Mojang Priangan

Mojang Priangan

(nining meida)

Angkat ngagandeuang, bangun taya karingrang

Nganggo sinjang dilamban,

Mojang priangan

Umat imut lucu, sura seuri nyari

Larak lirik keupat, mojang priangan.

Diraksukan kabaya

Nambihan cahayana

Dangdosan sederhana

mojang priangan

……

Mojang priangan itu, kalau dari asal katanya berarti: mojang = wanita, priangan= wilayah priangan (Jawa Barat). Jadi, mojang priangan adalah wanita yang berasal dari daerah Jawa Barat –yang notabene merupakan daerah sunda. Dan, refernya lebih ke daerah Bandung. Kebetulan Bandung sebagai ibukota Jawa Barat.

(sumber gambar dari sini)

Konon, mojang priangan terkenal cantik dengan kulit yang lebih cerah. Walaupun tentu saja tidak semua seperti itu. Karena semua wanita dari seluruh wilayah Indonesia itu menurut saya sih punya kecantikan yang khas. Apapun warna kulitnya.

Dalam bayangan saya, mojang priangan itu lekat dengan imej wanita yang lembut nan cantik, memakai kebaya lengkap, sanggul, kain yang di’lamban’ di pinggirnya, dan lain –lainnya. Lamban itu dalam bahasa indonesia, apa ya.. mungkin semacam lipatan tiga atau lebih di tepi kain, dipakai pas di badan sehingga cara jalan pun harus disesuaikan. Pokoknya anggun.

Tapi sepertinya itu adalah penampilan mojang priangan yang agak jadul ya. Apalagi kain yang di’lamban’. Sekarang rasanya jarang melihat kain dengan gaya seperti itu. Dulu, ibu saya sering berpenampilan seperti itu, berkumpul dengan para ibu –ibu lainnya dalam kegiatan ibu –ibu yang formal. Wah kesannya itu untuk ibu –ibu saja, ya. Dulu sih kebaya itu dipakai dalam keseharian, tapi sekarang kebaya seperti simbol saja, hanya dipakai dalam acara tertentu.

Saya sendiri, walaupun berasal dari sunda dan dibesarkan dalam kultur seperti itu sampai saat ini, sebenarnya tidak terlalu memahami adat sunda itu sendiri. Bahkan, bahasa sunda buhun pun (bahasa sunda yang sangat sunda sehingga jarang dipakai) sudah lupa –lupa ingat. Di rumah, orang tua saya sering mengatakan istilah ‘pamali’, yakni hal –hal yang tidak boleh dilakukan (terutama wanita). Entah kenapa, wanita itu banyak sekali pamalinya, sedangkan laki –laki tidak (secara adik saya laki –laki). Kenapa ya?

Tanya kenapa?

Dan saya juga tidak terlalu suka kebaya. Walaupun itu dengan model yang sedang tren dan disesuaikan selera pasar, saya tetap tidak terlalu suka. Saya hanya memakai kebaya (bisa dibilang terpaksa mungkin) dalam acara formal yang diwajibkan memakainya, seperti wisuda. Mungkin saya bukan orang yang cinta budaya sendiri ya? Sebenarnya masalah selera saja sih, saya lebih nyaman dengan pakaian lain.

15 thoughts on “Mojang Priangan

  1. eleuh2 meni asa wararaas, asa emut deui ka zaman aki sareng nini masih jajaka sareng parawan. 🙂
    .
    neng ari anu paling kasohor ngahaleuangkeun eta lagu “mojang priangan” sanes Nining Meida atuh tapi alm Upit Sarimanah , sinden beken era taun 50-60-an, sok geura taroskeun ka ema sareng abah pasti terangeun.
    .
    itu lagu menceritakan sifat wanita priangan yang asli yang masih belum tergerus ama roda zaman.
    .
    geulis lain saukur pupulasan tapi geulis bawanna ngajadi endah bawaanna tikudrat.
    .
    geulis lain saukur kutantung tapi geulis anu medar tina ati sanubari anu cahayana matak pikaserabeun nu nenjo.

