Karena Cinta ?

Contoh terdekat untuk melihat hubungan bertahan lama adalah dari dalam rumah sendiri; bapak dan ibu saya. Belakangan saya berpikir, apakah mereka menikah dan tetap berkomitmen untuk tetap bersama, setidaknya sampai sekarang, adalah karena cinta? Saya tidak pernah tahu itu.

Tiga puluh tahun lebih bukan waktu yang sebentar dalam sebuah hubungan. Apakah bapak maupun ibu pernah berpikir untuk menyukai orang lain dalam periode tersebut ? masing –masingnya sudah pernah hidup bersama dengan orang lain sebelum itu, dan apakah mereka merasa adanya kecocokan? Ataukah karena sudah merasa semakin tua jadi tidak selayaknya untuk berpisah kalau bukan karena hal yang bersifat prinsip ?

Ibu saya sepertinya tetap bersama dengan bapak bukan karena rasa cinta yang menggebu –gebu layaknya orang muda bercinta. Mungkin pada awalnya karena ketertarikan manusiawi, tapi perasaan menggebu –gebu seperti itu bisa bertahan berapa lama sih? Manusia itu pembosan dan mudah berubah. Ya benar, perasaan manusia mudah sekali berubah. Makanya ada orang yang bilang jangan percaya pada perasaan.

Tapi, apakah karena perasaan sangat mudah berubah menjadikan kita selalu sangsi bahwa kita sebenarnya bisa percaya pada seseorang dan tetap bersama dengannya walaupun perasaan yang pertama muncul dahulu sudah berubah? Kita mungkin tidak melakukan perselingkuhan, menginginkan orang lain, tetapi perasaan yang menggebu –gebu itu memang lama kelamaan akan berubah.

Ibu saya bisa saja memilih untuk tidak lagi bersama bapak dan memilih orang yang bisa memberikan jaminan materi lebih dari bapak, atau bisa saja bapak meninggalkan ibu demi orang lain yang mengejar dirinya, yang lebih cantik, lebih muda. Tapi mereka tidak pernah melakukan itu. Bukan karena alasan relijius. Ibu sangat polos dan memiliki pikiran –pikiran sederhana. Beliau tetap memutuskan untuk terus bersama dengan bapak karena bapak telah banyak berbuat baik kepadanya. Ibu menghormatinya sebagai partner menghadapi kehidupan yang semakin keras. Bapak juga sangat respek pada ibu dengan segala sifat yang ada padanya. Karena ibu sudah membesarkan anak –anak dengan baik. Itu saja.

Selama saya hidup, dibesarkan dalam keluarga dan rumah tangga mereka, saya tidak pernah melihat adanya kemarahan yang berlebihan. Apalagi sampai kontak fisik. Tetapi tidak juga penuh romantisme menggebu, seperti ucapan sayang, perlakuan –perlakuan istimewa seperti saat awal menikah. Saat ibu marah pada saya sampai saya menangis, bapak berkata “karakternya memang seperti itu, cara bicaranya berbeda. Pahamilah dia”. Betapa ia bisa menerima kondisi Ibu, dan itu wajar untuk orang yang sudah bersama puluhan tahun kan? Yang luar biasa adalah karena mereka bisa tetap bertahan dengan berbagai macam perbedaan tersebut.

Emosi –emosi itu akhirnya matang dengan berbagai pelajaran dalam men-toleransi perbedaan mereka. Bapak dan ibu saling percaya. Itulah. Keduanya tidak menempatkan rasa sayang pada pasangannya secara berlebihan sehingga menimbulkan ketakutan bahwa suatu saat bisa saja mereka ditinggalkan. Demikianlah apa yang  dikatakan seorang penceramah, bahwa suami –istri itu, dalam konteks akidah, hanyalah manusia yang saling melengkapi. Maka rasa sayang pun diberikan sewajarnya saja. Karena suatu saat semua akan berubah, dan kebersamaan akan berakhir. Tidak terikat secara buta, sehingga tidak bisa melepasnya saat itu tiba.

Ibu pernah berkata, “jika ibu dan bapak tidak bersama lagi, ibu akan pulang ke tempat dimana ibu bisa pulang. Siapapun yang pergi lebih dulu diantara kami, ibu punya tempat untuk pulang” diucapkan dengan tenang tanpa beban. Perasaannya tidak terikat apapun. Mereka jenis orang yang setia pada komitmen, dan tidak mengingkarinya karena tidak punya alasan untuk melakukannya. Saya bergumam dalam hati, “cinta sehidup semati itu hanya berlaku dalam dongeng. Karena saat orang yang berharga bagi kita meninggal atau pergi, kita akan tetap melanjutkan hidup. Kesedihan hanya sementara. Dan kita pasti bisa melakukannya”.

Saya pikir, ya kita bisa tetap setia dan bertahan bersama seseorang walau tanpa gombalan cinta dan perasaan menggebu –gebu. Kita menginginkan untuk tetap bersama dia, dan percaya kepadanya. Kita bisa menghargai segala kebaikannya, menghormati dia sebagai manusia, dan belajar menerima serta melibatkan diri dalam kehidupannya. Karena pada dasarnya kita amatlah egois. Memilih tetap bersama, berarti kita belajar memahami dan menyiasati perbedaan menjadi indah. Memilih berpisah atau terpisah karena maut, kita tetap akan hidup karena kita tak pernah memberikan diri dan perasaan kita secara utuh.

 

 

 

 

 

8 thoughts on “Karena Cinta ?

  1. Gimana supaya bisa bertahan begitu lama?

    Tetap menghargai pasangan, dan menerima apa adanya masing2 individu.🙂
    Tentu, dalam keluarga aspek agama gak bisa dikesampingkan.🙂

    Like

  2. Pingback: G o m b a l « Yang Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s