Sastra Klasik

Saya senang membaca berbagai macam karya fiksi semacam roman, novel, cerpen, dan sedikit puisi serta essay. Berbagai genre. Mulai dari yang klasik sampai kontemporer, walaupun tidak semua karya fenomenal pernah saya baca.

Saya juga tidak bisa mengatakan kalau saya hanya menyukai jenis bacaan tertentu, karena biasanya saya menyukai sebuah fiksi bila sudah membaca beberapa lembar awalnya. Jika tertarik, saya baca. Jika tidak, maka saya lewatkan. Walaupun misalnya buku fenomenal semacam ayat –ayat cinta yang disukai banyak orang, tapi ternyata saya tidak menyukainya.

Pernah membaca sastra (roman atau novel) klasik?

Khusus untuk roman klasik, saya benar –benar menyukai tipe cerita ini, karena membuat saya berimajinasi tinggi, kisahnya sederhana saja tapi dialog dan karakterisasinya kuat, tidak terlalu lebay dan membosankan, serta jarang adegan ‘membahayakan’ yang eksplisit. Sayangnya, tampaknya susah sekali mendapatkan roman klasik seperti itu, kecuali di perpustakaan –perpustakaan kampus.

Saya sendiri membacanya di perpus kampus dulu, itupun roman klasik yang dihadiahkan dari intansi luar negeri ke kampus saya, bukan membeli. Misalnya yang paling saya sukai Ivanhoe –nya Sir Walter Scott, Keangkuhan dan Prasangka (Pride and Prejudice) –nya Jane Austin, The Hunchback of Notredame –nya Victor Hugo, dan Tales of Two Cities –nya Charles Dickens.

Saya bahkan membaca berulang –ulang Pride and Prejudice sambil membayangkan tokoh semacam Will Darcy dan Elizabeth itu benar –benar ada. Tipikal kisah klasik dua orang pasangan yang berbeda karakter, yang awalnya saling tidak simpatik karena status sosial dan adu kecerdasan, tapi akhirnya saling jatuh cinta. Duuuh..saya kangen ingin membacanya lagi !
Tapi sayangnya, film yang diangkat dari novel ini malah semacam film parodi berjudul Bride and Prejudice yang memadukan budaya India dengan Amerika (pemain utama ceweknya Aishwarya Rai).

Tales of two cities bahkan membuat saya menangis karena persahabatan Charles Darnay dan Sidney Carton yang mengharukan. What’s better than friendship ? Sidney Carton itu adalah saingan cinta Charles Darnay karena mereka berdua mencintai wanita yang sama, Lucy Mannet. Tapi Darnay lebih mujur karena wanita itu memilihnya. Sedangkan, demi wanita yang dicintainya, Carton memilih mati menggantikan Darnay di tiang gantungan. Yang menyedihkan adalah pertemuan Carton pada detik –detik kematiannya dengan seorang wanita asing yang baru dia kenal (yang juga akan dihukum gantung) dan sepertinya dalam sepersekian detik mereka saling memahami dan menyayangi. Saya merasa mungkin jika masih hidup dia bisa mencintai wanita itu.

Selain itu, ada novel yang paling saya benci. Novel apalagi selain Dr. Zhivago karya Boris Pasternak. Huh. Ilfil banget dengan novel itu. Memang, secara keseluruhan novel itu dinilai sangat bagus dan mendapat berbagai penghargaan. Bahkan disebut –sebut sebagai karya monumental dalam bidang sastra, dan tentu ada filmnya juga (saya belum nonton).

Kenapa saya benci kisah Dr. Zhivago? Alasannya 2, dan ini sangat subjektif, bukan dari kualitas novelnya sih :
1. Perselingkuhan Yuuri (alias Dr. Zhivago) dengan seorang bidan bernama Lara.
2. Lara lebih tua daripada Yuuri

Sudahlah berselingkuh, wanitanya selingkuhannya lebih tua pula. Semuanya hal yang tidak saya sukai (yaitu perselingkuhan dan pasangan yang wanitanya lebih tua). Padahal Dr. Zhivago memiliki istri yang sangat baik dan setia (walaupun pernikahan mereka bukan berdasarkan cinta), dan anak yang lucu –lucu. Tapi, akhir hidup sang dokter ini memang amat tragis.

