Yang Mati Hari Ini

“Sudahlah. Jangan menangis lagi”aku mengingat kalimat itu sebelum tidur tadi. Tetapi aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sesudahnya. Ibu menyelimutiku dengan tenang, dan aku tertidur. Rasanya aku sudah sangat tenang waktu itu.

Tapi sekarang aku bangun di suatu pagi tanpa mengingat apapun. Rumah sangat sepi, tanpa siapapun. Ayah, ibu, adik, kakak, dan kucing kesayanganku tidak kelihatan. Apakah mereka sedang liburan keluar dan meninggalkanku?

Ah, udara dingin sekali. Tak pernah sedingin ini. Kemarin cuaca masih kemarau, dan rumah selalu terasa panas. Tapi sekarang telapak tanganku seperti bongkahan es saja. Aku bangun pelan –pelan. Aduh, kepalaku sakit sekali. Tubuhku terasa lebih ringan, dan aku seolah –olah melayang tertiup angin. Mungkin ini pengaruh berat badan yang menurun drastis beberapa minggu ini.

Aku membuka jendela. Ah, ini memang sudah terang. Tapi kenapa matahari belum muncul? Aku tak bisa merasakan hangatnya sedikitpun. Sebenarnya, jam berapa ini? Aneh sekali. Di luar pun sangat lengang. Aku tak melihat apa –apa. Kota seakan –akan baru saja ditinggalkan oleh para penghuninya. Keseluruhannya berwarna kelabu, dan langitpun begitu. Aku kedinginan. Aku ingin melihat matahari.

Aku memanggil orang –orang rumah. Tapi tak ada jawaban. Bahkan suara hewan pun tidak aku dengar. Aku tak mendengar apapun: suara air, angin, langkah kaki, desiran pohon, kendaraan, atau apapun. Aku tak bisa mendengar kehidupan.

Di atas meja, di ruang tengah ada setumpuk Koran. Aku mengambilnya. Oh, ini koran kemarin. Di depannya ada berita yang sangat mengerikan; kematian seorang wanita yang kemungkinan bunuh diri di kamarnya sendiri. Ah, berita pun sangat kelam. Aku harus mencari orang –orang rumah. Aku sangat lapar dan takut. Aku sendirian di sini. Tapi kemana mereka?

Aku membuka pintu depan rumah. Udara semakin dingin. Rasanya angin masuk ke dalam tubuhku, menyatu dengan seluruh tulang dan dagingku. Aku berlari ke jalan yang sepi. Tidak ada seorangpun. Aku memanggil ibuku, tapi tidak ada jawaban.

Lalu kulihat samar –samar ada beberapa orang berjalan menuju ke sebuah tempat. Ah, mungkin itu tetanggaku, dan aku harus bertanya pada mereka. Aku berlari mengejar orang –orang itu. Anehnya, mereka menuju ke arah…pemakaman. Ya, aku yakin sekali, jalan ini menuju ke kompleks pemakaman di desaku.

Siapa yang mati hari ini?

Aku berlari mengejar mereka. Di kompleks itu ternyata sudah dipenuhi orang –orang yang mengantar jenasah. Mereka mengelilingi sebuah kuburan yang tampak baru saja dirapikan. Prosesi penguburan sudah selesai, dan mereka sedang mengucapkan doa-doa. Dan, hei, di sana ada keluargaku juga. Semuanya. Oh, seluruh keluarga besarku bahkan ada semua. Mereka tampak sangat berduka. Ibuku menangis tak henti-hentinya di samping ayahku.

Aku mendekat.

Tapi aku tak bisa melihat nisannya, orang –orang di depanku menghalangi pandanganku. Aku menyelinap diantara mereka, bahkan menyenggol beberapa orang karena memaksa lewat. Tapi mereka tak menghiraukan aku.

Aku melihat nisan itu akhirnya.

Namanya memang sudah sangat kukenal.

Itu adalah namaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s