S a r i t e m

Aku melihatnya pertama kali pada akhir bulan Oktober, pertengahan musim hujan yang suram. Namanya Nina, dan aku mencintainya. Dia mengenakan gaun pendek biru muda, turun dari taksi dan masuk ke sebuah bangunan bertingkat dua di jalan itu. Ini adalah kawasan dimana kau yang mengaku diri sebagai manusia baik -baik akan mengutuknya dengan keji. Pada siang hari, kau tidak akan melihat apapun selain kehidupan biasa yang sepi di pinggiran kota. Tapi saat malam tiba, tempat ini menjadi Las Vegas. Tapi Nina tidak seperti kebanyakan wanita -wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil bagus yang lewat. Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu.

Aku selalu mengamati tiap laki -laki yang selalu membawa Nina dari kejauhan. Bagiku, Nina menjadi semacam penghiburan saat aku penat kerja dan aku melongok keluar jendela untuk melihatnya. Dengan melihatnya, aku mendapat kebahagiaan yang menggerakkan semangatku.  Aku ingin juga menemuinya dan berbicara dengannya. Kesempatan itu datang saat sebelum tengah malam Nina keluar dari gedung sendirian. Dia menundukkan wajahnya sambil memeluk jaket kulitnya. Dia sepertinya buru -buru, tapi aku menghadangnya di trotoar saat dia hendak menyetop taksi.

“Kamu punya uang berapa?”tanya Nina. Aku memang tidak membawa mobil. Aku hanya punya sepeda motor.

” Tidak banyak, tapi kita bisa mengobrol saja, aku…”

Continue reading

Pesan dari Masa Depan [1]

Ingatannya tidak pernah kembali dengan baik. Saat pelupuk matanya tiba –tiba terbuka karena hentakan dari tenaga listrik yang mengalir ke jantungnya, dia mendapati seolah seolah seorang malaikat kecil berkulit hitam telah membangunkannya dari tidur panjang. Bukan seperti putri tidur yang terbangun dengan ciuman seorang pangeran tampan, tapi otak buatannya menerima perintah untuk bangun pada hari itu. Hari dimana sebuah sejarah masa depan telah dimulai.

Ia merekam semua data yang bisa dipandangnya di ruangan itu –dimana ia pertama kali bangun. Sebuah ruangan besar yang porak poranda. Tapi bekas benda –benda dari masa lalu masih berserakan di sana; tabung reaksi, komputer besar, dan berbagai alat percobaan yang sambung menyambung satu sama lain. Semua sudah using ditutupi debu dan sarang laba –laba. Tempatnya berbaring pun tak lebih dari sebuah kapsul seukuran tubuh manusia yang di dalamnya suhu terasa lebih dingin dan mengepulkan asap. Tempat apakah ini, pikirnya.

Continue reading

Rain On a Beautiful Day

Mya memperhatikan hujan dari balik kaca jendela kamar itu. Tidak besar hujannya, hanya tetesan kecil mirip jarum putih yang jatuh satu persatu dari langit. Suaranya masih belum mengalahkan hatinya yang masih terus berbicara.

Dia duduk di atas tempat tidur yang ditutupi seprai putih. Kedua kakinya ditekuk di bawah dagunya, dan kedua tangannya melingkari kedua betisnya. Di depannya, seorang laki –laki muda sebaya dengannya berbaring di atas kursi panjang. Laki –laki itu menyilangkan kedua tangannya di bawah kepalanya dan matanya terpejam.

Mereka tidak berbicara.

Lalu, tiba –tiba laki –laki itu berkata padanya, “kau harus pulang”.

Continue reading

Yang Mati Hari Ini

“Sudahlah. Jangan menangis lagi”aku mengingat kalimat itu sebelum tidur tadi. Tetapi aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sesudahnya. Ibu menyelimutiku dengan tenang, dan aku tertidur. Rasanya aku sudah sangat tenang waktu itu.

