Semacam Catatan Pra Nikah Untuk Sang Teman (Perempuan), Bag. 1

Tulisan ini akan diposting dalam 2 bagian, karena terlalu panjang.

Bagian 1, Budget Pernikahan

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman perempuan berkata kepada saya bahwasanya beliau sedang begitu gundah dan stres akut menghadapi pernikahannya yang tinggal menghitung hari saja. Saya sering menghadapi curhatan serupa sebelumnya, dan dari penjelasan mereka saya mengambil kesimpulan bahwa mereka bukannya tidak merasa bahagia, namun kerap merasa tertekan dan gugup yang berlebihan menghadapi peristiwa paling penting dalam hidup mereka tersebut. Konon, pernikahan itu adalah salah satu impian seumur hidup kebanyakan perempuan, oleh karena itu segala sesuatunya harus disiapkan dan berlangsung dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Bagi mereka yang pertama kali menghadapinya, kebanyakan justru merasa sangat tertekan karena ‘tuntunan’ kesiapan segala macam yang mesti sempurna tersebut. Katanya, ternyata itu semua tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya: melangsungkan akad di depan penghulu, lalu diteriakanlah ‘sah!’, dan bergembiralah semua orang tercinta. Ternyata, para teman ini mengalamai stres berkepanjangan dan kadang perselisihan kecil dengan sang calon suami.

Dari beberapa kasus itu, saya pun berpikir bahwa mungkin hal itu merupakan suatu hal yang biasa menghinggapi para calon pengantin (perempuan). Entah ya, kalau lelaki.

Kebanyakan, kasus stres berkepanjangan ini bermuara dari persoalan materi dan terlalu lelah karena mempersiapkan segala hal menyangkut prosesi akad dan resepsi. Kadang-kadang memang ada yang membentuk panitia khusus –biasanya beberapa kawan dekat yang bersedia meluangkan waktu mengurus segala teknis pernikahan secara keseluruhan, namun ada juga yang diurus sendiri bersama keluarga besarnya saja. Mulai dari persiapan gedung, catering, juru rias pengantin, bolak-balik mengurus segala sesuatu ke penghulu dan pejabat terkait, kartu undangan, baju pengantin dan baju seragam keluarga, rangkaian acara akad, penyambutan pengantin lelaki, resepsi, paket perawatan di salon, dan lain sebagainya. Semua merupakan sumber pengeluaran yang jika dijumlahkan akan mencapai angka puluhan –bahkan mungkin ratusan juta, tergantung paket yang dipilih. Mungkin ada paket-paket sekaligus yang tidak akan merepotkan (semua sudah diurus wedding organizer), tapi tentu  budgetnya harus lebih wah lagi. Bagi yang budgetnya pas-pasan, maka semua diurus sendiri. Dan, yang mengurus semua itu kebanyakan adalah pihak perempuan, karena segala prosesinya dilakukan di ‘tempat’ perempuan. Sang calon pengantin lelaki adalah tamu yang akan datang berkunjung yang nantinya akan disambut bagaikan raja.

Lalu, kenapa sih mesti repot-repot dengan hal-hal semacam itu? Bukankah inti pernikahan adalah ‘sah’-nya akad itu sendiri? Berarti semua sebenarnya bisa disederhanakan dong: cukupi syarat-syarat nikahnya (wali, mahar, kedua mempelai, saksi, dll), ucapkan ijab-qabul di depan penghulu, maka sah-lah pernikahan tersebut. Beres. Satu-dua juta juga cukup (belum termasuk jumlah mahar) ya ?

Oh tentu tidak, karena pernikahan bukan melulu soal menyatukan dua orang mempelai saja, tapi menyatukan 2 keluarga. Keluarga juga terlibat besar. Keluarga punya kehormatan yang harus dihargai dan dijaga. Anak-anak yang akan menikah adalah milik mereka, menjadi citra keluarga di masyarakat. Apa jadinya jika pernikahan dilangsungkan terlalu sederhana dan hanya di depan penghulu saja? Apa kata orang nanti? Jangan-jangan nanti dikira menikah diam-diam, dipercepat, karena ada sebuah insiden. Married by accident, misalnya? Apalagi jika keluarganya termasuk keluarga terpandang, prosesi pernikahan pun harus sesuai dengan adat dan kebiasaan di masyarakat, semegah-megahnya kalau bisa. Walaupun dananya diperoleh dari berhutang sekalipun. Keinginan calon mempelai pun harus disesuaikan dengan keinginan 2 keluarga besar masing-masing. Demikian akan lebih menyenangkan semua pihak.

Ya, pernikahan memang bukan cuma untuk 2 orang saja (mempelai). Karenanya, kembali lagi pada komunikasi dan sosialisasi sejak awal kepada keluarga, tentang proses pernikahan seperti apa yang kita inginkan. Jika bisa dipermudah, bukankah lebih baik dipermudah saja?

Menurut anda bagaimana?

One thought on “Semacam Catatan Pra Nikah Untuk Sang Teman (Perempuan), Bag. 1

  1. susahnya kalau orang tua punya keinginan yang berbeda. Ada orang tua yang berpendapat salah satu bentuk sukses sebagai orang tua kalau bisa menikahkan anaknya dengan semewah mungkin. jadi yaaa… mungkin harus pinter-pinternya ngomong sama orang tua.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s