja terjadi hal kyk gitu? serem

    –life begin at now–
    salam🙂

    Like

  7. Tumbuhan dan hewan diciptakan Tuhan untuk dikonsumsi manusia dalam jumlah wajar, dengan cara yang wajar.
    Yang tidak wajar, misal kepala sapi & kambing dipukul pakai batu maka dagingnya tak boleh (haram) dimakan. Kenapa? Selain tidak boleh menurut agama ternyata secara kesehatan juga tidak baik. Bisa cek pakai “google search”.

    Yang jelas tidak boleh adalah “manusia makan manusia” seperti yang kini dilakukan kaum serakah zionist.

    Salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s