Gumam Perempuan

Gumam Perempuan

http://www.creativestem.com/artwork/2851

Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan?

Saya memandang ke jendela, mengintip sebaris putih semburat biru tempelan langit dalam sisa-sisa pagi yang hening. Berpikir lagi, dan nyaris dalam bertahun-tahun kehidupan yang saya lewati setelah melampaui akil balig, bahwa tidak ada yang berubah selama ini. Saya memikirkannya, menuliskannya, tapi seringnya belum bisa melakukannya.

Ah, ya, ini sudah tahun 2012 ya?

Apakah masih panjang hidup kita? Sampai manakah kita?

Mungkin, saya merasa semakin menua. Menjadi perempuan tua, tapi belum bisa melakukan apa-apa. Apakah nantinya saya akan menjadi seorang perempuan tua yang menyebalkan karena tidak pernah merasa mendapat kebahagiaan dan sejarah cinta pada masa mudanya? Haha.

Membayangkan seorang bibi-bibi tua yang belum pernah merasakan cinta masa muda, duduk di kursi serupa boneka sambil memegang kipas, membicarkan hal-hal tidak penting, mengomeli anak-anak muda yang makin bebas merdeka dengan kemudaan yang membuat cemburu, dan memperhatikan para keponakan yang masih belia bersama para kekasihnya. Dengan cara-cara yang amat menyebalkan. Semakin tua semakin menyebalkan. Tidak semakin matang dan arif bijaksana. Para kaum muda pun memandangnya dengan penuh kasihan, dan segera tahu bahwa sang bibi adalah perempuan yang tidak pernah merasakan cinta pada masa seusia mereka.

Itu sesungguhnya adalah kecemburan.

Dan saya tidak sedikitpun ingin menua dengan cara-cara seperti itu.

Setidaknya, hati dan pikiran tidak seperti itu. Menjaga kewarasan saja.

Ah, ya, ini tahun 2012. Masih hidup ternyata kita. Dan masih bisa mengubah beberapa hal, tentu saja. Gambaran itu hanyalah ketakutan belaka. Mari rayakan kembali dengan lebih baik. Tapi, hendak seperti apa?

Advertisement

3 Responses »

  1. Cinta, kekasih, kebijaksanaan… semua itu adalah permata dunia. Kita mati-matian mengejarnya, mengharapkan kebahagiaan, namun sesungguhnya semua itu sangat rapuh, terlalu rapuh bahkan. Begitu mudah untuk menghilang, bagai debu tertiup angin.

    Bagaimana kalau menjadi baik dengan… meningkatkan amal? Meningkatkan keikhlasan kita? Senantiasa bertawakal dan beribadah? Berjuang tanpa mengharapkan pamrih, semata-mata demi Yang Maha Kuasa? Amal dan ibadah tak akan rapuh, dan tak akan meninggalkan kita, bahkan hingga Akhir Zaman.

    Saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi wanita. Saya bahkan tidak mengerti bagaimana perasaan mbak sekarang, atau siapa mbak sebenarnya. Namun satu hal yang sangat jelas, adalah bahwa hidup kita tak akan berakhir di dunia ini. Ada keabadian yang menunggu kita di ujung sana. Dan menurut saya, apalah yang lebih baik untuk dilakukan selain mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya guna kebahagiaan dalam keabadian tersebut? :D

    .

    Salam

    • salam. ahmad :)

      terimakasih. saya tercerahkan sekali. dan seperti juga anda, saya tidak banyak mengenal komentator di sini, termasuk anda, tapi saya merasa komentar anda telah begitu dekat. Meningkatkan kualitas kedekatan kepada sang Khalik, yah, itu penting.
      Ini sepertinya rasa galau yang terlalu sinis ya? hehe.

  2. Jadilah diri sendiri.
    jadi seperti apa ?
    jadilah seperti dirimu.
    Jadi seperti apa ?
    Jadilah kamu yang tidak pernah tahu siapa dirimu,hanya karena apa yang kau mau tidak pernah kesampaian,padahal apa yang kamu mau adalah suatu hal biasa,seperti kebanyakan wanita yang lain.
    Jadi harus seperti apa ? seperti apa ? seperti apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s