Tapi sekarang aku bangun di suatu pagi tanpa mengingat apapun. Rumah sangat sepi, tanpa siapapun. Ayah, ibu, adik, kakak, dan kucing kesayanganku tidak kelihatan. Apakah mereka sedang liburan keluar dan meninggalkanku?

Ah, udara dingin sekali. Tak pernah sedingin ini. Kemarin cuaca masih kemarau, dan rumah selalu terasa panas. Tapi sekarang telapak tanganku seperti bongkahan es saja. Aku bangun pelan –pelan. Aduh, kepalaku sakit sekali. Tubuhku terasa lebih ringan, dan aku seolah –olah melayang tertiup angin. Mungkin ini pengaruh berat badan yang menurun drastis beberapa minggu ini.

Aku membuka jendela. Ah, ini memang sudah terang. Tapi kenapa matahari belum muncul? Aku tak bisa merasakan hangatnya sedikitpun. Sebenarnya, jam berapa ini? Aneh sekali. Di luar pun sangat lengang. Aku tak melihat apa –apa. Kota seakan –akan baru saja ditinggalkan oleh para penghuninya. Keseluruhannya berwarna kelabu, dan langitpun begitu. Aku kedinginan. Aku ingin melihat matahari.

Aku memanggil orang –orang rumah. Tapi tak ada jawaban. Bahkan suara hewan pun tidak aku dengar. Aku tak mendengar apapun: suara air, angin, langkah kaki, desiran pohon, kendaraan, atau apapun. Aku tak bisa mendengar kehidupan.

Di atas meja, di ruang tengah ada setumpuk Koran. Aku mengambilnya. Oh, ini koran kemarin. Di depannya ada berita yang sangat mengerikan; kematian seorang wanita yang kemungkinan bunuh diri di kamarnya sendiri. Ah, berita pun sangat kelam. Aku harus mencari orang –orang rumah. Aku sangat lapar dan takut. Aku sendirian di sini. Tapi kemana mereka?

Aku membuka pintu depan rumah. Udara semakin dingin. Rasanya angin masuk ke dalam tubuhku, menyatu dengan seluruh tulang dan dagingku. Aku berlari ke jalan yang sepi. Tidak ada seorangpun. Aku memanggil ibuku, tapi tidak ada jawaban.

Lalu kulihat samar –samar ada beberapa orang berjalan menuju ke sebuah tempat. Ah, mungkin itu tetanggaku, dan aku harus bertanya pada mereka. Aku berlari mengejar orang –orang itu. Anehnya, mereka menuju ke arah…pemakaman. Ya, aku yakin sekali, jalan ini menuju ke kompleks pemakaman di desaku.

Siapa yang mati hari ini?

Aku berlari mengejar mereka. Di kompleks itu ternyata sudah dipenuhi orang –orang yang mengantar jenasah. Mereka mengelilingi sebuah kuburan yang tampak baru saja dirapikan. Prosesi penguburan sudah selesai, dan mereka sedang mengucapkan doa-doa. Dan, hei, di sana ada keluargaku juga. Semuanya. Oh, seluruh keluarga besarku bahkan ada semua. Mereka tampak sangat berduka. Ibuku menangis tak henti-hentinya di samping ayahku.

Aku mendekat.

Tapi aku tak bisa melihat nisannya, orang –orang di depanku menghalangi pandanganku. Aku menyelinap diantara mereka, bahkan menyenggol beberapa orang karena memaksa lewat. Tapi mereka tak menghiraukan aku.

Aku melihat nisan itu akhirnya.

Namanya memang sudah sangat kukenal.

Itu adalah namaku.

Suamiku

Aku tidak ingat bagaimana mulanya ini bisa terjadi. Seperti mimpi –tiba –tiba kau sudah berada di sana tanpa tahu awalnya. Aku memasuki pintu rumah dari depan, dan tiba –tiba aku seperti berada di dunia lain. Rasanya bentuk rumahku berubah –aku ingat detil rumahku, dan ini jelas ruangan yang tidak kukenal.

