Syair Hujan (1)

Syair Hujan

(sebuah cerpen)

Ada sebuah masa dimana aku sangat membenci hujan. Aku membencinya, karena hujan bisa membuatku repot. Tetapi sekarang, aku selalu merindukan hujan.

Bila hujan mulai turun, aku diam memperhatikannya di depan jendela sambil memandang ke arah taman di depan rumah. Tanpa kusadari –di dalam hatiku, aku selalu berharap akan datangnya sesuatu melalui hujan. Tiap jutaan tetes air yang jatuh ke bumi, aku melihat tahun –tahun perjalanan kehidupanku, sebelum semua ini dimulai.

Beberapa tahun silam, pada saat hujan aku berada di taman itu. Tempat yang selalu sama, di dalam hatiku pun tetap seperti itu. hanya tumbuhan dan bunganya yang terus berganti setiap tahun. Saat hujan turun seperti saat ini, slide masa lalu seolah bermunculan dalam rangkaian airnya. Menjelma kembali menjadi kenangan yang abadi di dalam hatiku.

Di sana, dulu ada sebuah kursi kayu. Sekarang kursinya sudah diganti dengan tembok supaya lebih tahan lama. Aku duduk di kursi itu, sendirian pada awalnya. Lalu kamu pun datang menemaniku. Kita membahas apa yang kamu sebut sebagai ‘senyum yang lugu’. Dan katamu, itulah senyumku.

Kita bicara banyak hal sambil tertawa –tawa. Yah, kita masih sangat muda waktu itu. Dan kita sangat senang menceritakan banyak hal. Aku senang mendengarkan ceritamu –karena setiap mendengarkannya maka pikiranku pun mengembara. Imajinasi yang tercipta tanpa bisa kuungkapkan dengan kata –kata. Walaupun raga tak pernah bisa mencapainya, tapi melalui ceritamu aku seperti bisa melihat seluruh pelosok dunia. Aku berpikir bahwa ternyata dunia ini dipenuhi banyak hal baru. Dan, banyak dari hal baru itu amatlah indah. walaupun tidak semuanya begitu.

Pertemanan yang manis.

Ketika itu, kamu mengatakan bahwa kita akan selalu berteman. Rumah kita berdekatan, jadi kita akan tetap berteman. Kamu juga mengatakan akan menjaga taman ini untukku. Kamu sangat baik, itulah sebetulnya yang kurasakan. Kamu orang baik, tetapi aku sama sekali tidak tahu, apakah di masa depan nanti kamu akan tetap baik ?

Lalu, hujan tiba –tiba turun dengan cepat. Hujan di waktu itu, di penghabisan musim. Hujannya langsung besar. Suaranya bergemuruh menakutkan. Aku sampai tidak bisa mendengar suaramu. Sepertinya, suaramu menyatu dengan hujan, dan itu merisaukanku.

“Jangan masuk dulu. di sini saja. Kamu tak mau hujan –hujanan? Sudah lama aku tak melakukannya”katamu sewaktu aku hendak berlari ke teras rumah.

“Tidak. Aku takut tersambar petir”

“Ha-ha! Tidak akan. Tidak ada petir kan?”

kurasakan kulit telapak tanganku mulai mengkerut. Aku tak bisa menahan rasa dingin lebih lama jika air itu langsung menyiram tubuhku. “Aku bisa sakit. Kadang air hujan itu terlalu keras dan ada asamnya”

“Hujan tak akan membuatmu sakit. Coba saja rasakan airnya!”

aku tak peduli padanya. Aku berteduh di teras. Rambutku basah sekali. Sebagian bajuku juga sudah basah. Sedangkan kamu malah tertawa –tawa di bawah guyuran hujan itu.

semakin lama kulihat kamu, aku jadi ingin tertawa juga. Kamu seperti burung yang disiram air saja. Bajumu tak karu –karuan. Bibirmu memutih seperti platina, dan itu mengerikan.

“Sialan. Aku lupa menaruh bola plastikku dimana. Dulu, kalau hujan aku bermain sepakbola bersama anak –anak sini di kolam kering. Kamu tahu kolam pak RT di belakang rumahku itu kan?”kamu akhirnya berlari menghampiriku. Kamu berdiri di sampingku sambil menggigil.

