Zig Zag

Bagian 1 : M i r

 

Namaku Mir. Aku ingat. Ya, aku masih bisa mengingatnya. Kepalaku rasanya sakit sekali, mungkin terantuk –antuk pintu mobil tadi. Tapi, apakah aku sedang bermimpi? Ini seperti mimpi. Bagian yang paling mengerikan dari hidupku –aku tak bisa memastikan apakah apa yang kualami ini mimpi atau nyata.

 

Sulit sekali membedakannya sekarang.

 

Aku berada di sebuah ruangan agak besar. Ruangan kosong, agak apek baunya. Sepertinya tak pernah dihuni manusia. Benar –benar ruangan kosong. Dinding cat-nya sudah kusam –kehitam –hitaman. Sebagian temboknya sudah retak –retak. Tak ada jendela. Hanya sebuah pintu besar terbuat dari besi, dan lampu kecil memancarkan sinar kekuningan di sekitarnya.

 

Ini seperti ruang isolasi. Lama –lama di sini aku bisa mati kehabisan oksigen. Kalau begitu, aku berharap ini mimpi saja, supaya nanti aku bisa lekas bangun.

 

Aku pun diam. Kutarik nafas pelan –pelan, merasakan udara mengaliri hidung dan paru –paruku. Aku ingin menghemat udara ini.

 

Lama sekali.

 

Ah, tapi ini terlalu lama. Ini bukan mimpi. Obat tidurku tak pernah mengakibatkan mimpi aneh semacam ini. Aku minum obat tidur beberapa jam lalu sambil masih mengenakan baju kerja, lalu tak ingat apa –apa lagi. Hanya suara –suara aneh memenuhi kepalaku selama aku tidur, lalu mimpi menyeramkan tentang sosok bertopeng hitam mendatangiku, menyumbat mulutku, mengikat kedua tangan dan kakiku, menutup kedua mataku. Aku tak bisa melihat dan mendengar. Aku dibawa oleh sosok itu ke melalui pintu kamarku. Aku dibawa ke mobil.

 

Itu mimpi yang aneh. Lantas mengapa sekarang aku bangun di tempat seperti ini?

Ah, tidak. Yang tadi itu pasti bukanlah mimpi. Aku dibawa oleh sosok itu.

 

Aku telah diculik.

Tapi, siapa yang menculikku?

 

Tuhanku. Apakah aku sedang disekap diruang penyiksaan oleh seorang kanibal yang sering menculik para wanita? Akhir –akhir ini berita itu sangat gencar –para wanita hilang tiba –tiba dan ditemukan telah mati.

 

Tiba –tiba perutku terasa mual dan perih. Tubuhku lemas sekali. Seluruh tulang –tulangku seolah mencair dan meleleh ke lantai yang kotor. Memikirkannya saja membuatku merasa sudah mati saja.

 

Aku takut.

 

Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Mulutku disumpal kain. Tapi aku sangat takut. Aku ingin berteriak sekencangnya. Walaupun tidak keluar suara sedikitpun, aku tahu tak akan ada yang mendengarku –tapi aku tak bisa menahan perasaanku yang tertekan. Tenggorokanku rasanya sakit sekali. Aku menangis akhirnya.

 

Lalu, tiba –tiba aku melihat daun pintu besi itu bergerak perlahan –lahan. Karatnya membuat suara –suara mengerikan bergema disekelilingku, seolah suara itu akan masuk seluruhnya ke dalam kepalaku. Pintu itu seperti tak pernah dibuka sebelumnya.

 

Aku menahan nafas sambil memejamkan mata sedikit. Kupikir ada seseorang yang membuka pintu itu dari luar.

 

Dan ternyata benar.

 

Siluet hitam itu begitu besar dan tinggi. Aku tak bisa melihat dengan jelas pakaian dan mukanya. Aku tak tahu apakah dia memakai topeng atau tidak. Dia berjalan ke arahku, aku bisa merasakannya dengan jelas. Kupejamkan mata dengan cepat. Tapi langkah –langkah kakinya menggetarkan jantungku.

 

Lalu aku mendengar suara –suara yang tidak jelas. Dua orang? Oh, mungkin lebih. Tiga orang sepertinya. Suara itu samar-samar saja, seperti datang bersahutan dari dunia lain. Mereka manusia. Ya, aku yakin itu. mereka manusia. Dan kenyataan bahwa mereka adalah manusia makin merisaukanku. Manusia selalu bisa lebih kejam pada sesama manusia.

 

Suara –suara itu mendekat.

“Apa dia masih pingsan?”Tanya seseorang dari kejauhan. Suara laki –laki.

Kurasakan hembusan angin melewati kepalaku. Ada seseorang berada dekat sekali denganku. Nafasnya yang berat bisa kudengar dengan jelas. Dan jemari tangan yang menyentuh mukaku.

