Suamiku

Aku tidak ingat bagaimana mulanya ini bisa terjadi. Seperti mimpi –tiba –tiba kau sudah berada di sana tanpa tahu awalnya. Aku memasuki pintu rumah dari depan, dan tiba –tiba aku seperti berada di dunia lain. Rasanya bentuk rumahku berubah –aku ingat detil rumahku, dan ini jelas ruangan yang tidak kukenal.

Di ruangan depan tampak kesibukan. Banyak orang berlalu –lalang. Banyak makanan dan perabotan rumah tangga berserakan di tiap sudut ruangan. Suara berisik, orang –orang tertawa, berbicara, dan sibuk mengurusi sesuatu. Di dapur juga begitu. Ini seperti sisa –sisa ritual sebuah resepsi. Memangnya mereka sudah atau sedang merayakan apa?

Lalu aku melihat ibuku mendekatiku, “kamu kemana saja?”tanyanya. Dia juga tampak sangat sibuk.

“Aku? Tidak kemana –mana”

seseorang muncul di belakang ibu. Ibu menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Orang itu juga tersenyum. Dia menghampiri kami. “Siapa dia?”bisikku pada ibu.

“Lho, apa maksudmu? Dia kan suamimu”ibu memandangku dengan aneh.

Suamiku?

Aku tak mengerti apa yang dikatakan ibu. Memangnya akan aku menikah? Bahkan aku baru melihat dia seumur hidupku. Aku juga tidak tahu namanya. Bagaimana mungkin tiba –tiba dia adalah suamiku?

Laki –laki itu berbicara dengan ibuku. Dia seorang yang ramah tampaknya; secara keseluruhan dia biasa –biasa saja dan bicaranya lembut. Kau bisa menyebutnya sebagai seorang laki –laki yang baik. Tubuhnya sedikit gemuk, kepalanya botak dan matanya menyilaukan. Dia tipe orang yang bila kau memandangnya, kau tidak akan bisa tahu apa yang sedang dipikirkannya. Kadang senyumnya tampak tidak berperasaan. Aku sama sekali tidak mengenal dia. Dan itu menakutkan.

Kata ibu, dia adalah suamiku. Kami baru saja menikah kemarin pagi. Tapi aku tidak ingat sama sekali. Mungkinkah sesuatu yang jahat telah mengambil ingatan –ingatanku hari kemarin ?

Aku merasa tidak tenang. Aku terus memikirkan hal itu –bertanya –tanya dalam hati kenapa aku tak bisa mengingatnya. Ibuku terlampau berbahagia, dan pertanyaanku mungkin akan merusaknya. Orang –orang seolah tak peduli dengan keberadaanku. Apakah hanya aku seorang yang tidak bisa mengingat resepsi pernikahanku sendiri? Aku hanya bisa tersenyum pada laki –laki itu, dan berusaha sekuat tenaga mengingat sedikit saja tentangnya. Tapi tidak berhasil.

Pada malam harinya, kesibukan sudah berakhir. Rumah sudah bersih dan orang –orang sudah pergi. Ibu menunjukkan kamar tidurku. Kamar itu asing, luas, dan beraroma melati. Tempat tidurnya besar –pasti sudah didesain untukku dan lali –laki itu. Hiasan –hiasan bunga masih menempel di sekeliling ruangan. Aku merasa ini tidak benar. Aku mengambil selimut dan bantal, lalu mengetuk pintu kamar sebelah yang terdengar agak ramai. Mereka membukakan pintu dan memandangku dengan heran.

“Ikut tidur di sini”kataku. Tanpa bicara apa –apa lagi, aku berbaring di lantai bersama mereka. Bergelung dalam selimut. Mereka lantas tertawa –tawa dan menggodaku.

“Apa kalian tahu kenapa aku bisa menikahinya?”tanyaku pada salah seorang teman perempuanku.

“Hahaha. Bicaramu itu lho. Bukankah beberapa bulan lalu kamu membawa laki –laki itu ke rumah dan berkata pada orang tuamu –aku membawanya dari langit. Kami tidak akan tahu alasannya sebaik kamu mengetahui alasan kamu sendiri. Kamu telah memilihnya”.

Aku membawa kata –kata mereka sampai tertidur, sambil berharap bahwa besok pagi ingatanku akan kembali.

Aku bangun agak siang. Rumah sudah sangat sepi. Ibu sibuk sendiri di  dapurnya. Aku masih tidak ingat tentang pernikahanku. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebelum mengganggu ibu dengan pertanyaan –pertanyaan yang telah kupikirkan semalaman, aku mengambil sapu ijuk. Aku menyapu teras belakang. Pada waktu itu, suamiku (mereka memanggilnya suamiku) melintas di depan jendela. Dia melihatku sebentar. Kulihat dia membawa sikat gigi. Aku masih mengenakan baju tidur tak karuan, agak kaget, cepat –cepat aku bersembunyi di balik daun jendela. Ah, tapi kan dia suamiku.

Ah, ya siapa nama orang itu? Dia tak pernah berkomentar atas perilaku diriku yang ganjil. Ataukah jangan –jangan dia juga sama ganjilnya? Agaknya kehidupanku terlalu datar. Kami menjalani kehidupan masing –masing seolah semua sudah direncanakan seperti itu. Kami tidak saling memiliki.

Dia sibuk dengan urusannya sendiri; pagi –pagi sudah rapi menenteng laptop lalu pergi bekerja ke luar kota. Kami hanya berkenalan layaknya teman baru, dan berjabat tangan. Itu saja. Aku juga akan sibuk dengan pekerjaanku yang lama.

Kami sama sekali tak pernah berbicara.

Tetapi orang –orang mengatakan aku sudah punya suami. Bisakah seseorang membuatku ingat kalau memang aku sudah melakukan itu ?

[ cerita dari sebuah mimpi tahun 2009 lalu, yang masih saya ingat detilnya].

2 thoughts on “Suamiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s