Zig Zag (2)

Bagian 2 : S a w a A n d r o s

“Andros, ada tamu untukmu nih”

Laki –laki itu menoleh ke arah kami –aku dan ayahku.

Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas.

Ayahku sering menceritakan tentang laki –laki itu. Dia anak muda yang hebat, kata ayah. Masih muda, tapi jenius luar biasa. Ayah sering bertemu dengannya, dan walaupun lebih senior –ayahku tak pernah segan –segan memujinya. Dia sering menyebut –nyebut namanya seperti pada anak laki –lakinya saja. Aku sering cemburu.

Tetapi saat ayahku menunjuknya di televisi dan memperlihatkan robot ciptaannya yang menjadi trend di negaraku, aku menjadi yakin bahwa laki –laki itu memang hebat. Dia selalu tersenyum ramah. Dan sebagaimana orang lainnya, aku pun menyukainya karena ia hebat. Aku mulai mengidolakannya, sebagaimana orang dewasa juga begitu. Dia tampaknya di sukai semua kalangan; anak –anak, remaja, orang dewasa, dan para orang tua juga.

Aku merasa agak istimewa karena ayahku mengenal laki –laki itu dengan baik. Jadi aku bisa lebih mudah untuk menemuinya dan berkenalan dengannya. Ayahku juga tahu hal itu. Aku merengek pada ayah untuk sekali –kali mengajakku ke tempat laki –laki itu. Agar aku bisa mendapatkan –setidaknya, tanda tangan sang pujaan itu. Nanti aku bisa memamerkannya ke teman –temanku kan? Mereka pasti iri.

Nah, lalu di sinilah sekarang aku berada. Akhirnya ayah mengabulkan keinginanku itu. Mungkin baginya, tak apa –apa jika anak –anak seperti aku mengidolakan dia. Ayah punya banyak kenalan di tempat kerja laki –laki itu. Dia dengan mudah memintanya meluangkan waktu untuk menemuiku.

Laki –laki itu, dengan senyumnya yang ramah dan wajah yang teduh, menyambutku. Tak berbeda dengan yang kulihat di televisi, pikirku. Kesan pertama bertemu yang menyenangkan ini membuatku percaya padanya. Ia orang yang baik tampaknya. Aku makin suka padanya.

“Halo nona kecil” dia mengelus kepalaku dengan lembut. Dia jongkok untuk menyamakan posisinya denganku. “Siapa namamu?”tanyanya.

“Mir”

“Mir? Wah lucu ya..mirip nama stasiun ruang angkasa Rusia”dia tertawa –tawa. Aku memperhatikan matanya. Dari jarak sedekat itu bisa melihatnya dengan jelas. Ternyata bola matanya berwarna ungu. Aneh sekali. Tapi sangat indah. Apakah dia memakai semacam lensa kontak ? aku ingin tahu, tapi masih ragu untuk menanyakannya.

“Aku Sawa Andros”katanya lagi.

“Aku tahu. Aku sering melihatmu di televisi. Robotmu sangat hebat”aku terus menatapnya. Melihat mata ungunya yang indah itu.

“Oya? Kamu menyukainya?”

“Iya, Tuan Andros. Saya sangat menyukainya!”

“Haha, kamu anak yang pintar”laki –laki itu menepuk bahuku sambil menoleh pada ayahku.

“Dia sangat ingin bertemu denganmu, Andros. Semoga nanti malam dia bisa tidur dengan nyenyak”ayahku tertawa. Laki –laki itu juga tertawa.

“Baiklah, Mir. Mau aku tunjukkan sesuatu yang menarik?”

“Mau, aku mau!”

Laki –laki itu menarik tanganku. Aku melihat kepada ayah, tapi dia sudah tak memperhatikanku lagi. Dia sedang berbicara dengan beberapa orang laki –laki yang tak kukenal.