 

“Dia cantik”suara itu ada di dekat telingaku.

“Ha-ha-ha”suara yang lain.

“Bagaimana kalau sedikit kusuntik dia dengan ramuan ajaibku itu?”

 

Suntik?

 

“Kita tak punya banyak waktu”langkah –langkah lain mendekatiku. Kini, aku yakin ada dua orang yang berada di samping kepalaku.

 

“sayang sekali ya kalau begitu”.

 

Ada jemari lain yang menekan mataku dengan keras. “Buka matamu..aku tahu kamu tidak pingsan”dia berbisik. Berbeda dari jemari yang tadi. Kulitnya ditutupi kaos tangan karet, kukira begitu.

 

Aku membuka mata cepat –cepat.

 

Dia tidak memakai topeng. Dan, itu adalah wajah yang sama sekali tidak kukenal. Garis mukanya keras seperti karakter –karakter jahat yang sering kulihat di film. Dengan melihat mukanya saja aku bisa mengira kalau dia adalah orang yang suka melakukan penyiksaan. Dia sama sekali tidak meperlihatkan ekspresi. Datar, mulutnya terkatup rapat. Dia melihatku seperti melihat seonggok barang saja. Dan, entah kenapa, aku bisa melihat matanya begitu berkilat –kilat mengerikan.

 

Matanya berwarna ungu tua. Aneh.

 

“Mir? Namamu Mir?”dia melihat pada label nama yang menempel di baju lab –ku. Dia memperhatikan namaku, tapi untuk apa ?

 

Mata ungunya yang aneh itu, rasanya aku pernah melihatnya. Tapi aku lupa dimana, dan siapa. Atau mungkin aku salah mengingat. Atau pikiranku sudah mulai kacau dengan imaji penyiksaan yang akan kuterima nanti.

 

Jemari tangannya yang berbalut karet itu tiba –tiba bergerak ke pelipis kananku, perlahan –lahan. Aku merasakan udara dingin menyusupi kulit kepalaku. Makin lama makin dingin, nyaris bagaikan es. Kepalaku berdenyut –denyut sakit.

 

Aku memejamkan mata sambil menangis. Kepalaku sakit sekali, aku tidak tahan lagi. Pusing, seperti diputar –putar tanpa henti. Lalu rasa dingin itupun hilang. Aku tak bisa bergerak sedikitpun, membuka matapun tak bisa. Kurasakan kedua jemari tangan orang itu memegang kepalaku.

 

Aku berusaha membuka mata. Tidak. Aku tak boleh lengah sedikitpun. Walaupun otakku seperti ditusuk ribuan jarum, aku membuka mata. Rasanya mataku perih sekali. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Pandanganku tertutup air mata, dan jangkauan pandanganku makin menyempit.

 

Mata ungu itu berada tepat di depanku. Dia menatapku.

 

Mata ungu itu…

Iya. Tiba –tiba aku ingat sesuatu. Aku ingat sekarang.

Bukankah itu adalah mata yang mirip sekali dengan Sawa Andros?

***

(bersambung)

6 thoughts on “Zig Zag

  1. Hmm….

    Diminta kritik?

    Ini… gaya berceritanya seperti melamun untuk diri sendiri. Kalau bercerita pada orang lain, pada pembaca, tariklah mereka ke duniamu, dengan tutur yang melibatkan seakan mereka di alam cerita yang sama. Jangan terlalu kaku, jangan terlalu baku, karena pembaca bisa merasa berada di alam barzah:mrgreen:

    Alahh…. ini cuma pendapat pribadi saya saja, jangan dimasukkan ke hati😀

    Like

  2. Saya tak bisa mengomentari banyak jika belum membaca bagian ke-2.

    Saya tunggu.😛

    .
    .
    .

    @ Alex©
    He, kenapa malah berpose macam editor dikau? Kita sebagai penculik semestinya sangar sedari mula! Aaah, sudahlah. Kau bius saja lagi dia, dan kita nikmati tubuhnya kembali lagi melanjutkan latihan adu catur kita, soale Agustusan bentar lagi, je. Lomba catur nanti kita mesti menang! Jangan sampai lagi kita jadi pecundang macam tahun lalu itu!

    Like

  3. @ syeikh projen

    Pose itu diminta oleh yang bersangkutan, tak lain tak bukan, satu-satunya dan cuma satu-satunya, empunya blog ini sendiri. Benarlah demikian adanya, wahai syeik projen yang diberkahi Tuhan….

    *baca buku catur bobby fischer*

    Like

  4. @ kalipah Alex©😯
    Bah!
    Dirimu bukannya online di Y!M atau di pesbuk itu buat sekadar menyapa umatmu, malah cuma nangkring di blog orang?

    *buka halaman pertama The Complete Idiot’s Guide to Chess*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s