Sendal Putus Itu …

Kebayang ga sih jika kalian sedang berjalan dengan penuh semangat di pagi hari menuju tempat kerja yang jaraknya lebih dari 500 m, lalu tiba –tiba sendalmu putus tepat di tengah –tengah; mau balik lagi ke rumah kejauhan, melanjutkan perjalanan juga kejauhan ? masalahnya, kita tak pernah membawa sandal cadangan kan? Lalu bagaimana caranya kita melanjutkan perjalanan?

Ini kejadian kedua kalinya. Dan keduanya benar –benar terjadi di tempat yang tidak memungkinkan kita membeli sandal (walaupun sandal jepit) baru agar kita bisa berjalan lagi seperti biasa. Kejadian pertama, adalah saat  saya pulang dari daerah gegerkalong girang menuju ke jalan dimana saya bisa mendapatkan angkot. Lumayan juga jaraknya, lebih dari 1km lah. Saat itulah tali sandal saya putus dan saya tidak bisa berjalan dengan normal lagi. Tidak ada warung terdekat yang menjual sandal. Untungnya saya tidak sedang terburu –buru, jadi saya bisa berjalan pelan –pelan saja sampai tiba di tempat mangkal angkot dan sempat mencari sandal jepit dulu.

Benar –benar deh.

Continue reading

Menyambut Kebaruan

http://pixabay.com/

Saat saya membuka mata, saya tahu bahwa hari ini adalah hari yang baru. Kemarin sudah usai beserta semua kesempatan –kesempatan yang berada bersamanya. Sejenak mengingat hari –hari kemarin adalah hal yang menyenangkan. Sejenak masa lalu kembali di ingatan seperti potongan slide –slide film yang diputar ulang. Kau seperti melihat melalui sebuah pintu besar –kau berdiri di ambang pintu itu, menyaksikan dirimu yang lain pada masa –masa yang sudah kau lewati sebelumnya.

Ada yang salah. Banyak yang salah di situ –kadang saya berpikir demikian. Tak sadar kaki melangkah melalui pintu itu untuk menggapai seseorang mirip diri kita sendiri di baliknya, untuk menariknya pergi dan mengingatkannya bahwa terlalu banyak hal yang salah yang telah dia lakukan. Tapi tak satupun bagian dari tubuh kita bisa menjangkaunya. Karena waktu tak pernah mengijinkan kita untuk sedetikpun kembali ke sana.

Continue reading

Sederhana Yang Menjadikan Bahagia

Pernahkah kalian menghitung berapa hari dalam seminggu atau sebulan, kalian merasakan satu hari yang sangat menyenangkan? Kesenangan yang tulus dari dalam lubuk hati, membuatmu tersenyum dengan wajah penuh cahaya dan tanpa gurat beban? Sehingga orang lain pun turut merasakan cerahnya hatimu dan tersenyum untukmu -merasa begitu senang melihatmu?

Jika satu hari yang menyenangkan itu adalah hari ini, apa yang bisa membuatmu begitu bersemangat dan penuh senyum tulus hari ini? Sesuatu yang besarkah?

Bagi saya, ternyata tidak perlu hal -hal yang (dianggap) besar untuk bisa merasakan lapangnya hati dan senyuman tanpa beban tiap harinya. Dan walaupun saya tahu tentang hal itu, sayangnya, saya kadang tidak merasakannya setiap hari. Hal -hal kecilpun bisa amat membahagiakan. Hal -hal kecil pun teramat berharga dan memompa semangat hidup, untuk bisa berpikir lebih terang benderang bahwa kehidupan menyimpan banyak hal yang menyenangkan, yang kadang luput dari kita karena kita terlalu memikirkannya dengan rumit.

Tidak perlu berjalan terlalu jauh tiap harinya. Tidak perlu traveling out of town, jalan -jalan di mall, belanja -belanji, atau sekedar nonton dan hal -hal lainnya yang kadang kita terbatas melakukannya. Tapi, yang seringnya saya lupa, bahwa kebahagiaan tulus bisa didapat dari dalam rumahmu sendiri -bersama orang -orang yang tiap hari bersama denganmu. Yang seringnya luput dari pengamatanmu saking seringnya bertemu.

Continue reading

Menghilang

Kita sering bermain di taman itu. Semua permainan terasa begitu menyenangkan. Kamu selalu tertawa ceria. Semua baik –baik saja.

Dan, tiba –tiba, suatu hari saat bermain di halaman belakang rumahku, kamu berkata kepadaku, “mau bermain sesuatu yang menarik?”.

“Ya, tentu saja. bermain apa?”

“Menghilang”

“Menghilang? Maksudnya bagaimana?”

“Ya, menghilang. Kita suit dulu untuk menentukan siapa yang bermain pertama kali. Misal aku yang menang, maka kamu harus memejamkan matamu dan memberikan waktu kepadaku untuk menghilang. Lalu kamu harus mencariku sampai ketemu. Setelah itu, baru giliran kamu yang menghilang dan aku yang mencarimu”

“Wah, kedengarannya seperti permainan petak umpet atau ‘ucing sumput’ kalau di kampungku dulu. Tapi kan kita tidak bisa menghilang? Maksudmu bersembunyi, begitu ya?”