Di ruangan depan tampak kesibukan. Banyak orang berlalu –lalang. Banyak makanan dan perabotan rumah tangga berserakan di tiap sudut ruangan. Suara berisik, orang –orang tertawa, berbicara, dan sibuk mengurusi sesuatu. Di dapur juga begitu. Ini seperti sisa –sisa ritual sebuah resepsi. Memangnya mereka sudah atau sedang merayakan apa?

Lalu aku melihat ibuku mendekatiku, “kamu kemana saja?”tanyanya. Dia juga tampak sangat sibuk.

“Aku? Tidak kemana –mana”

seseorang muncul di belakang ibu. Ibu menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Orang itu juga tersenyum. Dia menghampiri kami. “Siapa dia?”bisikku pada ibu.

“Lho, apa maksudmu? Dia kan suamimu”ibu memandangku dengan aneh.

Suamiku?

Continue reading

Biksu dan Penjual Bunga

Biksu dan Penjual Bunga

Oleh : Emina

Ada seorang perempuan penjual bunga di sudut kota ini. Dengan dandanan sederhana, dan sepasang sandal gunung di kedua kakinya, dia berdiri di tepi jalan diantara deretan penjual bunga lainnya. Dia melalui pagi dan sore hari, menenteng keranjang kecil berisi bunga yang sudah dipisahkan dalam tangkai –tangkai kecil. Bunga yang dijualnya hanya satu jenis : mawar merah. Mawar –mawar itu masih segar, warnanya menyala –nyala tertimpa sinar matahari.

Anehnya, dia tidak menawarkan mawar –mawar itu pada setiap orang yang melewatinya di tepi jalan itu. Dia hanya berdiri saja; maka tak banyak yang membeli bunganya. Bahkan hari itu, ia belum menjual satu tangkai pun.

Seorang laki –laki menghampirinya, “bunga mawar itu indah sekali. Warnanya memikat”katanya.

“Iya begitulah. Ini mawar yang sangat istimewa”jawab si penjual bunga.

“Oiya? Istimewa bagaimana? Rasanya dimana –mana bunga mawar sama saja. Tapi yang ini memang tampak segar sekali”

“Ini bunga yang istimewa. Karena ketika anda menghirup harumnya, anda akan melihat surga”

Laki –laki itu mengangkat alisnya. Lalu meledaklah tawanya, “bagaimana itu bisa terjadi? Kau ini bisa saja promosinya”

“Saya tidak bercanda. Saya mengatakan hal yang benar; ini mawar yang langka. Segarnya abadi, dan anda akan melihat surga”sahut si penjual bunga dengan mantap.

“Baiklah, baiklah. Kalau begitu saya beli satu tangkai”

Perempuan itu menggelengkan kepalanya, “maaf, saya tidak bisa menjualnya kepada anda”.

Laki –laki itu menatapnya dengan heran, “lho, bukankah kau menjual bunga itu? Dan tadi kau bilang itu bunga yang istimewa pada saya. Bukannya kau ingin saya membelinya?”

“Tidak. Saya hanya memberitahu anda saja. Tapi saya tidak bisa menjualnya pada anda”

“Lho kau ini bagaimana sih? Seorang penjual bunga seharusnya menjual bunga pada siapapun yang berminat pada bunganya. Bukankah itu tujuanmu berada di sini?”

“Saya berhak menjual bunga ini pada orang yang saya inginkan. Dan saya tidak bisa menjualnya pada anda”

“Kenapa?”

“Saya tidak bisa mengatakan alasannya”jawab si penjual bunga dengan keras kepala.

“Dasar orang aneh…”laki –laki itu tiba –tiba merasa amat kesal karena merasa dipermainkan. Lalu dia pun segera berlalu meninggalkan si penjual bunga. Sekali –kali ia masih menoleh pada perempuan itu, mengomeli keanehannya dan kerena ia merasa sangat tidak dihargai sebagai seorang pembeli.

Dan begitulah, siang pun cepat sekali berlalu. Tak ada satu tangkaipun yang ia jual.

