Berkenalan dengan tubuh sendiri

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang perempuan, istri sahabat saya, yang baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor. Tumor nakal itu tumbuh di tempat yang tidak diduga –duga. Beliau bercerita bahwa pada awalnya merasakan adanya sebuah benjolan kecil aneh pada bagian tubuhnya. Tidak sakit. Makanya dibiarkan saja sambil berharap bahwa itu hanyalah benjolan biasa yang akan hilang dengan sendirinya, ataupun kalau tetap ada, bentuknya akan tetap seperti itu.

Tetapi ternyata benjolan itu makin besar, dan mulai terasa sakit. Beliau sudah mulai curiga bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Tetapi ternyata butuh berbulan –bulan untuk mengumpulkan keberanian menghadapi vonis dokter; tumor. Karena merasa takut pada kebenaran yang akan dihadapinya nanti, beliau memilih diam. Dan setelah benjolan itu semakin menyiksa, barulah keberanian itu muncul.

Saya berpikir, seandainya dari sejak awal –masih berupa benjolan kecil, beliau sudah memeriksakan diri ke dokter, rasa sakit itu tidak akan berkepanjangan. Dan tetap saja harus dihadapi, tanpa berkurang sedikitpun. Tetapi yang penting, sekarang beliau sudah dalam tahap penyembuhan.

Dan saya berpikir juga, bahwa saya sekarang memerlukan cermin yang lebih besar dan panjang !

Agar saya bisa melihat keseluruhannya.

Apakah anda sudah mengenali tubuh anda dengan baik? Mengenali setiap inci-nya, tanpa terlewat sedikitpun. Setiap lipatan, setiap lekukannya. Sehingga anda tahu persis secara fisik bentuk anda seperti apa. Tahu dengan pasti setiap benjolan, bekas luka, noda –noda, atau apapun yang tampak di kulit.

Kesadaran saya untuk berkenalan dengan tubuh sendiri, dimulai sejak kecil. Saya tahu bahwa saya perempuan. Tapi hanya itu saja. Saya tumbuh menjadi seorang anak yang agak tomboy dan sangat cuek terhadap penampilan dan kondisi tubuh. Saya diciptakan dengan begitu adanya, dan semua orang juga begitu, jadi saya tidak perlu terlalu memikirkannya.  Pikir saya waktu itu.

Tetapi kemudian, saat semakin besar –walau tidak terpengaruhi oleh teman –teman gadis lain yang sangat protektif menjaga penampilan dan kecantikannya, seorang teman suatu ketika memegang tengkuk saya pelan –pelan. Saya merinding dan hampir saja melompat dengan jantung nyaris copot. Dia tertawa, “…reaktif terhadap sentuhan, ya?”. Ini kali pertama saya menyadari sesuatu.

Ternyata selama ini saya sama sekali tidak mengenali tubuh sendiri. Melihat secara fisik mungkin sering, tetapi saya tidak tahu apa yang bisa ditimbulkannya. Banyak pusat syaraf yang bisa menimbulkan rasa tertentu. Dan ya, inilah kesadaran yang terpenting bagi saya; ternyata tubuh perempuan itu adalah sebentuk gumpalan –gumpalan daging yang dipahat dengan indah sekali. Demikian indahnya. Secara alamiah, dia terus berkembang menjadi lebih indah. Dan kita akan bisa tahu apa yang harus dilakukan ketika sudah mengenali tubuh sendiri –apa yang ingin kita rasakan darinya.

Tubuh kita adalah milik kita sendiri, dan yang bisa mengenali dan menjaganya dengan baik adalah diri kita sendiri. Suatu saat, tubuh akan aus dan berkurang segala fungsi –fungsi –nya. Setelah mendengar cerita istri teman tadi, saya jadi merasa perlu untuk selalu melihat dan memeriksa seluruh bagian tubuh secara rutin. Menjaganya agar tidak terjadi sesuatu yang bisa merugikan saya kelak.

One thought on “Berkenalan dengan tubuh sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s