Bersenam-senam Dahulu, Bersehat-sehat Kemudian

Selama ini, saya tidak pernah mengikuti senam rutin yang diselenggarakan oleh sanggar-sanggar senam berbayar ataupun yang gratisan tiap hari minggu di lapangan atau di parkiran supermarket. Olahraga yang pernah saya lakukan dalam rangka mengamalkan ajaran hidup sehat hanyalah olahraga formal yang diselenggarakan sekolah (waktu jaman sekolah). Sedangkan setelah kuliah dan lebih tua dari itu, saya hanya berolahraga seperlunya dengan berlari, kadang-kadang badminton (dan saya tidak pernah bisa badminton sampai sekarang).

Ketika mendengar cerita teman-teman yang bergabung dengan klub sanggar senam, yoga, aerobic dan sejenisnya, yang terpikir oleh saya adalah kumpulan wanita-wanita kecentilan yang menghamburkan uang untuk kecantikan diri mereka, dan terutama karena ingin mendapatkan tubuh yang langsing. Saya membayangkan bahwa isi sanggar adalah tante-tante dan ibu-ibu muda/tua yang kelebihan berat badan, sejenis para perempuan arisan yang banyak duit dan banyak gaya. Buat saya itu terlalu glamor dan saya tidak terlalu merasa penting untuk mengikuti senam terprogram seperti itu karena sudah kurus.

Continue reading

Salah Persepsi Tentang Tuberkulosis (TB) Dan Penularannya

Berapa banyak dari kita yang baru aware terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan setelah mengalaminya sendiri? Saya termasuk salah satunya, dan pengetahuan itu dibayar dengan sangat mahal. Apalagi bagi penyakit yang tidak ‘sejuta umat’ seperti flu, seandainya tidak menjangkiti diri sendiri biasanya sangat males dan careless untuk mempelajari penyakit tersebut.

Trus, TB itu apaan sih?

Dulu biasanya di singkat TBC, sekarang hanya TB, penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis, dan Indonesia adalah pemasok pasien TB yang masuk dalam 5 besar di dunia setelah India, China, dan Afrika Selatan. Kuman TB tersebar di mana-mana, mungkin ada di sekitar tempat anda berada sekarang. Jadi semua orang beresiko terkena kuman ini. Nah masalahnya, situ sudah tahu belum apa sebenarnya TB, jenis-jenisnya, cara penularan dan cara pengobatannya? Infonya sebenarnya sudah banyak di internet, tapi balik lagi ke pernyataan saya di awal, biasanya kita baru ‘ngeuh’ kalau sudah mulai terjangkit.

Continue reading

Jackpot Daging Sapi

Sejak kecil saya jarang makan daging, terutama daging merah. Keluarga saya tidak membudayakan mengkonsumsi daging. Kalau pun ada menu daging, paling daging ayam dengan kuantitas yang sangat sedikit. Kami terbiasa memilih daun –daunan daripada daging. Maklum di kampung. Daging adalah menu yang sulit habisnya dan mahal, tidak terjangkau, jadi jarang ada di rumah. Setiap hari raya qur’ban dan keluarga kami kebagian jatah daging –terutama kambing, ibu saya hanya mengolah daging tersebut kemudian membagikannya lagi kepada tetangga. Kami sekeluarga tidak suka daging kambing.

Lalu, tahun kemarin –tepatnya saya lupa, seorang teman kerja sengaja membawakan saya sepotong rendang daging sapi berukuran kecil. Karena dia sudah memasaknya sendiri dan membawakannya untuk saya, saya pun membawanya pulang untuk dimakan di kosan saja. Waktu itu, saya memang jarang sekali makan daging sapi, jadi saya lumayan harus menunggu lama munculnya mood makan. Akhirnya saya memanaskan sepotong daging kecil tersebut dan baru sempat memakannya keesokan paginya.

