Confession No. # 1

Ini bukan judul albumnya Afgan (siapa ituh Afgan ?!). Tentu saja bukan.
Tapi ini tentang sebuah cerita yang sudah terpendam cukup lama, sehingga jika disimpan lebih lama maka akan membusuk dalam otak. Lalu menjadi penyakit sampai menyebar ke usus dan sistem pencernaan. Maka ya, aku harus segera membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang disuc ikan dari segala nafsu manusiawi.

Tetapi, aku tidak tahu harus memulainya darimana. Itulah masalahnya. Ini adalah hal yang bisa membuatku tidak bisa tidur selama satu minggu, karena pikiranku selalu terganggu. Terus terang, aku selalu memikirkannya. Cukup memuakkan. Dadaku jadi sesak sekali. Aku mengatakan hal ini pada Ayu, dan dia malah cengar –cengir tidak jelas.

“Aku akan membuat pengakuan suci. Itu saja”

“Ow. Sungguh menakjubkan!” dia menganga.

“Sungguh mengerikan!”

“pengakuan cinta?!” gadis itu menatapku dengan serius. Aku jadi kasihan padanya.

“Si Leo itu…”

“Lupakan saja, Yu” aku mengangkat tangan. Lalu meninggalkannya. Dia kelihatannya masih menganga, tapi aku tak peduli.

Lalu, kuputuskan untuk menemuinya langsung. Untuk membuat pengakuan tersuci, setidaknya sampai saat ini. Kupastikan tidak akan ada nafsu di sini. Aku bisa menyimpan nafas banyak –banyak. Tidak akan ada kontak fisik. Sebab itu akan sangat menyakitkan. Yah, semoga semuanya baik –baik saja. Karena dia orang yang baik, jadi kupikir mengatakan hal seperti ini tidak apa –apa. Lagipula, daripada terkena tuberkulosis (TBC) yang mematikan itu, lebih baik mengaku saja.

Waktunya sudah tepat. Dia sedang bersantai ria di halaman rumahnya, dengan laptopnya. Sedang berselancar di internet mungkin. Aku langsung masuk dan berdiri tegak dihadapannya. Dia mengawasiku sambil tersenyum.

“Uhmm…sedang sibuk?” tanyaku dengan ragu. Mukaku pasti tampak bodoh.

“Tidak juga. Cuma sedang cari bacaan menarik saja”

Lalu kami pun ngobrol. Agak lama. Tentang hal –hal yang tidak begitu penting. Aku juga langsung lupa apa yang kami bicarakan. Lha, lalu kapan mengakunya ini? Sepertinya aku terlalu grogi melihat mukanya. Dia tampak begitu tenang dan segar bugar. Suasana hatinya mungkin sedang sangat baik. Baiklah. Aku agak deg –degan.

“Ada yang ingin kukatakan”nah, aku sudah mulai.

“Katakanlah”

“Sebenarnya aku ingin mengatakannya dari kemarin –kemarin, ah, mungkin lebih lama dari itu. Dari seminggu yang lalu….tapi aku….”

“Ya?” dia asyik dengan laptopnya.

“Ada sesuatu yang terjadi….”kata –kataku tersangkut di leher. Aku diam.

Dia mengangkat mukanya ke arahku. “Ada apa?”

Aku menahan sapuan warna tomat yang sepertinya akan mulai menjalari seluruh wajahku. Oh sial !

“Langsung pada intinya saja ya?” dia tersenyum lagi.

“Leo, maafkan aku ya”

“Untuk?”

“Maafkan aku. Aku memang bersalah. Aku teledor. Aku mohon maaf sebesar –besarnya, sedalam –dalamnya, setinggi –tingginya…”

“Iya, tapi minta maaf untuk apa?”

“Akan kukatakan, tapi berjanjilah kau tidak akan marah”

“Hahaha. Memangnya ada apa?”

“Berjanjilah untuk tidak marah”

“hm?” dia meninggalkan laptopnya, dan mulai fokus padaku.

“Sebenarnya, kejadiannya seminggu yang lalu. Laptopmu yang sangat kau cintai itu, yang kau pinjamkan padaku untuk mengerjakan tugas itu, yang kau beli dengan tabunganmu, yang harganya sangat mahal puluhan juta karena bermerk itu, yang kau bilang ‘laptop ini pacarku’ karena di dalamnya ada data –data penting yang menentukan hidupmu itu, yang berisi seluruh data bisnismu….. rusak gara –gara aku. Aku jatuh dari motor waktu itu, dan laptopmu juga jatuh kebanting. Aku sih tidak apa –apa. Tapi laptopmu hancur sehancur- hancurnya, tak tersisa….”

Sepi.

“Oke. Kau boleh memukulku…tapi jangan di wajah ya”

Bagaimana rupa mukanya sekarang ya? Aku tak berani melihatnya. Wajahku makin panas. Sudah tidak mirip tomat lagi. Aku ingin menangis. Oh sungguh sial !!!

“Yah….” nah itu dia suaranya.

“leo…kumohon, jangan di wajah ya….”

(tamat)

6 thoughts on “Confession No. # 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s