Yang mengasyikkan dari banyak membaca karya –karya klasik dunia adalah saya bisa menyerap dan mempelajari gaya penulisannya, kemudian dijadikan referensi dalam kisah –kisah yang akan saya buat. Mengasyikkan sekali. Juga mengenal berbagai karakter yang mungkin sangat berbeda dengan penulisnya sendiri. Cara mereka mengekspresikan gagasan, mengatur dialog dan merangkai kata –kata, saya bisa menemukan style saya sendiri akhirnya. Yah, walaupun masih acak –acakan, tapi saya berharap bisa lebih baik. Dan saya selalu bermimpi untuk bisa menciptakan karya masterpiece juga, suatu hari nanti.

11 thoughts on “Sastra Klasik

  1. Pantas saya merasakan atmosfer penceritaan yang asing ketika membaca cerpen Zig Zag kemarin, khas para penulis FLP kebanyakan, yakni tidak memiliki relevansi apalagi bersinggungan dengan problem real kontemporer di negeri sendiri, melainkan lebih berfantasi ke dunia dengan setting imajiner—kalau tidak dikatakan antah-berantah.

    Padahal seyogiyanya, sebuah cerpen itu merefleksikan keresahan batin atas gejolak dan dinamika di tanah sendiri di mana ia berpijak saat ini. Adalah sebuah kewajaran, bila kisah-kisah fiksi barat/klasik lebih dominan mengangkat tema yang—katakanlah—personal, karena budaya dan iklim sosial mereka yang memang sudah mapan sejak dulu. Beda dengan karya-karya kebanyakan sastrawan kita, yang porsinya lebih ke arah gugatan dan perlawanan, entah itu kepada penindasan nurani, hak, despotisme, atau apa, karena memang seperti itulah wajah negeri ini terbalut.

    O, tentu, tentu. Saya tak berhak memaksakan kepada empu blog ini untuk beralih kiblat ke arah sastra klasik Indonesia ketimbang sastra luar, sebab toh saya pun mafhum, ini menyangkut selera pribadi. Saya paham itu. Tapi selama yang saya lontarkan hanyalah semacam sinisme (yang juga pribadi), kiranya tak apalah (barangkali).

    Saya hanya ingin menegaskan, karya-karya sastra anak negeri kita sendiri ini miskin apresiasi. Saya jarang sekali mendapati seorang ikhwan atau akhwat memegang buku, seperti Robert Anak Surapati-nya Abdul Muis, atau RSK-nya A.A Navis, Atheis-nya Achdiat, Yang Ketemu Jalan-nya Nasjah Djamin, atau Catatan Bisu-nya Pram—untuk menyebut beberapa nama. Tapi cobalah ke Mesjid Agung, betapa mudahnya melihat mereka menenteng Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cintrong, dan sejenisnya.

    Ayolah, bahasa kita ini radin apresiasi, jangan sampai pula sastra-sastranya berdebu. Itu yang ingin saya utarakan.

    Like

  2. roman klasik…? seri Sherlock-nya Conan Doyle termasuk ngga?😕 ato novel yg lebih klasik lagi, Romance of Three Kingdom..?😕
    kalo saya liat contoh2 karya sastra di atas, kebanyakan dari abad 19 akhir – 20 pertengahan ya? ngga begitu suka timeline jaman itu😛
    saya ngga gitu suka baca novel sih😛 lebih asik baca komik, itu juga masih milih2😛😎
    ..
    ..
    btw,

    Semuanya hal yang tidak saya sukai (yaitu perselingkuhan dan pasangan yang wanitanya lebih tua)