Continue reading

Lari 40 Menit Tanpa Henti

Dari sejak SMP, sebenarnya saya tidak terlalu suka olahraga. Saya tidak pernah menguasai satu cabang pun dari jenis olahraga. Paling –paling hanya lari dan bola tangan, saya kira semua orang bisa melakukannya karena keduanya tidak memerlukan kemampuan khusus. Olahraga semacam bola voli atau bulutangkis yang menurut kebanyakan orang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun (gampang dipelajari), saya pun tidak bisa memainkannya. Biasanya, bahkan saya sama sekali tidak bisa melakukan serve dengan baik.

Saat voli, serve saya seringkali tidak sampai di daerah lawan dan tidak melampaui net. Kemungkinan karena kurang tenaga (kata orang –orang sih begitu), atau sebenarnya karena saya tidak tahu caranya menyimpan tenaga di tangan dan memukul bola sehingga bisa melampaui net. Saya tidak pernah berlatih untuk melakukan olahraga –olahraga semacam itu. Apalagi berenang. Jangan ditanya (-_-).

Continue reading

D r e a m e r

Saya sering bermimpi, dan mempunyai ingatan yang kuat terhadap beberapa mimpi tersebut. Bahkan, mimpi yang terjadi saat saya di SMP – pun masih bisa saya ingat dengan baik, dengan detilnya. Hanya saja, mimpi -mimpi tersebut didominasi oleh hal -hal aneh, weird, dan menakutkan. Saya sama sekali tidak pernah bermimpi hal yang membahagiakan, apalagi romantis (ahem).

Tapi, benarkah kita cuma bisa mengatakan ‘ah, namanya juga mimpi’ terhadap rangkaian mimpi -mimpi yang bahkan, saking seringnya, lama -lama saya pernah sadar bahwa saya sedang bermimpi? Apakah ini gejala lucid dream (kondisi dimana kita sadar sedang bermimpi) ? Lucid dream bisa menjadi topik tersendiri, tapi saya ingin membahas mimpi yang pernah saya alami.

Sebagian mimpi yang saya ingat dengan baik dari sejak kecil adalah : melihat mayat bayi yang membiru di dalam lemari pakaian di kamar orang tua -bayi itu bertumpuk di atas pakaian, melihat kepala bergelantungan di atas pohon di depan rumah saya -saya melihatnya dari kejauhan, naik motor besar tapi tidak bisa di rem sampai nyemplung ke kolam, dikejar pemerkosa dan terjebak di tengah sawah dalam sebuah gubuk -saya bersembunyi di situ dan dalam keadaan terjebak saya tiba -tiba bangun dari mimpi, rasanya waktu itu saya mulai sadar bahwa saya harus bangun jika ingin menyelamatkan diri dari tukang gangbang tersebut, melihat orang yang saya sukai menangis di pinggir kolam di belakang rumah tetangga -dia menangis karena badannya menyusut kecil menjadi seperti kurcaci, main ayunan di balkon lantai 2 lalu jatuh menimpa seseorang, ayah saya berubah menjadi manusia serangga yang menular dan menyebabkan seluruh populasi manusia menjadi monster, mimpi menjadi mantan PSK yang terjebak di daerah konflik di luar jawa dan bertemu kawan lama, berada di ruangan kosong putih dan dihampiri seseorang yang mengatakan dia lelah sambil menjatuhkan kepalanya di bahu saya (ceileee), dan masih banyak lagi.

Dulu, teman saya pernah menceritakan pengalaman mimpi ditindih sesuatu -atau dinamakan eureup -eureup dalam bahasa sunda. Karenanya, fenomena mimpi ini sering dikaitkan dengan gangguan makhluk halus. Saya penasaran sekali waktu itu, seperti apakah eureup -eureup ? saat saya gugling, hampir semua gambar yang terkait memperlihatkan hubungan mimpi dengan mistik. Tapi, secara ilmiah, ditindih setan ini dinamakan sleep paralysis, dan tidak ada hubungannya dengan gangguan makhluk halus.