Menjelang sore, perempuan itu berjalan pelan –pelan meninggalkan tempat tersebut. Ia bermaksud untuk pulang. Beberapa langkah dari situ, dillihatnya seorang laki –laki botak mengenakan kain coklat muda sedang berbicara penuh semangat diantara anak –anak kecil di tepi jalan. Rupanya laki –laki itu adalah seorang biksu muda.

Beberapa menit ia memperhatikan biksu itu. Sang biksu sedang membacakan sebuah buku pada anak –anak tersebut. Anak –anak itu mendengarkannya dengan penuh minat. Samar –samar didengarnya sang biksu menceritakan beberapa kisah dongeng dari buku tersebut. Sebuah dongeng yang ia-pun pernah mendengar di masa yang sudah lama ia lupakan.

Perempuan penjual bunga itu duduk di sebuah kursi kayu, masih mendengarkan sang biksu bercerita. Tanpa sadar ia sudah berjam –jam di sana. Setelah biksu itu selesai bercerita dan anak –anak berhamburan entah kemana, ia menghampiri biksu muda tersebut.

“Saya menyukai cerita anda tadi. Saya mendengarkannya diam –diam”kata si penjual bunga.

Biksu itu tersenyum lembut, “senang sekali jika anda menyukainya”.

Perempuan itu mengambil setangkai mawar dari keranjangnya. Mawar yang selalu segar dan berkilat –kilat indah. Diangsurkannya kepada biksu muda itu, “ini untuk anda. Semoga anda selalu berbahagia”

“Bunga yang indah sekali”puji sang biksu. “Tapi kenapa anda memberikannya pada saya?”

“Karena saya menginginkannya. Saya ingin anda menerima bunga ini sebagai hadiah”

“Anda baik sekali, nona. Tetapi itu adalah barang jualan anda, bukan?”

“Iya, tetapi itu tidak masalah. Anda adalah orang yang sangat baik, saya tahu itu. Karena anda telah begitu baik, pada saya terutama, saya ingin memberikan bunga ini”

Biksu itu memandang bunga mawar tersebut dengan agak ragu –ragu. Perempuan itu tersenyum manis, senyum termanis yang ia berikan hari ini. Dia sangat menyukainya.

Biksu itu tidak bergeming. Tangannya tetap diam didepan dadanya. Tetapi matanya yang lembut itu menatap bunga mawar merah yang diangsurkan sang penjual bunga.

Ya. Pada latar belakang itu -di belakang mereka matahari mulai meluncur turun, seorang biksu dan perempuan penjual bunga berhadapan di tepi jalan, dengan sebuah bunga. Dan, sejarah telah dimulai.

Aku tidak memerlukah hadiah itu !

Seorang wanita berkata pada teman laki-lakinya, setengah bercanda- dalam rajukan khasnya, “aku ingin hadiah…. sudah lama tak ada yang memberikan hadiah padaku….” wajahnya bermuram durja, seakan dunia tak pernah berpihak padanya. Seolah -olah ia yang paling menderita di dunia.

“Hadiah?”

“iya… mau memberiku hadiah tidak?”

Laki -laki itu tersenyum geli, “beneran mau hadiah? memangnya mau hadiah apa?”

“iya, mau. Mau banget. Hm… pokoknya hadiah. Darimu tentu akan menyenangkan” wanita itu tiba -tiba menjadi sangat sumringah. wajahnya cerah ceria kembali. Hatinya berbunga -bunga.

“kalau kamu ingin hadiah, baiklah. Akan kuberikan sebuah hadiah untukmu” jawab temannya dengan mantap dan penuh percaya diri.

“Benarkah??? wah…asik! Aku mau. Mau !! Hadiah apa? Mana?”tanyanya dengan tidak sabar. Seperti seorang anak kecil yang diiming -imingi permen lolipop oleh ibunya.