Aku dibawa menyusuri koridor putih yang menyekat ruangan –ruangan di tempat itu. Ruangan yang aneh. Semua dindingnya putih, mirip rumah sakit saja. Dan tiap koridor itu bentuknya amat panjang, seperti lorong –lorong di pesawat luar angkasa raksasa yang kulihat di film. Aku bahkan mengira tak akan menemukan ujungnya. Dan aku, dengan tubuh sekecil ini bagaikan titik kecil di atas kertas gambar putih berukuran jumbo. Aku merasa semua yang ada di situ berukuran raksasa.

Mengagumkan.

Kamu sudah sekolah, Mir?”Sawa Andros bertanya lagi.

“Iya, tentu saja. Umur saya sebentar lagi 9 tahun”

“Oh, sudah besar rupanya. Anak perempuan memang cepat besar, ya”dia tersenyum.

Aku benar –benar menjadi petualang hari itu. sawa Andros membawaku ke ruangan dimana ia menyimpan replika robot –robotnya. Ia tak menjelaskan apa –apa. Itu tidak penting, karena aku juga sulit mengerti mengapa robot –robot itu begitu mudah diciptakan olehnya. Aku hanya merasa bahwa dia sangat hebat dan jenius. Mungkin, jika aku sudah sedikit lebih besar, aku akan tahu kenapa dia bisa sejenius itu.

Ia memperlihatkan robot –robot hewan. Ada kucing, anjing, dan marmot. Lucu sekali bentuknya. Mereka bisa bergerak dan bersuara layaknya hewan asli. Bahkan bulunya juga sangat lembut, mirip aslinya. Aku diberi hadiah satu buah robot kucing. Aku suka robot itu. Apalagi Sawa Andros menandatangani robot itu.

Wah, hebat sekali! Aku bisa pamer. Robot itu harganya sangat mahal. Ayahku saja tak bisa membelinya. Aku benar –benar sangat senang.

Tapi, aku tak bisa berlama –lama bermain dengannya. Dia sangat sibuk, jadi sesudah memberikan robot itu, dia mengantarkanku pada ayahku. Dan dia pun menghilang entah kemana. Tapi tak apa –apa. Aku bahagia.

Robot itu menemani tidurku setiap hari. Sampai berminggu –minggu aku masih merasa sangat senang. Aku menceritakan pengalamanku pada teman –teman sekolahku, dan mereka sangat iri. Diantara mereka juga memang ada yang punya robot sepertiku, tapi tak banyak yang bisa bertemu langsung dengan pembuatnya, bahkan diberikan hadiah olehnya! Aku termasuk yang paling beruntung.

Aku tak akan melupakan Sawa Andros. Walaupun pertemuan kami hanya seperti idola dan fans –nya, tapi bagiku itu luar biasa. Aku menganggap, Sawa Andros pasti sudah melupakanku sejak dia memberikan hadiah itu. Aada banyak orang yang bertemu dengannya sebagai fans, dan pasti dia tak punya banyak waktu untuk mengingat orang –orang itu.

Aku, walaupun saat itu masih kecil, tapi aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Aku tak sempat menanyakan kenapa warna matanya ungu. Dan itu seolah menjadi rahasia mengagumkan dalam ingatan masa kanak –kanakku.

Sejak aku bertemu Sawa Andros di saat usia 9 tahun itu, aku terus mengenangnya dalam pikiran kanak –kanakku. Aku terperangkap di sana, bertahun –tahun lamanya. Dia semakin berkibar, menjadi orang yang sangat terkenal. Akupun seperti orang –orang lainnya; menyimpan robot itu baik –baik di kamarku, memotong bagian gambar –gambar wajahnya dan menempelnya di dekat meja belajar. Aku juga memajang fotonya di buku, foto itu kudapat dari ayah. Aku tidur dengan membawa impian, bahwa kelak aku akan menjadi cerdas sepertinya. Aku akan menjadi orang yang bisa membuat sebuah karya yang berguna bagi umat manusia.

Saat itu, begitulah cita –citaku. Aku ingin menjadi seperti Sawa Andros. Akupun jadi bersemangat ke sekolah dan mengikuti klub –klub ilmu pengetahuan.

