Ci – : Euh….Ini Soal Makanan

Saya teringat ketika seorang kawan bloger mengatakan dalam obrolan kami beberapa tahun lalu, bahwa salah satu ciri khas Jawa Barat adalah nama kota-kotanya yang berawalan Ci. Misal, Ciamis, Cikoneng, Cimahi, Cibodas, Cisarua, Cisangkan, dan lain sebagainya. Saya pikir-pikir, benar juga ya. Ci memang telah menjadi ciri khas nama kota di daerah Sunda. Ci sendiri merupakan kependekan dari kata dalam bahasa sunda, yaitu cai (artinya, air). Konon menurut Jakob Sumardjo, penggunaan kata ci tersebut erat kaitannya dengan budaya air sebagai salah satu sumber kehidupan.

Ternyata, selain nama kota yang didominasi oleh awalan ci, nama jajanan khas sunda pun (terutama Bandung) ada yang menggunakan awalan ci. Tidak banyak sih-tentunya tidak sebanyak varian jajanan Bandung itu sendiri yang ampun-ampunan. Ci dalam nama makanan tersebut merupakan kepedekan dari aci (tidak jauh berbeda dengan cai ya, haha), atau dalam bahasa indonesianya berarti tepung maizena. Selain jajanan berawalan ci, ada juga beberapa yang merupakan singkatan dari bahan dasar jajanannya itu sendiri.

Continue reading

M o c i

Sebenarnya, pada awalnya saya tidak terlalu suka dengan kue moci. Kue moci yang saya tahu adalah oleh –oleh dari Cianjur yang dikemas dalam besek –besek kecil (anyaman bambu) beberapa buah. Isinya berupa bola –bola kecil berwarna kehijauan dan tepung putih yang membalutinya. Saking kecilnya ukuran kue moci ini, sekali hap makan bisa beberapa biji sekaligus. Rasanya manis dan kenyal. Isinya biasanya kacang  yang dihaluskan. Kadang –kadang, kalau membeli terlalu murah, kue moci-nya bisa saya bilang sebagai ‘kue moci palsu’ karena basi atau keras dan tidak layak makan.

Continue reading

Mie Aceh

Pada suatu hari, ketika sedang bermotor -ria (sebenarnya saya hanya dibonceng saja, seperti biasa) menuju kosan, saya melewati sebuah cafe kecil di pinggir jalan yang selalu sepi setiap saya lewati. Ya. Nama tempat makan itu adalah Mie Aceh. Dan sudah tentu menu utamanya adalah mie yang katanya dimasak dengan bumbu dan rasa khas Aceh. benarkah demikian? Sebagai penikmat kuliner, saya tidak sabar ingin mencoba mampir ke sana. Dan kebetulan kawan saya pun mengamininya. Kami pun meluncur ke tempat makan tersebut.

Pertama -tama, kami bingung memilih menu. Namanya sih sudah betul, Mie Aceh, karena menu utama di sana adalah mie goreng aceh. Terus apalagi? ternyata tidak ada lagi. Ya cuma satu menu itu. Yang lainnya merupakan makanan biasa yang bisa kita dapatkan dari warung mana saja. Kedua, minuman khas bernama teh tarek. Saya deg -degan, minuman apa pula ini?

Kami pun memesan mie goreng aceh dan teh tarek. Setelah melihatnya, barulah saya menyadari satu hal; ya ampun, ini porsi sepertinya buat laki -laki ! Dengan piring super gede dan bumbu yang ‘kolonyoh’ (sangat berminyak) bisa dipastikan rasanya…. ahem, ya gimana ya… Kawan saya sampai geleng -geleng kepala dan membayangkan bahwa nantinya sebagian dari mie itu akan masuk tong sampah karena tidak muat di perutnya.

Bentuk mie -nya tidak seperti mie yang biasa kita masak. Tapi besar -besar dan panjang. Wah, mie raksasa !!! Saat saya mulai memakannya, ada semacam rasa aneh di sana. Rasa yang tidak biasa, dan yah…sangat berminyak. Bumbunya mungkin bagi saya terlalu lekat sehingga beberapa suap saja membuat saya merasa mulai enek. Tapi berhubung saya sangat lapar, maka bantai saja !!!

Setengah jam kemudian kawan saya sudah menyerah, dan setengah porsinya dia biarkan begitu saja. Dia malah menyemangati saya untuk menghabiskan mie itu. Saya sebetulnya sudah sangat enek, tapi karena sayang kalau makanan itu menjadi mubazir, saya paksakan telan perlahan -lahan saja. Saya lupa bahwa setelah makan mie itu, saya memesan teh tarek yang porsinya berada diluar bayangan saya.

Teh tarek disajikan dengan gelas yang super gede dan tinggi sangat. Saya sampai merinding melihatnya karena perut sudah tidak kuat menampung makanan. Bentuk teh tarek serupa air susu coklat. Kata kawan saya, itu adalah teh khas aceh, teh tapi dicampur semacam susu dan rempah -rempah, dan entah apalah.