Dan akhirnya, tahun kemarin saya mengalami sleep paralysis. Walau saya masih penasaran dengan penyebabnya, kemungkinan saya kurang tidur atau depresi sih. Tapi, kurang tidur ? rasanya saya selalu tidur seperti bayi selama ini, mesti 8 jam !

Dalam mimpi tersebut, saya terbangun dari tidur (jadi mirip mimpi level 2-nya film incepton ), dan berada di dalam kamar bersama seorang teman yang masih tertidur nyenyak. Sebelum saya bangkit, tiba -tiba ada sesosok makhluk di samping saya, bergerak cepat duduk di atas punggung saya (waktu itu posisi saya tengkurap, dalam mimpi). Bayangkan, diduduki sesosok makhluk raksasa yang, anehnya, tidak bisa saya lihat dengan jelas bentuknya. Pokoknya dia sesosok hitam, seperti siluet, tinggi besar dan gendernya juga kabur. Saya hendak berteriak minta tolong, tapi suara tak bisa keluar.

Saya bergerak sekuat tenaga, tapi tubuh saya seperti gepeng menyatu dengan lantai. Tangan tak bisa bergerak, bernafas-pun tak bisa. Padahal saya melihat teman saya tidur dengan tenangnya di sebelah saya, tapi tangan saya tak bisa menjangkaunya. Saya mulai sesak nafas. Itu terjadi selama beberapa lama (saya tak tahu berapa lama pastinya), dan rasanya seperti mau mati saja.

Setelah terus berjuang mengeluarkan suara dan menggerakkan badan dari tindihan makhluk tersebut, lama -lama saya mulai sadar bahwa itu pasti dalam mimpi. Lalu saya tersentak bangun, capek ngos -ngosan dan masih kaget karena ternyata bisa selamat juga. Saya hanya sendirian di kamar tersebut.

Setelah mencari referensi tentang sleep paralysis, ternyata mimpi saya persis seperti itu. Dan saya agak kaget juga dengan penyebab terjadinya gangguan tidur tersebut. Ternyata memang itu nyata!

Mengenai rangkaian mimpi saya yang aneh dan bisa tetap saya ingat itu, seorang teman pernah menyarankan saya membaca buku psikoanalisa Sigmund Freud atau Carl Gustav Jung mengenai teori mimpi, karena sepertinya itu sudah merupakan gangguan kejiwaan bagi saya. Dan saya lebih tertarik dengan teori mimpi Jung yang saya kutip dari sini.

Bagi Jung mimpi adalah upaya memanipulasi reaksi terhadap lingkungan dengan persona sebagai pemeran subyek dalam mimpi. Persona dalam mimpi dapat berwujud berbagai bentuk: figur ibu, laki-laki, perempuan ataupun seribu wajah. Persona memang dapat memerankan arketif, berupa baying-bayang (the shadow). Mimpi adalah gambaran adanya arketipe-arketipe purbakala, seolah-olah mimpi merupakan arena menemukan kembali jati diri kuno sebelum berevolusi.  Misalnya saja seorang bayi yang tidur tenang sambil tersenyum, menggambarkan ia sedang bermimpi hidup di surga, suatu tempat  sebelum ia lahir ke bumi.

Dengan demikian bagi Jung mimpi merupakan bukti adanya dimensi innate religious atau kesadaran beragama yang bersifat bawaan, karena mimpi-mimpi yang digambarkan oleh menusia purba hingga posmodern sekarang ini tetap menggambarkan paradigma pskologis tentang hubungan manusia dengan alam spiritual. Melalui analisa mimpi dari berbagai praktek psikologinya, ia menyimpulkan bahwa adanya kekuatan-kekuatan terpendam yang bersifat religius yang memanifestasi berupa bentuk-bentuk memuliakan, mensakralkan sesuatu di dalam kehidupan manusia (Carl Gustav Jung, 1989: 89

Tapi saya belum selesai mempelajari teori Jung ini, sudah pusing duluan, hehe. Mungkin saya akan mencari ebook-nya, kalau ada.

