K e h i l a n g a n

[Rabu, 18 nopember 2009. 22:17. Bandung, sarijadi]

Seringkali kita menganggap bahwa kita memiliki banyak hal yang telah menjadi bagian dari jiwa, hati, pikiran, perasaan, dan bahkan hidup kita. Karena waktu. Mungkin dalam rentang waktu yang pendek atau kejadian sekilas saja, semua  hal itu menjadi amat biasa. Kita tak punya pengetahuan mendetail tentangnya, sehingga keberadaannya tidak mempengaruhi diri kita. Dan, adakalanya, diantara beberapa kejadian itu, kita mengalaminya terlampau sering. Dalam waktu yang cukup lama, sehingga kita bisa memikirkannya dan bisa dengan mudah mengingatnya. Kita mengetahuinya sampai hal terkecil, sehingga semakin kita banyak tahu, kita semakin terikat padanya.  Hal –hal tersebut menempati salah satu ruangan dalam hati kita. Kita pun terisi olehnya, tanpa disadari, terbiasa, menjadi bagian darinya, dan apapun yang terjadi kelak akan sangat mempengaruhi kita.

Itulah mengapa, banyak hal yang menjadi begitu berharga. Segala yang sudah berada dekat dalam kehidupan kita, atau yang kemudian datang dan menjadi bagian dari sejarah kita, saat ini, dan di masa depan.

Itulah mengapa selalu ada alasan untuk tetap hidup.

Walaupun hal –hal berharga itu, seluruh apa yang disebut sebagai bagian dari kehidupan kita pun, pada saatnya nanti akan pergi. Itu pasti. Kepergian yang tiba –tiba, ataupun pelan –pelan saja. Lalu, ketidakbersamaan lagi itulah, kita pun merasa kehilangan.

Seperti pada suatu hari saat kita dipamiti seorang sahabat dekat yang hampir setiap hari bersama kita. Terlalu banyak yang sudah dibagikan, dan hati serta ingatan kita seakan penuh olehnya.  Saat dia pergi, mungkin pada saat itu kita merasa bahwa perpisahan adalah hal biasa, dan kita boleh menangis sedih karena tidak dapat bersama lagi dengannya. Namun, pada beberapa hari sesudahnya, kita tidak terbiasa dengan ketidak hadirannya. Karena setiap hari kita terbiasa melihat senyumnya, terbiasa melihat tawa khasnya, hal sekecil apapun –bahkan kebiasaan dia saat menghabiskan waktu istirahat, misalnya.

Sesaat, sekeliling kita rasanya sunyi sekali. Benarkah dia sudah benar –benar pergi? Ya, ternyata memang dia sudah pergi. Dan ada sesuatu yang hilang, di sini, di dalam hati. Ruang yang senantiasa dipenuhi ingatan tentangnya.

Kehilangan.

Tetapi, seberapa banyaknya kehilangan, akan sebanding pula seberapa banyak yang datang. Sedih pada awalnya, tetapi karenanya hidup terasa baru dengan nuansa rindu yang indah bukan? Kita membutuhkan kebaruan itu. Sekali lagi, itulah mengapa selalu ada alasan untuk tetap hidup. Bahkan dari banyaknya kehilangan.

Sebab kita tak pernah benar –benar kehilangan. Kita akan tetap bersama dengan seluruh hal berharga itu, di sini, di dalam hati dan jiwa kita.

(for mybeloved friend, H)

9 thoughts on “K e h i l a n g a n

  1. The art of losing isn’t hard to master;
    so many things seem filled with the intent
    to be lost that their loss is no disaster,

    Lose something every day. Accept the fluster
    of lost door keys, the hour badly spent.
    The art of losing isn’t hard to master.

    Then practise losing farther, losing faster;
    places, and names, and where it was you meant
    to travel. None of these will bring disaster.

    Even losing you (the joking voice, a gesture I love) I shan’t have lied. It’s evident the art of losing’s not too hard to master
    though it may look like (Write it!) a disaster.

    Cuplikan puisi One Art-Elizabeth Bishop

    Kok bisa setema ya postingannya?😆

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s