C h a n g e

Seandainya kita bisa duduk bersama di sini, dan mengukir sejarah.  Mungkin kita telah berjalan terlampau jauh, menyusuri berbagai jalan, menembus duri –duri sampai berdarah –darah.  Aku tetap pada jalanku, dan kau juga begitu. Apakah kau sudah memutuskannya begitu? Ketika kau menceritakan banyak hal pada hidupmu, dan aku bangga, karena penting untuk mengetahui akan kau apakan hidupmu. Akan kau arahkan kemana kelanjutan langkah itu.  Kita tidak melewati jalan yang sama, aku tahu itu, dan kau pun tahu, tapi ajaibnya persahabatan adalah bahwa kita masih bisa tetap saling tersenyum tulus. Pada matamu ada ketulusan. Dan walaupun aku selalu bilang bahwa aku ingin selalu yang terbaik buat hidupmu, tapi kau sendirilah –pada akhirnya, yang bisa memilih hidupmu itu.

Ada banyak hal baik yang ingin kulakukan saat melihatmu. Mengikuti. Karena kau menemukan sesuatu yang berarati, dan akupun ingin begitu. Sering aku mengeluh, pada sisa –sisa waktu yang kusesali karena tidak banyak beribadah kepada Rabb ku. Dan bahwa aku merasa saat ini sedang terjatuh…sulit untuk bangkit. Dan aku butuh lebih banyak kekuatan serta semangat.  Semangat dan kekuatan itu ada pada diriku sendiri. Walau kadang, teman dapat menguatkan juga.

Pernah ditanyakan, mengapa kita selalu berubah? Banyak hal yang berubah. Sebagiannya membahagiakan, sebagiannya membuat kita kesepian. Sebab kita, selalu berubah karena kehidupan di sekeliling kita. “….Bukan berpisah, tapi memulai sesuatu yang baru” (rurouni kenshin). Tapi hidup akan tetap berjalan bukan? Dengan atau tanpa kita, dengan atau tanpa teman –teman kita.

Perpisahan.

Pertemuan.

Jika proses alur kehidupan kita diibaratkan garis panjang, maka akan banyak garis melintang yang dilalui masing –masing orang. Lalu, di suatu titik di mana garis itu bersinggungan dengan yang lain, di situlah terjadi pertemuan. Ribuan pertemuan kita dengan orang –orang dalam kehidupan kita. Sedangkan kita sendiri harus terus maju dalam garis itu, melanjutkan jatah garis kita –hidup kita. Walaupun kita harus meninggalkan garis persinggungan itu. Karena walaupun kita ingin tetap berada pada titik pertemuan tersebut, kita tak akan bisa menghentikan laju kehidupan.

Dari situ timbul rasa rindu.

Perubahan itu selalu saja membekaskan kerinduan. Karena banyak hal yang tidak sama lagi. Itu memperkaya pikiran –pikiran dan perasaan kita.

Kita terus berproses menjadi manusia. Dalam skenario indah-Nya. Maha Suci Engkau ya Rabb dengan segala sesuatunya.

Andai aku bisa turut duduk di sampingmu, menyampaikan semua ini kepadamu. Bahwa hidupku begitu indah. Bahwa aku begitu bahagia. Dan akan selalu ada doa –doa untukmu, agar bisa merasakan kebahagiaan, kebahagiaan menurutmu sendiri.

(30/10/2009)

2 thoughts on “C h a n g e

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s