“Nanti dululah. Aku harus mempersiapkan hadiahnya kan. Kalau sudah siap, nanti pasti aku kasih tau, dan langsung kuberikan padamu”

“Oke! Kutunggu ya” wanita itu merasa amat senang.
Tapi beberapa saat kemudian, ia tertegun diam. Seperti baru menyadari sesuatu.

“Kenapa?” tanya temannya.

“Eh, maaf ya. kok aku jadi merepotkan. Padahal tadi aku bercanda aja kok, minta hadiahnya. Maaf ya…jadi ga enak nih..tiba -tiba minta hadiah…”

“haha, ga apa-apa. Santai saja”

“Oke deh”

Beberapa minggu setelah itupun berlalu. Hari demi hari, wanita itu menunggu dengan hati berdebar -debar. Apakah gerangan yang akan diberikan oleh temannya tersebut? hadiah seperti apa? ia sungguh tak sabar menanti datangnya hari dimana hadiah itu akan diberikan padanya. walaupun kesibukan sering membuatnya terkapar, tapi setiap bangun dipagi hari yang dingin dan sunyi, ia selalu bertanya dalam hatinya “apakah hari ini ia akan memberikan hadiah itu?”

Sampai pada suatu hari, sesudah agak lama, wanita itu pun bertanya pada temannya tersebut dengan tidak sabar, “jadi kapan aku dapat hadiah?”

“tenang sajalah. Sebentar lagi kukabari kok. kamu tenang saja, ya. Tunggu saja, sabaaar”jawab temannya.

Ia pun menunggu lagi. Sampai rasa bahagianya menguap. Dan pelan -pelan ia mulai merasa sedih. Ia pikir bahwa mungkin sebenarnya, temannya itu tidak pernah benar -benar akan memberinya hadiah. lagipula, bukankah ia sendiri yang memintanya, bukan?

“Sabar, kenapa sih? kan sudah kubilang buat menunggu saja. Ga sabaran amat sih”kata temannya.

“Sampai kapan?”

“Pokoknya nanti pasti kukabari deh”

hari -hari yang lebih lama dari itupun sudah berlalu. Tidak ada hadiah. Tidak ada apa -apa. Wanita itupun menangis sedih, merasa dipermainkan. Terasa seperti mengharapkan sesuatu yang amat bodoh. Terkadang, sesuatu yang ditunggu beserta harapan -harapan yang terlalu mengawang akan terasa lebih menyedihkan saat tidak menjadi kenyataan. Ia menginginkan hadiah itu. Sangat menginginkannya.

Tapi, untuk apa ia menginginkannya? Apakah hadiah itu sesuatu yang penting, baginya, saat itu? Wanita itu bertanya -tanya sendiri dalam hatinya. Dalam beberapa hari ia terus berpikir, dan akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan yang bisa mengobati perasaannya sendiri.

Aku tidak memerlukan hadiah itu, pikirnya. Tidak dari temannya tersebut, atau dari siapapun. Baginya sekarang, lebih penting untuk memberikan hadiah saja daripada menerimanya, apalagi meminta. Mungkin, itu saja sudah cukup, pikirnya. Ia tidak membutuhkannya.

Maka, pada saat temannya itu menghubunginya mengenai hadiah yang sudah pernah dijanjikan, dengan mantap ia berkata, “maaf, aku tidak menginginkan hadiah itu!”

Confession No. # 1

Ini bukan judul albumnya Afgan (siapa ituh Afgan ?!). Tentu saja bukan.
Tapi ini tentang sebuah cerita yang sudah terpendam cukup lama, sehingga jika disimpan lebih lama maka akan membusuk dalam otak. Lalu menjadi penyakit sampai menyebar ke usus dan sistem pencernaan. Maka ya, aku harus segera membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang disuc ikan dari segala nafsu manusiawi.

Tetapi, aku tidak tahu harus memulainya darimana. Itulah masalahnya. Ini adalah hal yang bisa membuatku tidak bisa tidur selama satu minggu, karena pikiranku selalu terganggu. Terus terang, aku selalu memikirkannya. Cukup memuakkan. Dadaku jadi sesak sekali. Aku mengatakan hal ini pada Ayu, dan dia malah cengar –cengir tidak jelas.