Apakah anda juga pernah mengalami sleep paralysis? Lucid dream ? Atau rangkaian mimpi aneh?

[Gambar diambil dari sini]

Berkenalan dengan tubuh sendiri

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang perempuan, istri sahabat saya, yang baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor. Tumor nakal itu tumbuh di tempat yang tidak diduga –duga. Beliau bercerita bahwa pada awalnya merasakan adanya sebuah benjolan kecil aneh pada bagian tubuhnya. Tidak sakit. Makanya dibiarkan saja sambil berharap bahwa itu hanyalah benjolan biasa yang akan hilang dengan sendirinya, ataupun kalau tetap ada, bentuknya akan tetap seperti itu.

Tetapi ternyata benjolan itu makin besar, dan mulai terasa sakit. Beliau sudah mulai curiga bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Tetapi ternyata butuh berbulan –bulan untuk mengumpulkan keberanian menghadapi vonis dokter; tumor. Karena merasa takut pada kebenaran yang akan dihadapinya nanti, beliau memilih diam. Dan setelah benjolan itu semakin menyiksa, barulah keberanian itu muncul.

Saya berpikir, seandainya dari sejak awal –masih berupa benjolan kecil, beliau sudah memeriksakan diri ke dokter, rasa sakit itu tidak akan berkepanjangan. Dan tetap saja harus dihadapi, tanpa berkurang sedikitpun. Tetapi yang penting, sekarang beliau sudah dalam tahap penyembuhan.

Dan saya berpikir juga, bahwa saya sekarang memerlukan cermin yang lebih besar dan panjang !

Continue reading

Tetap pe-de dan segar tanpa deodoran

Sejak mulai memperhatikan kondisi tubuh, salah satu hal penting yang saya jaga adalah bagaimana agar tubuh tetap segar dan tidak bau walau telah beraktivitas seharian. Apalagi sejak kecil, ibu saya selalu mewanti -wanti bahwa sebagai seorang wanita patutlah kita menjaga tubuh dan penampilan sebaik -baiknya. Walau sebetulnya ini tentu berlaku dengan tidak membedakan jenis kelamin, tapi tetap saja perempuan itu harus selalu wangi dan rapi, begitu katanya.

Nah, untuk menjaga bau-bauan ini -terutama pada daerah ketiak, biasanya saya memakai deodoran. Awalnya saya pakai yang sejenis bedak, tapi kurang efektif jadi beralih ke kemasan yang lebih praktis. Walaupun pada saat itu saya diberitahu beberapa teman bahwa sebenarnya deodoran tidak terlalu bagus buat kesehatan. Salah satu contoh artikel tentang ini bisa dilihat di sini.

Tapi belakangan ini, setelah lebih peduli lagi pada kesehatan dan tekad saya untuk kembali pada hal -hal yang alamiah, saya memutuskan untuk tidak memakai deodoran lagi. Lha, lalu bagaimana mengatasi bau- bauan yang tidak sedap di ketiak?

Saya memakai air. Kok bisa? Ya, kata seorang teman, air itu adalah parfum alami wanita. Awalnya saya tidak terlalu pede dan takut bahwa jika tidak memakai deodoran dan berdekatan dengan orang, akan terjadi hal yang tidak enak karena sudah terbiasa memakai deodoran, tapi ternyata tidak. Bahkan saya merasa tetap fresh dan tidak ada bau apapun.

Itulah. Mandi sehari 2 kali. Itu highly recommended, secape atau sesibuk apapun sehabis kerja, harus mandi. Tentu mandi yang berkualitas, jangan cuma asal basah  karena kedinginan. Pakai sabun dengan benar, mengganti pakaian setiap hari (sekali pakai), apalagi untuk pakaian dalamnya, diganti sehari minimal dua kali (untuk celana dalam). Sesederhana itu saja; sering mandi. Apalagi diselingi dengan wudhu, jadi lumayan bisa me-refreshkan muka.

