Ending terbaik untuk mengakhiri sebuah drama

Jika anda punya satu kehidupan berharga yang sudah anda buat, atau sebuah cerita yang sudah anda jalin sedemikian rupa, bagaimana kira –kira anda akan mengakhiri cerita tersebut ? Anda mengharapkan akhir yang bahagia atau yang sedih, atau menggantung tanpa kepastian ?

Kalau saya, pilihan saya cuma dua; sad ending atau menggantung (tidak jelas). Entah kenapa saya tidak terlalu suka dengan happy ending, atau bahkan yang lebih lebay dari itu, semacam dongeng –dongeng yang selalu berakhir dengan ‘..and they lived happily ever after’.  Karenanya, saya hampir tidak pernah membuat cerita fiksi (novel atau cerpen) yang happy ending. Bagi saya, itu tidak terlalu menarik. Apalagi kalau gampang ditebak akhirnya. Ini berlaku bagi semua jenis genre; drama, horror, fantasi, petualangan, komedi, dan sejenisnya. Saya selalu ditegur karena tidak pernah membuat tokoh –tokoh yang saya buat berakhir bahagia.

Misalnya dalam dua buah cerpen yang pernah saya buat, judulnya “Jen dan Lomba Baca Puisi” dan “Kabar Terakhir” (dimuat di Annida tahun 2003). Ceritanya sederhana saja,dan meremaja. Yang pertama saya buat endingnya menggantung karena saya lebih suka pembaca sendiri yang berimajinasi bagaimana karakter yang saya ciptakan itu akan berakhir nantinya. Yang kedua saya buat sad ending, tentang seorang wanita atheis yang jatuh cinta pada pemuda relijius. Saya buat sad karena saya sukanya begitu hehe. Hidup tidak bisa ditebak dan tidak mudah diduga, begitulah yang saya pikirkan. Kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Salah satu akhir yang saya sukai adalah dalam novel “Norwegian Wood”. Akhirnya membuat saya tercenung, walau tidak begitu mengerti dan saya harus membacanya berulang –ulang. Menghela nafas, dan menarik kesimpulan sendiri. Lalu membayangkan beberapa hal, jika begini atau begitu. Atau dalam cerpen anti perang “Yasunari Kawabata” yang berjudul “Buah Delima”. Sederhana saja ceritanya, tapi mengharukan, dan akhirnya kemungkinan akan sedih karena tokoh laki –laki yang disukai tokoh utama dalam kisah tersebut akan pergi berperang. Mungkin sih begitu.

Dan, saya punya sebuah kisah drama tentang seorang perempuan yang belajar keluar dari cangkang hidupnya, jatuh cinta sepenuhnya pada seorang laki –laki asing yang sama sekali belum pernah dia temui, dan itu mengubah sebagian hidupnya. Laki –laki yang sangat bertolak belakang dengannya. Namun cintanya sepihak dan tak berbalas. Nah, saya bingung bagaimana akan saya akhiri cerita itu? Kemungkinan, saya akan membuat akhir yang sedih. Dan gadis itu akan saya buat berdarah –darah. Tapi pasti saya akan mengakhirinya dengan manis. Mulai dari sekarang.

Apakah lebih baik memang begitu akhirnya? Atau bagaimana ya…

Tapi yah. Mungkin lebih baik begitu.

8 thoughts on “Ending terbaik untuk mengakhiri sebuah drama

  1. pa adit,
    iya siiih..hhehe..tapi klo fiksi kadang sy ingin brsenang -senang juga pak…jadi dibuat semau gue gitu. klo kenyataannya sih ya saya ingin husnul khotimah tentu ^^
    makasih pa.

    Like

  2. ending terbaik? kadang perlu suatu happy ending dalam suatu cerita, dan sad ending di cerita lainnya, akhir yang menggantung juga keren, semua mungkin tergantung pada kemauan penulis dalam membuat sebuah akhir cerita, serta, mungkin, kesan apa yang ingin diberikan pada para pembacanya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s