“Aku akan membuat pengakuan suci. Itu saja”

“Ow. Sungguh menakjubkan!” dia menganga.

“Sungguh mengerikan!”

“pengakuan cinta?!” gadis itu menatapku dengan serius. Aku jadi kasihan padanya.

“Si Leo itu…”

“Lupakan saja, Yu” aku mengangkat tangan. Lalu meninggalkannya. Dia kelihatannya masih menganga, tapi aku tak peduli.

Lalu, kuputuskan untuk menemuinya langsung. Untuk membuat pengakuan tersuci, setidaknya sampai saat ini. Kupastikan tidak akan ada nafsu di sini. Aku bisa menyimpan nafas banyak –banyak. Tidak akan ada kontak fisik. Sebab itu akan sangat menyakitkan. Yah, semoga semuanya baik –baik saja. Karena dia orang yang baik, jadi kupikir mengatakan hal seperti ini tidak apa –apa. Lagipula, daripada terkena tuberkulosis (TBC) yang mematikan itu, lebih baik mengaku saja.

Waktunya sudah tepat. Dia sedang bersantai ria di halaman rumahnya, dengan laptopnya. Sedang berselancar di internet mungkin. Aku langsung masuk dan berdiri tegak dihadapannya. Dia mengawasiku sambil tersenyum.

“Uhmm…sedang sibuk?” tanyaku dengan ragu. Mukaku pasti tampak bodoh.

“Tidak juga. Cuma sedang cari bacaan menarik saja”

Lalu kami pun ngobrol. Agak lama. Tentang hal –hal yang tidak begitu penting. Aku juga langsung lupa apa yang kami bicarakan. Lha, lalu kapan mengakunya ini? Sepertinya aku terlalu grogi melihat mukanya. Dia tampak begitu tenang dan segar bugar. Suasana hatinya mungkin sedang sangat baik. Baiklah. Aku agak deg –degan.

“Ada yang ingin kukatakan”nah, aku sudah mulai.

“Katakanlah”

“Sebenarnya aku ingin mengatakannya dari kemarin –kemarin, ah, mungkin lebih lama dari itu. Dari seminggu yang lalu….tapi aku….”

“Ya?” dia asyik dengan laptopnya.

“Ada sesuatu yang terjadi….”kata –kataku tersangkut di leher. Aku diam.

Dia mengangkat mukanya ke arahku. “Ada apa?”

Aku menahan sapuan warna tomat yang sepertinya akan mulai menjalari seluruh wajahku. Oh sial !

“Langsung pada intinya saja ya?” dia tersenyum lagi.

“Leo, maafkan aku ya”

“Untuk?”

“Maafkan aku. Aku memang bersalah. Aku teledor. Aku mohon maaf sebesar –besarnya, sedalam –dalamnya, setinggi –tingginya…”

“Iya, tapi minta maaf untuk apa?”

“Akan kukatakan, tapi berjanjilah kau tidak akan marah”

“Hahaha. Memangnya ada apa?”

“Berjanjilah untuk tidak marah”

“hm?” dia meninggalkan laptopnya, dan mulai fokus padaku.

“Sebenarnya, kejadiannya seminggu yang lalu. Laptopmu yang sangat kau cintai itu, yang kau pinjamkan padaku untuk mengerjakan tugas itu, yang kau beli dengan tabunganmu, yang harganya sangat mahal puluhan juta karena bermerk itu, yang kau bilang ‘laptop ini pacarku’ karena di dalamnya ada data –data penting yang menentukan hidupmu itu, yang berisi seluruh data bisnismu….. rusak gara –gara aku. Aku jatuh dari motor waktu itu, dan laptopmu juga jatuh kebanting. Aku sih tidak apa –apa. Tapi laptopmu hancur sehancur- hancurnya, tak tersisa….”

Sepi.