Kedua, bisa dibantu dengan memakai minyak wangi atau cologne dibaju. Jangan berlebihan tentu saja, dipakai secukupnya saja, dan disemprotin di atas baju. Tidak pakai cologne juga tidak apa-apa sebenarnya, karena itu juga termasuk bahan kimiawi, tapi untuk membantu me-wangikan, ya bolehlah dipakai secukupnya.

Nah, sekarang saya sudah terbiasa lepas dari deodoran, dan nyaman -nyaman saja rasanya. Lebih nyaman malah. Tanpa protes dari orang di sekeliling tentang bau -bauan tidak sedap.

Ada yang sudah terbiasa tidak pakai deodoran juga? Kayaknya banyak ya sebenarnya yang sudah tidak pakai deodoran.

Diet untuk sehat, Langsing itu Bonus

Dulu saya selalu berpikir bahwa diet itu hanya untuk orang gemuk –untuk mengecilkan ukuran badan; menjadi langsing atau kurus. Jadi, orang kurus tidak perlu diet segala –lha apa yang mau di-diet-in? apa yang mau dikecilin, sudah kecil begitu seperti saya, huhu. Makanya saya selalu mengejek –ejek orang yang tubuhnya kelihatan proporsional, tapi sedang menjalankan diet. Saya selalu berkata, “lha, buat apa diet? Kamu gak gemuk kok. Menyiksa diri aja tau !”

Menyiksa diri. Ya, kalau dietnya diartikan dengan tidak makan atau mengurangi porsi makan secara ekstrim, itu memang menyiksa. Tapi diet itu tidak berarti tidak makan ‘kan?

Belakangan ini saya banyak belajar pada seorang teman di kantor yang sedang rajin ber-diet untuk kesehatan tubuhnya. Beliau mengatakan “diet itu tujuannya untuk sehat. Sedangkan kalau dari proses diet itu kita menjadi langsing atau kurus, itu bonus”. Jadi, diet yang benar itu ditujukan untuk sehat, bukan hanya tentang ukuran tubuh yang ideal. Kalaupun ukuran tubuh sudah ideal tapi tidak sehat, malah percuma juga kan?

Teman saya di kosan pun sedang rajin berdiet –wah saya dikelilingi oleh orang yang sedang diet nih. Tapi teman saya yang ini lebih cenderung menginginkan tubuh yang ideal dan langsing, walaupun tetap menjalankan diet biasa yang tidak ber-efek pada kesehatan tubuhnya. Kelihatannya sih begitu.

Continue reading

Sehat

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengantar adik angkat saya memeriksakan kakinya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Karena hari minggu, jadi kita mendaftar di bagian Unit Gawat Darurat (UGD). Sebetulnya adik saya itu terkilir kakinya, dan cukup parah karena bengkaknya sangat besar, nyaris tak dapat berjalan.

Tetapi alhamdulillah, dia tak apa –apa. Setelah menjalani pemeriksaan oleh tiga orang dokter dan di rontgen, dokter menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tetapi, berkunjung ke rumah sakit selalu membuat saya trenyuh. Perasaan saya penuh membuncah, sedih sekaligus miris. Dalam hati saya berkata –kata, ya Alloh, alhamdulillah bahwa diri saya masih utuh, dan secara physically saya merasa sehat.

Di ruangan UGD itu, berjejer orang –orang yang bermacam –macam rupa fisiknya. Kenapa begini, pikir saya. Kenapa berjejer begini, saya pikir mereka berada dalam kamar/ ruangan sendiri –sendiri sehingga tidak tampak begitu memprihatinkan. Saya memang jarang ke UGD sih, jadi saya merasa heran juga.

Continue reading