“Iya. Kukira kamu sudah lupa caranya main bola itu sejak masuk kuliah di kota”

“Yah, memang. Kadang –kadang kupikir sekarang aku sudah melupakan banyak hal di sini..”kamu tertawa miris.

Begitupun aku. Memang begitulah.

Tapi sebenarnya, diam –diam aku kadang iri padamu. Kamu tahu? Karena kamu sangat cerdas dibandingkan anak –anak lain di sini. Kukira, itulah bakatmu. Saat kami masih memikirkan apakah nanti sore kami bisa bermain bola di kolam kering itu, kamu memikirkan untuk membuat lapangan bermain sendiri bagi kami. Sepertinya pikiranmu telah jauh melampaui anak –anak lain. walaupun kadang itu agak menakutkan –kamu terlalu memikirkan banyak hal. Padahal seharusnya, karena kita masih anak –anak, kita bisa bermain dengan bebas tanpa terbebani hal –hal semacam itu.

Karena kamu pandai, seandainya kamu mau –kamu bisa masuk kuliah dimanapun. Tapi aku tak pernah tahu apa yang kamu pikirkan, dan mengapa kamu memutuskan pilihan –pilihan yang tak kupahami.

Yah, aku tidak akan mengatakan bahwa aku memahamimu sebaik kamu memahami dirimu sendiri. Pada saatnya nanti, kehidupan akan berubah. Dan kamu pun juga pasti begitu. mungkin nanti, aku tidak akan mengenalmu lagi.

Lalu, yang kuresapi adalah suara hujan. Airnya yang jatuh ke genting dan ke benda –benda lain menimbulkan berbagai macam suara. Air ini sepertinya ditumpahkan begitu saja dari langit, banyak sekali jumlahnya, dalam waktu yang bersamaan. Hingga suaranya bergemuruh menyelimuti seluruh langit.

Dan, aku merasa sangat aneh, karena suara hujan itu seakan membisikkan sesuatu di telingaku. Angin yang berdesir seperti kata –kata yang ditujukan padaku. ‘Aku –suka –padamu’, begitu bunyinya. Bisikan yang samar –samar, mengalun merdu.

Bisikan apakah yang kudengar itu? apakah aku baru saja bermimpi? Kulihat kamu masih membeku di tempatmu, seperti patung es. Apakah kamu yang menciptakan bisikan itu ?

(Bersambung)

11 thoughts on “Syair Hujan (1)

  1. Bersambung?

    Lanjutkan dengan…

    “waktu itu, hujan rintik-rintik, kita berteduh, di bawah atapnya. Kita berdiri… begiiiitu rapat, hingga suasana… begitu hangaa…aaat… taanganmu kupegang erat-erat, kenangan iiitu, ‘kan selaaalu kuingaaat…”

    — Panbers season

    LoL

    Like

  2. –arm–
    kemungkinan agak lama, arm.
    tapi tunggu saja. blog makin sepi wkwkwkkw..

    –kahfiyeh–
    kan udah di jelasin di awal cerita?😀

    –aris–
    itu lagu atau apa ?😕

    Like

  3. <blockquote?Ada sebuah masa dimana aku sangat membenci hujan.
    Kalo saya di Indon sebel banget sama hujan. Rumah bocor, listrik bisa padam, mau pergi susah…

    Kalo saya di Sing seneng banget sama hujan. Problem di atas ga ada, adanya hawa yang sejuk, enak buat tidur.😀

    *kayanya OOT*

    itu lagu atau apa ?

    Lagu, Panbers – Gereja Tua.

    Like

  4. Ada sebuah masa dimana aku sangat membenci hujan.

    Kalo saya di Indon sebel banget sama hujan. Rumah bocor, listrik bisa padam, mau pergi susah…

    Kalo saya di Sing seneng banget sama hujan. Problem di atas ga ada, adanya hawa yang sejuk, enak buat tidur.

    *kayanya OOT*

    itu lagu atau apa ?

    Lagu, Panbers – Gereja Tua.

    (yang di atas hapus aja kalo mau:mrgreen: )

    Like

  5. keberadaan sang hujan itu berkah… tapi kejadian buruk yang terjadinya diiringi kala sang hujan tercucur bikin kita jadi benci sama hujan…

    *jadi inget sama pertemanan yang bubar, padahal dulu sempat jadi kenangan indah gara2 kehujanan*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s