Saya coba mencicipinya, dan yah, rasanya…agak aneh. Dengan aroma yang aneh pula, hm, semacam aroma yang tidak saya kenal. Mustinya teh itu bisa saya minum habis andai perut saya tidak dijejali mie aceh tadi. Ada semacam rasa kesat yang membuat saya tersendat meminumnya. Saya pun menyerah. Teh itu hanya saya minum setengahnya saja.

Sesudahnya, saya benar -benar tak bisa bergerak karena rasa enek yang luar biasa. Sepertinya saya tidak terbiasa dan tidak terlalu cocok dengan jenis masakan tersebut. Saya ragu untuk bisa memakannya lagi nanti.

Tapi, bisa merasakan beraneka ragam kuliner dari daerah yang berbeda merupakan kesenangan tersendiri. Saya ingin mencicipi lebih banyak lagi masakan yang berbeda dari daerah yang berbeda.

Terima kasih kepada sang kawan yang sudah menemani saya berpetualang ke aceh, hehe. Lain kali, kita berpetualang ke daerah lain ya.

Dan inilah oleh -olehnya. Selamat menikmati.

The Art Of Cooking

Satu hal yang saya pelajari dalam beberapa tahun terakhir ini, selama tinggal dengan teman yang hobi memasak, bahwa ternyatamemasak itu adalah hal yang menyenangkan. Karena memasak menurut saya adalah skill yang sungguh mengagumkan, terlepas dari skill itu dimiliki oleh laki –laki atau perempuan.

 Dulu saya sering menganggap kegiatan memasak itu terlalu merepotkan. Apalagi dengan bumbu –bumbu beragam yang berbeda untuk tiap masakan. Saya tidak bisa menghapalnya dengan cepat, dan juga tidak terlalu bisa mengatur takaran bumbu tersebut. Kalau takarannya kurang pas, bisa –bisa rasanya jadi mengerikan.

 Ibu saya mengatakan bahwa bagi kaum perempuan, kemampuan memasak adalah hal yang wajar dimiliki. Tapi bagi saya, hal itu tetap istimewa (mungkin karena saya sendiri sampai saat ini masih awam dalam masak memasak). Menurut beliau, bagi perempuan, setelah terbiasa memasak maka tidak perlu khawatir dengan takaran –takaran bumbu yang tidak pas. Sebab dengan sendirinya feeling –lah yang berbicara.

 Bagi saya, ya, kemampuan memasak yang enak merupakan hal yang luar biasa mengagumkan. Saya ingin sekali bisa memasak yang sangat enak. Alasannya sederhana saja, walaupun dibilang konservatif atau apapun itu, tapi memasak adalah satu ungkapan cinta. Walaupun tidak untuk alasan komersil, tapi minimal, dengan masakan yang lezat yang dimasak dengan sepenuh hati dan perasaan, saya bisa menyuguhkan masakan itu bagi orang yang saya kasihi. Karena apa yang dimakannya akan mengendap dalam tubuhnya, menjadi energi untuk beraktivitas dalam kesehariannya. Sepertinya akan sangat menyenangkan saat melihat orang yang kita kasihi makan dengan lahap seluruh makanan yang kita buat itu kan?

 Lalu rasa? Ya itulah yang mesti dipelajari dan cari terus ilmunya. Kadang memang agak mengesalkan jika masakan tidak enak terus, seperti yang terjadi dengan saya, hehe. Alih –alih membuat masakan terlezat sedunia (jadi ingat postingan lebay saya di blog lama ”Masakan Mina Paling Enak Sedunia), malah terjadi insiden melulu saat memasak. Parah juga.

 Akhir –akhir ini saya sedang kesengsem masak nasi goreng terus, sampai enek melihat nasi goreng. Tapi sayangnya, di kosan yang baru sekarang belum ada fasilitas memasak jadi belum bisa masak lagi. Uh….

 Tetapi pujian untuk ’masakannya enak’ bisa membuat saya meloncat –loncat kesenengan. Di rumah, adik laki –laki saya dan Bapak saya termasuk sangat kritis soal rasa masakan. Pada awalnya, adik saya selalu menghina –dina masakan saya, tapi ludes dimakan juga ternyata. Rupanya rasa sayangnya ke saya melebihi rasa masakan yang tidak enak, atau mungkin dia sedang kelaparan. Tapi saya sangat senang. Bisa memasak untuk seluruh keluarga, walaupun masakannya semacam sayur sop yang terlalu banyak pedes –nya atau terlalu sedikit air –nya sehingga asin tak terkira. Tetapi lama -lama, adik dan Bapak saya mengatakan, “lumayanlah”. Haih senengnya~.

 Yah, memasak dengan hati. Untuk orang yang dicintai. Menyenangkan sekali !!! Saya ingin bisa memasak se –enak –enaknya. Semangat !!!

Selamat memasak, ya.

(gambar dari sini)