Biksu dan Penjual Bunga

Biksu dan Penjual Bunga

Oleh : Emina

Ada seorang perempuan penjual bunga di sudut kota ini. Dengan dandanan sederhana, dan sepasang sandal gunung di kedua kakinya, dia berdiri di tepi jalan diantara deretan penjual bunga lainnya. Dia melalui pagi dan sore hari, menenteng keranjang kecil berisi bunga yang sudah dipisahkan dalam tangkai –tangkai kecil. Bunga yang dijualnya hanya satu jenis : mawar merah. Mawar –mawar itu masih segar, warnanya menyala –nyala tertimpa sinar matahari.

Anehnya, dia tidak menawarkan mawar –mawar itu pada setiap orang yang melewatinya di tepi jalan itu. Dia hanya berdiri saja; maka tak banyak yang membeli bunganya. Bahkan hari itu, ia belum menjual satu tangkai pun.

Seorang laki –laki menghampirinya, “bunga mawar itu indah sekali. Warnanya memikat”katanya.

“Iya begitulah. Ini mawar yang sangat istimewa”jawab si penjual bunga.

“Oiya? Istimewa bagaimana? Rasanya dimana –mana bunga mawar sama saja. Tapi yang ini memang tampak segar sekali”

“Ini bunga yang istimewa. Karena ketika anda menghirup harumnya, anda akan melihat surga”

Laki –laki itu mengangkat alisnya. Lalu meledaklah tawanya, “bagaimana itu bisa terjadi? Kau ini bisa saja promosinya”

“Saya tidak bercanda. Saya mengatakan hal yang benar; ini mawar yang langka. Segarnya abadi, dan anda akan melihat surga”sahut si penjual bunga dengan mantap.

“Baiklah, baiklah. Kalau begitu saya beli satu tangkai”

Perempuan itu menggelengkan kepalanya, “maaf, saya tidak bisa menjualnya kepada anda”.

Laki –laki itu menatapnya dengan heran, “lho, bukankah kau menjual bunga itu? Dan tadi kau bilang itu bunga yang istimewa pada saya. Bukannya kau ingin saya membelinya?”

“Tidak. Saya hanya memberitahu anda saja. Tapi saya tidak bisa menjualnya pada anda”

“Lho kau ini bagaimana sih? Seorang penjual bunga seharusnya menjual bunga pada siapapun yang berminat pada bunganya. Bukankah itu tujuanmu berada di sini?”

“Saya berhak menjual bunga ini pada orang yang saya inginkan. Dan saya tidak bisa menjualnya pada anda”

“Kenapa?”

“Saya tidak bisa mengatakan alasannya”jawab si penjual bunga dengan keras kepala.

“Dasar orang aneh…”laki –laki itu tiba –tiba merasa amat kesal karena merasa dipermainkan. Lalu dia pun segera berlalu meninggalkan si penjual bunga. Sekali –kali ia masih menoleh pada perempuan itu, mengomeli keanehannya dan kerena ia merasa sangat tidak dihargai sebagai seorang pembeli.

Dan begitulah, siang pun cepat sekali berlalu. Tak ada satu tangkaipun yang ia jual.

Menjelang sore, perempuan itu berjalan pelan –pelan meninggalkan tempat tersebut. Ia bermaksud untuk pulang. Beberapa langkah dari situ, dillihatnya seorang laki –laki botak mengenakan kain coklat muda sedang berbicara penuh semangat diantara anak –anak kecil di tepi jalan. Rupanya laki –laki itu adalah seorang biksu muda.

Beberapa menit ia memperhatikan biksu itu. Sang biksu sedang membacakan sebuah buku pada anak –anak tersebut. Anak –anak itu mendengarkannya dengan penuh minat. Samar –samar didengarnya sang biksu menceritakan beberapa kisah dongeng dari buku tersebut. Sebuah dongeng yang ia-pun pernah mendengar di masa yang sudah lama ia lupakan.

Perempuan penjual bunga itu duduk di sebuah kursi kayu, masih mendengarkan sang biksu bercerita. Tanpa sadar ia sudah berjam –jam di sana. Setelah biksu itu selesai bercerita dan anak –anak berhamburan entah kemana, ia menghampiri biksu muda tersebut.

“Saya menyukai cerita anda tadi. Saya mendengarkannya diam –diam”kata si penjual bunga.

Biksu itu tersenyum lembut, “senang sekali jika anda menyukainya”.

Perempuan itu mengambil setangkai mawar dari keranjangnya. Mawar yang selalu segar dan berkilat –kilat indah. Diangsurkannya kepada biksu muda itu, “ini untuk anda. Semoga anda selalu berbahagia”

“Bunga yang indah sekali”puji sang biksu. “Tapi kenapa anda memberikannya pada saya?”

“Karena saya menginginkannya. Saya ingin anda menerima bunga ini sebagai hadiah”

“Anda baik sekali, nona. Tetapi itu adalah barang jualan anda, bukan?”

“Iya, tetapi itu tidak masalah. Anda adalah orang yang sangat baik, saya tahu itu. Karena anda telah begitu baik, pada saya terutama, saya ingin memberikan bunga ini”

Biksu itu memandang bunga mawar tersebut dengan agak ragu –ragu. Perempuan itu tersenyum manis, senyum termanis yang ia berikan hari ini. Dia sangat menyukainya.

Biksu itu tidak bergeming. Tangannya tetap diam didepan dadanya. Tetapi matanya yang lembut itu menatap bunga mawar merah yang diangsurkan sang penjual bunga.

Ya. Pada latar belakang itu -di belakang mereka matahari mulai meluncur turun, seorang biksu dan perempuan penjual bunga berhadapan di tepi jalan, dengan sebuah bunga. Dan, sejarah telah dimulai.

3 thoughts on “Biksu dan Penjual Bunga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s