“Bisa saja disebut begitu. Tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai menghilang. Kamu tidak akan melihatku lagi selama beberapa saat –yah, mungkin lebih lama dari itu jika kamu tidak berhasil menemukanku”

“Aku pasti akan menemukanku. Aku akan menemukanmu dengan mudah. Permainan seperti itu tidak terlalu sulit”

“Oya?”

“Kita lihat saja nanti”

Lalu kita pun mulai bermain. Saat ber-suit dengan batu-gunting-kertas, ternyata kamu yang menang. Aku memejamkan mataku, dan –seperti katamu, kamu menghilang. Entah kemana. Tanpa jejak. Suaramu awalnya masih kudengar jelas, menghitung mundur. Lalu makin samar –samar.

Suaramu pun menghilang.

Kamu menghilang.

Aku mencarimu. Kemana –kemana. Tapi aku tak pernah menemukanmu.

Sejak saat itu, kamu menghilang. Bertahun –tahun lamanya, tak pernah kembali lagi. Tak pernah kulihat lagi.

Sampai saat ini. Saat kita sudah dewasa, itu wajah terakhir yang kulihat saat memejamkan mata waktu kita masih kecil. Kamu tak pernah lagi tampak dimana –mana. Seakan langit menyembunyikanmu di balik awan –awannya.

Menghilang.

[/end/]

Tentang Berbakti Pada Orang Tua

Kali ini, saya bertanya –tanya, sekali lagi, tentang arti ‘berbakti pada orang tua’. Dulu, saya sering mengatakan tentang keinginan atau cita –cita (yang saya pikir, ini adalah impian standar para anak di dunia), yaitu ‘membahagiakan orang tua’. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, dengan cara bagaimana?

Orangtua (baik yang single ataupun lengkap), punya cara –cara sendiri dalam membesarkan dan merawat kita ,cara –cara yang tak akan pernah dapat kita balas. Kebanyakan para orang tua, akhirnya tidak hidup untuk diri mereka sendiri, tapi untuk anak –anaknya. Dengan demikian, dengan segala kebaikan dan jasa –jasa mereka tersebut maka dalam aturan kehidupan secara universal (tanpa membedakan latar belakang ideologi apapun) anak –anak berkewajiban untuk bersikap baik kepada orang tuanya.

Continue reading

Pahlawan Yang Tak Tercatat Dalam Sejarah

Ada para pahlawan yang tak pernah tercatat dalam sejarah, atau tertulis dengan tinta emas dan berbagai penghargaan bintang jasa. Bahkan, tak pernah diberikan tundukan kepala mengheningkan cipta dalam upacara bendera.

Ada para pahlawan yang hidup dalam hati kita saja, bersemayam dengan indahnya.

Di tengah era orde lama yang penuh pergolakan, laki -laki ini bertahan hidup dalam segala ketebatasannya. Pada saat itu, kehidupan sangat sulit. Masyarakat kecil hidup dalam kelaparan, makan hanya dengan nasi aron, karung goni dibuat pakaian, tak bisa sekolah, dan setiap saat diintip peluru yang bisa datang dari arah yang tak diduga. Kondisi yang sangat mencekam.

Tapi laki -laki ini berhati baja, dan semangat belajarnya tak pernah surut walaupun harus bekerja lebih keras setiap hari.

Saya jadi teringat kisah dalam novel Laskar Pelangi -nya Andrea Hirata, tentang kisah Lintang yang harus menempuh jarak 80 km dengan bersepeda untuk mencapai sekolahnya. Dan, laki -laki ini pun demikian. Dia bahkan tak punya sepeda. Dia berjalan kaki puluhan kilometer, sambil memanggul pelepah batang kelapa yang dikeringkan dan kayu -kayu kering untuk di jual. Hasil penjualan kayu -kayu itu digunakan untuk biaya sekolah, sebab orangtua nya tak bisa membiayai.

Setiap hari, laki -laki ini berangkat setelah subuh, dan pulang malam. Berjalan kaki. Tak pernah mengeluh. Walaupun tapak kaki nya sudah lepuh lebam menandakan kerasnya perjuangan hidup yang telah dilakukannya.

Continue reading

Kupu – Kupu

Di pedesaan seperti tempat saya membesar, menemukan kupu –kupu bukan suatu hal yang istimewa. Kita bisa menemukannya setiap hari di halaman rumah; bertengger di pepohonan atau bahkan masuk ke dalam rumah. Terjebak di dalam ruangan dan kadang tak bisa menemukan jalan keluar. Biasanya saya membuka pintu, dan mempersilahkan dia untuk terbang kembali ke dunianya yang bebas.

Kehadiran kupu –kupu di dalam rumah, bagi saya tidak mengandung makna khusus, hanya merasa ada suatu berkah dan kegembiraan karena bisa melihat hewan cantik itu dekat sekali dengan manusia. Para orang tua kadang percaya bahwa kupu –kupu di dalam rumah merupakan sebuah tanda akan adanya tamu yang berkunjung. Entah apa alasannya.

Continue reading