“Oke. Kau boleh memukulku…tapi jangan di wajah ya”

Bagaimana rupa mukanya sekarang ya? Aku tak berani melihatnya. Wajahku makin panas. Sudah tidak mirip tomat lagi. Aku ingin menangis. Oh sungguh sial !!!

“Yah….” nah itu dia suaranya.

“leo…kumohon, jangan di wajah ya….”

(tamat)

A b a d i

aku melihatmu.

Kamu berbaring di situ, lemah dan rapuh.  Seperti sudah mati. Tapi aku selalu memastikan bahwa secara biologis kamu masih hidup. Nafasmu masih bisa kurasakan.  Wajahmu semakin tirus dengan lekukan mata yang semakin mengecil. Tubuhmu bagaikan onggokan tulang belulang yang kurasa, jika tertiup angin sedikit saja, tubuh itu akan melanting terbawa angin.

“Ini hari apa?” itu selalu yang kamu tanyakan padaku, setiap harinya. Kamu berusaha membuka mata, perlahan –lahan. Dan aku melihat bola matamu yang hitam semakin kehilangan cahaya.

“Ini hari kamis. Jangan buka matamu dulu, jangan cepat –cepat”aku selalu khawatir bahwa sinar yang terlalu terangpun akan menyakitinya.

“Oh, masih kamis? Bukankah kemarin juga kamis? Kenapa setiap hari aku merasakan hari yang sama?”tanyamu dengan parau.

Continue reading

Syair Hujan (1)

Syair Hujan

(sebuah cerpen)

Ada sebuah masa dimana aku sangat membenci hujan. Aku membencinya, karena hujan bisa membuatku repot. Tetapi sekarang, aku selalu merindukan hujan.

Bila hujan mulai turun, aku diam memperhatikannya di depan jendela sambil memandang ke arah taman di depan rumah. Tanpa kusadari –di dalam hatiku, aku selalu berharap akan datangnya sesuatu melalui hujan. Tiap jutaan tetes air yang jatuh ke bumi, aku melihat tahun –tahun perjalanan kehidupanku, sebelum semua ini dimulai.

Beberapa tahun silam, pada saat hujan aku berada di taman itu. Tempat yang selalu sama, di dalam hatiku pun tetap seperti itu. hanya tumbuhan dan bunganya yang terus berganti setiap tahun. Saat hujan turun seperti saat ini, slide masa lalu seolah bermunculan dalam rangkaian airnya. Menjelma kembali menjadi kenangan yang abadi di dalam hatiku.

Di sana, dulu ada sebuah kursi kayu. Sekarang kursinya sudah diganti dengan tembok supaya lebih tahan lama. Aku duduk di kursi itu, sendirian pada awalnya. Lalu kamu pun datang menemaniku. Kita membahas apa yang kamu sebut sebagai ‘senyum yang lugu’. Dan katamu, itulah senyumku.

Kita bicara banyak hal sambil tertawa –tawa. Yah, kita masih sangat muda waktu itu. Dan kita sangat senang menceritakan banyak hal. Aku senang mendengarkan ceritamu –karena setiap mendengarkannya maka pikiranku pun mengembara. Imajinasi yang tercipta tanpa bisa kuungkapkan dengan kata –kata. Walaupun raga tak pernah bisa mencapainya, tapi melalui ceritamu aku seperti bisa melihat seluruh pelosok dunia. Aku berpikir bahwa ternyata dunia ini dipenuhi banyak hal baru. Dan, banyak dari hal baru itu amatlah indah. walaupun tidak semuanya begitu.

Pertemanan yang manis.

Ketika itu, kamu mengatakan bahwa kita akan selalu berteman. Rumah kita berdekatan, jadi kita akan tetap berteman. Kamu juga mengatakan akan menjaga taman ini untukku. Kamu sangat baik, itulah sebetulnya yang kurasakan. Kamu orang baik, tetapi aku sama sekali tidak tahu, apakah di masa depan nanti kamu akan tetap baik ?