Sampai aku mulai beranjak remaja, aku masih menyimpan cita –cita itu dan juga berita –berita tentangnya. Walaupun aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Dan lima tahun kemudian, saat masih menjadi siswa sekolah menengah, hidupku berubah.

Aku ingat, beberapa hari setelah ulang tahun ke 14, aku mendengar berita : ilmuwan muda yang jenius –Sawa Andros, 30, meninggal dunia karena kecelakaan di laboratoriumnya. Tak ada yang tersisa dari jasadnya.

Seluruh kota berkabung. Seluruh orang yang mengidolakannya menangis. Reruntuhan gedung lab dan makamnya yang konon hanya berisi sedikit serpihan abu, penuh dengan bunga. Dia pun menjadi sejarah kota. Surat kabar ternama terus menerus dihiasi namanya, sampai berbulan –bulan sesudahnya. Kematian yang tragis.

Pada beberapa tahun, orang –orang pun mulai melupakannya. Dia hanya menjadi legenda yang dikenang dalam gambar dan cerita.

Dan aku juga begitu. Aku merasa sedih saat mendengar itu. Hal pertama yang kuingat adalah, aku tak akan lagi melihat senyumnya. Aku, seperti yang lainnya, menaruh bunga di makam Sawa Andros. Aku menangis di depan ayah. Setiap tahun, pada saat hari kematiannya, aku membeli bunga dan kuletakkan di makamnya.

Sejak itu, aku tak pernah bisa tidur tanpa bantuan obat tidur dosis rendah.

Sawa Andros bagaikan mimpi masa kecilku –seperti tokoh dongeng yang sering diceritakan ibuku sampai aku merasa bahwa dia menjadi sangat nyata menemaniku. Lalu, saat beranjak dewasa, maka mimpi itupun memudar. Semakin lama, menghilang begitu saja. Walaupun robotnya masih ada sampai sekarang, dan masih hidup –tak seperti pemiliknya yang sudah menyatu dengan tanah. Aku suka tersenyum saat melihat robot itu. Hanya itu saja. Robot itupun menjadi tidak trend lagi, tergantikan oleh robot model baru yang makin canggih ciptaan jenius –jenius lain yang bermunculan sesudah Sawa Andros.

Saat aku semakin dewasa, aku masuk kuliah di bidang farmasi. Lalu bekerja sebagai asisten apoteker, menjalani kehidupan sebagai wanita pada umumnya. Aku berusaha bahagia walaupun mengalami ketergantungan pada obat tidur. Aku mencoba berhenti, tapi belum bisa. Aku ingin menemukan hidupku. Dan aku ingin merasa bahagia.

Oh ya, robot itu entah ada di mana sekarang.

Tapi Sawa Andros –si mata ungu yang mempesona itu adalah bagian kenangan masa kecil yang masih bisa kuingat sampai sekarang.

Bagian dari kenangan.

Sampai suatu hari, aku melihat mata ungu itu lagi. Entah milik siapa. Bukan lagi mata mempesona dengan senyum penuh kelembutan, tapi mata psikopat yang tiba –tiba saja menghancurkan hidupku.

Mengapa mata mereka begitu mirip ?

Aku ingat sekarang. Aku bisa mengingatnya.

(selesai dulu. 2009)

9 thoughts on “Zig Zag (2)

  1. sekarang bagian flashback…

    Mengapa mata mereka begitu mirip ?

    1] orang yang sama
    2] mata yang sama
    3] kopian dari yang asli
    4] memang ada lebih dari satu
    5] lensa kontak
    6] cat minyak
    7] sawa andros mengubah dirinya menjadi robot

    Like

  2. –aris–
    komentar kok minta ijin?😕
    ya tulis aja tho, piye…

    –mas j–
    hehe…awal yang saya pikirkan ada di list mas j itu, tapi entah mau dibuat gimana kelanjutannya..yah, buat have fun aja lah ini cerita:mrgreen:

    –mas ando–
    hehehe…. rahasia dong

    –mas j–
    gpp lah..biarkan aja, mina ga suka ngedit komen sih dari dulu…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s