    .
    kalau di era sekarang kayaknya saya belum menemukan figur “mojang priangan” seperti dilukiskan dalam lagu di atas mungkin para mojang lebih tertarik sama yang palsu kalee yaa…🙄 daripada yang asli, jadilah ngetren itu yg namanya kesetiaan palsu, janji palsu , cinta palsu , kebahagiaan palesuu dan palsu2 yang lainnya😆
    .
    saya jadi teringat lagunya kang Doel
    .
    … jol Udin mawa BMW , datang Dodo mawa volvo, Anda mawa toyota, halaaah.
    .
    rumasa Asep mah teu boga , rumasa Asep sangsara ku dunya …, rumasa modal ukul cinta di tambah nawaetu rek satia,
    .
    Mumun milih mana…?, Mumun milih saha…?,
    kang Asep tong cangcaya Mumun pasti milih didinya
    .
    ngagebray dunya jadi caang asa ku garenah pipikiran, sare tibra dahar mirasa nyata cinta teu kabeh ninggali dunya…

    .
    mungkin sifat “mojang priangan” itu salahsatunya adalah tidak silau dengan dunia dengan segala pernak-perniknya. karena dia tau yg asli sehingga mengabaikan yang palsu.
    .
    kalau neng Mina sendiri termasuk “mojang priangan” ndak…?:mrgreen:

    Like

    • wah… ternyata kang gembel teh manusia jadul ?😯
      *dihajar*:mrgreen:
      abi terangna teh lagu mojang priangan nu dihaleuangkeun ku nining media, eta ge sering ngupingna di nu nikahan…janten upami nguping lagu2 sunda kitu teh asa di nu nikahan:mrgreen:

      ternyata lagu itu bukan asli nining media? baru tau😯

      knp jadi inget lagu doel sumbang, kang? ada pengalaman atau nostalgia kah dengan lagu itu?:mrgreen:

      hm, tapi kang, tau engga klo imej wanita sunda itu di mata orang luar sunda (jawa atau luar jawa) itu ga positif. sy dulu pernah bikin postingan di blog lama ttg wanita sunda vs pria jawa. menurut penilaian yang meng-generalisir sih wanita sunda itu kan selalu dipandang sebagai wanita yang doyan dandan, suka menghamburkan uang, dan sifat2 negatif lainnya. apakah betul pada dasarnya ‘mojang priangan’ yang ‘murni’ itu ternyata seperti itu?😕

      hm, “neng mina sendiri termasuk mojang priangan ndak…?”
      saya sendiri ga merasa atau mendefinisikan diri sebagai mojang priangan. karena buat apa hanya bangga dgn panggilan itu klo hanya karena wilayah saja? secara wilayah, ya, saya dari priangan -priangan timur. mojang sunda. tapi secara kepribadian, saya rasa wanita yang berasal dari manapun bisa memiliki kualitas yang luhur.

      Like

  2. Ah, mojang priangan.
    Umat imut lucu, sura seuri nyari
    Larak lirik keupat, mojang priangan.

    Walaupun ngga ngerti bahasa sunda, tapi saya sering ndengerin lagunya Doel Sumbang dan Nining Meida. Ada nuansa yang lain gitu…

    Salam.

    Like

  3. –lambang–
    wah, ga nyangka suka dengerin lagu sperti itu !😯
    coba minta bantuan om gembel, klo masalah translate-nya, dijamin mantap:mrgreen:

    eh, darso lumayan jg loh

    salam kembali

    Like

  4. Ortuku sunda,lahir dan besar di pedalaman lampung.kalo dengerin lagu2 sunda enaaak banget,jadi gmana gitu ma orang sunda,tapi pas dah gede merantau ke jabar hidup bertaun2 keeeeeeek…..baru tau. dan kenal lah ma lagu2 doel sumbang hhhmmm pas banget ma sebgian orang sunda.
    Cinta pertamaku etnis jawa (sma2 ortu transmigran)ke 2 etnis lampung selanjutnya sunda akh.,dan yang terahir hamil ma cwo selingkuhannya.

    Bwt cewe2 sunda tolonglah jangan bikin malu kami orang sunda diluar jabar yang tetap membela kalian dan membantah semua tuduhan2 negatif.

    Like

  5. Saya bukan orang Sunda, sy orang Banten (campuran Jawa Cirebon sama Sunda Banten) tapi suka sekali sama lagu-lagu Sunda walau saya berbahasa Jawa Serang.. seboding.. abis enak didengerin.. saya suka talak tilu, ulah ceurik, budak jalanan dll.. untung ngerti dikit-dikit mah..
    suaranya teh Nining Meida.. ampun.. bagusnyo!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s