Lalu, hujan tiba –tiba turun dengan cepat. Hujan di waktu itu, di penghabisan musim. Hujannya langsung besar. Suaranya bergemuruh menakutkan. Aku sampai tidak bisa mendengar suaramu. Sepertinya, suaramu menyatu dengan hujan, dan itu merisaukanku.

“Jangan masuk dulu. di sini saja. Kamu tak mau hujan –hujanan? Sudah lama aku tak melakukannya”katamu sewaktu aku hendak berlari ke teras rumah.

“Tidak. Aku takut tersambar petir”

“Ha-ha! Tidak akan. Tidak ada petir kan?”

kurasakan kulit telapak tanganku mulai mengkerut. Aku tak bisa menahan rasa dingin lebih lama jika air itu langsung menyiram tubuhku. “Aku bisa sakit. Kadang air hujan itu terlalu keras dan ada asamnya”

“Hujan tak akan membuatmu sakit. Coba saja rasakan airnya!”

aku tak peduli padanya. Aku berteduh di teras. Rambutku basah sekali. Sebagian bajuku juga sudah basah. Sedangkan kamu malah tertawa –tawa di bawah guyuran hujan itu.

semakin lama kulihat kamu, aku jadi ingin tertawa juga. Kamu seperti burung yang disiram air saja. Bajumu tak karu –karuan. Bibirmu memutih seperti platina, dan itu mengerikan.

“Sialan. Aku lupa menaruh bola plastikku dimana. Dulu, kalau hujan aku bermain sepakbola bersama anak –anak sini di kolam kering. Kamu tahu kolam pak RT di belakang rumahku itu kan?”kamu akhirnya berlari menghampiriku. Kamu berdiri di sampingku sambil menggigil.

“Iya. Kukira kamu sudah lupa caranya main bola itu sejak masuk kuliah di kota”

“Yah, memang. Kadang –kadang kupikir sekarang aku sudah melupakan banyak hal di sini..”kamu tertawa miris.

Begitupun aku. Memang begitulah.

Tapi sebenarnya, diam –diam aku kadang iri padamu. Kamu tahu? Karena kamu sangat cerdas dibandingkan anak –anak lain di sini. Kukira, itulah bakatmu. Saat kami masih memikirkan apakah nanti sore kami bisa bermain bola di kolam kering itu, kamu memikirkan untuk membuat lapangan bermain sendiri bagi kami. Sepertinya pikiranmu telah jauh melampaui anak –anak lain. walaupun kadang itu agak menakutkan –kamu terlalu memikirkan banyak hal. Padahal seharusnya, karena kita masih anak –anak, kita bisa bermain dengan bebas tanpa terbebani hal –hal semacam itu.

Karena kamu pandai, seandainya kamu mau –kamu bisa masuk kuliah dimanapun. Tapi aku tak pernah tahu apa yang kamu pikirkan, dan mengapa kamu memutuskan pilihan –pilihan yang tak kupahami.

Yah, aku tidak akan mengatakan bahwa aku memahamimu sebaik kamu memahami dirimu sendiri. Pada saatnya nanti, kehidupan akan berubah. Dan kamu pun juga pasti begitu. mungkin nanti, aku tidak akan mengenalmu lagi.

Lalu, yang kuresapi adalah suara hujan. Airnya yang jatuh ke genting dan ke benda –benda lain menimbulkan berbagai macam suara. Air ini sepertinya ditumpahkan begitu saja dari langit, banyak sekali jumlahnya, dalam waktu yang bersamaan. Hingga suaranya bergemuruh menyelimuti seluruh langit.

Dan, aku merasa sangat aneh, karena suara hujan itu seakan membisikkan sesuatu di telingaku. Angin yang berdesir seperti kata –kata yang ditujukan padaku. ‘Aku –suka –padamu’, begitu bunyinya. Bisikan yang samar –samar, mengalun merdu.

Bisikan apakah yang kudengar itu? apakah aku baru saja bermimpi? Kulihat kamu masih membeku di tempatmu, seperti patung es. Apakah kamu yang menciptakan bisikan itu ?

(Bersambung)