[Mini Fiksi] Malam Abadi

1

“Maukah semalam dengan saya, Tuan?” perempuan itu membungkukkan badannya kesekian kali –dia tak dapat menghitungnya lagi, kepada sebuah mobil yang berhenti tak berapa jauh dari pinggir jalan tempat ia berdiri kaku karena kedinginan. Tak ada siapapun di sekitarnya karena hujan belumlah reda sepenuhnya. Hanya dia seorang yang nekat berdiri di tepi jalan.

Malam mulai menua dan lebih dingin dari sebelumnya, bercampur sisa-sisa hujan, dan dia ingin segera pergi dari tempat terkutuk itu.

Mobil itu mundur perlahan-lahan, mendekatinya. Kaca bagian depannya terbuka sedikit, lalu seorang lelaki melongok dari balik kaca. Menatapnya. Menawarkan transaksi yang akan terus diingat olehnya seumur hidup, mungkin setelah itu.

Transaksi pertamanya.

“Siapa namamu?”lelaki itu bertanya dengan suara tertahan.

“Nina”tidak perlu menyebutkan nama sebenarnya untuk orang yang akan dia lupakan selamanya, begitu pikirnya.

“Berapa?”

“Untuk keperawanan saya, 20 juta”

Continue reading

S a r i t e m

Aku melihatnya pertama kali pada akhir bulan Oktober, pertengahan musim hujan yang suram. Namanya Nina, dan aku mencintainya. Dia mengenakan gaun pendek biru muda, turun dari taksi dan masuk ke sebuah bangunan bertingkat dua di jalan itu. Ini adalah kawasan dimana kau yang mengaku diri sebagai manusia baik -baik akan mengutuknya dengan keji. Pada siang hari, kau tidak akan melihat apapun selain kehidupan biasa yang sepi di pinggiran kota. Tapi saat malam tiba, tempat ini menjadi Las Vegas. Tapi Nina tidak seperti kebanyakan wanita -wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil bagus yang lewat. Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu.

Aku selalu mengamati tiap laki -laki yang selalu membawa Nina dari kejauhan. Bagiku, Nina menjadi semacam penghiburan saat aku penat kerja dan aku melongok keluar jendela untuk melihatnya. Dengan melihatnya, aku mendapat kebahagiaan yang menggerakkan semangatku.  Aku ingin juga menemuinya dan berbicara dengannya. Kesempatan itu datang saat sebelum tengah malam Nina keluar dari gedung sendirian. Dia menundukkan wajahnya sambil memeluk jaket kulitnya. Dia sepertinya buru -buru, tapi aku menghadangnya di trotoar saat dia hendak menyetop taksi.

“Kamu punya uang berapa?”tanya Nina. Aku memang tidak membawa mobil. Aku hanya punya sepeda motor.

” Tidak banyak, tapi kita bisa mengobrol saja, aku…”

Continue reading

Rain On a Beautiful Day

Mya memperhatikan hujan dari balik kaca jendela kamar itu. Tidak besar hujannya, hanya tetesan kecil mirip jarum putih yang jatuh satu persatu dari langit. Suaranya masih belum mengalahkan hatinya yang masih terus berbicara.

Dia duduk di atas tempat tidur yang ditutupi seprai putih. Kedua kakinya ditekuk di bawah dagunya, dan kedua tangannya melingkari kedua betisnya. Di depannya, seorang laki –laki muda sebaya dengannya berbaring di atas kursi panjang. Laki –laki itu menyilangkan kedua tangannya di bawah kepalanya dan matanya terpejam.

Mereka tidak berbicara.

Lalu, tiba –tiba laki –laki itu berkata padanya, “kau harus pulang”.

Continue reading

Suamiku

Aku tidak ingat bagaimana mulanya ini bisa terjadi. Seperti mimpi –tiba –tiba kau sudah berada di sana tanpa tahu awalnya. Aku memasuki pintu rumah dari depan, dan tiba –tiba aku seperti berada di dunia lain. Rasanya bentuk rumahku berubah –aku ingat detil rumahku, dan ini jelas ruangan yang tidak kukenal.

Di ruangan depan tampak kesibukan. Banyak orang berlalu –lalang. Banyak makanan dan perabotan rumah tangga berserakan di tiap sudut ruangan. Suara berisik, orang –orang tertawa, berbicara, dan sibuk mengurusi sesuatu. Di dapur juga begitu. Ini seperti sisa –sisa ritual sebuah resepsi. Memangnya mereka sudah atau sedang merayakan apa?

Lalu aku melihat ibuku mendekatiku, “kamu kemana saja?”tanyanya. Dia juga tampak sangat sibuk.

“Aku? Tidak kemana –mana”

seseorang muncul di belakang ibu. Ibu menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Orang itu juga tersenyum. Dia menghampiri kami. “Siapa dia?”bisikku pada ibu.

“Lho, apa maksudmu? Dia kan suamimu”ibu memandangku dengan aneh.

Suamiku?

Continue reading

A b a d i

aku melihatmu.

Kamu berbaring di situ, lemah dan rapuh.  Seperti sudah mati. Tapi aku selalu memastikan bahwa secara biologis kamu masih hidup. Nafasmu masih bisa kurasakan.  Wajahmu semakin tirus dengan lekukan mata yang semakin mengecil. Tubuhmu bagaikan onggokan tulang belulang yang kurasa, jika tertiup angin sedikit saja, tubuh itu akan melanting terbawa angin.

“Ini hari apa?” itu selalu yang kamu tanyakan padaku, setiap harinya. Kamu berusaha membuka mata, perlahan –lahan. Dan aku melihat bola matamu yang hitam semakin kehilangan cahaya.

“Ini hari kamis. Jangan buka matamu dulu, jangan cepat –cepat”aku selalu khawatir bahwa sinar yang terlalu terangpun akan menyakitinya.

“Oh, masih kamis? Bukankah kemarin juga kamis? Kenapa setiap hari aku merasakan hari yang sama?”tanyamu dengan parau.

Continue reading