    😯
    bahkan istri yg paling disayang Muhammad SAW berumur 15 tahun lebih tua…🙄
    dalam pandangan saya, no offense nih (oh Tuhan maafkan kelancangan saya), istri2 Nabi itu mewakili selera berbagai macam pria di bumi ini, ada yg jauh lebih tua, ada yg hampir sepantaran, dan ada pula yg jauh lebih muda…🙂
    jadi, menurut saya sih ngga masalah kalo istrinya lebih tua😉 yg penting kan cocok🙂
    bahkan kata seorang teman, kebanyakan pasangan di Jepang wanitanya lebih tua🙄 mungkin bung Ando lebih tau? (summon suheng Ando😀 )
    *jadi inget lirik lagunya Ellegarden, “She’s forty, and I’m twenty two”:mrgreen:

    Like

  3. *baca komen d atas*

    ehem, ada yang curhat nih 8)
    wah, kirain “dia” lebih muda lho🙄 bener2 gak nyangka saya, ternyata sudah 40.

    bener2…

    dewasa.

    Like

  4. @Tante Mina
    Koq nggak nyantumin Leo Tolstoy dan Dostoyevsky? alergi sama bau russia yah? hehehe….

    Lara lebih tua daripada Yuuri

    Koq aku ngerasa hawa-hawa gossip Lady Di dan Camilla P.B.

    @Arm Locianpwe
    Aku lbh suka main game RoTK dari pada baca novelnya:mrgreen:
    Tp water-margin udah habis kubaca tuh…….

    Cowok Jepang (yg muda) emang lbh suka cewek yg lebih tua (sekitar 2-3 tahun diatasnya), mungkin krn pertimbangan pengalaman kali😆
    O iya, yg begituan disebut One-kei (One=kakak, kei=hubungan)

    Kebalikannya, cowok usia matang di Jepang justru lbh suka cewek imut dan lbh muda. Namanya Rori-kei atau Loli-kei. Kalau tau genre Lolicon, deket2 situlah artinya.

    Like

  5. Saya bahkan membaca berulang –ulang Pride and Prejudice sambil membayangkan tokoh semacam Will Darcy dan Elizabeth itu benar –benar ada.

    Sudah tonton film “Becoming Jane”?

    Selain itu, ada novel yang paling saya benci. Novel apalagi selain Dr. Zhivago karya Boris Pasternak.

    Ini saya malah suka.:mrgreen:

    Like

  6. becoming Jane?, wah belum. Film buatan mana itu? baguskah? sudah ada dvd-nya belum ya, soalnya saya kok baru denger…
    .
    haha. kebalikan. sy ga suka banget ya gara-gara itu, selingkuhnya itu…dan Lara-nya yang lebih tua…jadi sentimen gini…😛

    Like

  7. Becoming Jane itu film tentang Jane Austin. Campur aduk antara fiksi dan sejarah. Tetapi karakter-karakter dalam Pride and Prejudice itu memang “bena-benar ada”. Bajakannya banyak.:mrgreen:

    Like

  8. hm, jangan2 kang ali ini penyuka Pride and Prejudice juga ?😕

    wah, saya ga tau profilnya Jane Austin sih, apakah dia orang yang menarik sehingga dibuatkan film tentangnya?

    karakter di novel itu benar2 ada? masa? pada jaman sang pengarang atau di jaman sekarang?
    klo di jaman sekarang kayaknya ada juga ya, wah..menarik nih..*penasaran abis*

    Like

  9. Halo, salam kenal. saya tidak sengaja nemu blog ini saat googling. Saya juga penggemar sastra klasik, A Tale of Two Cities & The Hunchback of Notre Dame adalah salah dua dari karya-karya klasik favorit saya. Kalau klasik bergenre roman, saya suka banget dengan Jane Eyre-nya Charlotte Bronte. Sekarang sih sudah banyak karya klasik yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh berbagai penerbit. Kalau tidak keberatan, boleh mampir ke blog buku saya: http://surgabukuku.wordpress.com. Ada juga blog berisi kumpulan review karya klasik di http://bacaklasik.wordpress.com

    Terima kasih!🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s