Lari 40 Menit Tanpa Henti

Dari sejak SMP, sebenarnya saya tidak terlalu suka olahraga. Saya tidak pernah menguasai satu cabang pun dari jenis olahraga. Paling –paling hanya lari dan bola tangan, saya kira semua orang bisa melakukannya karena keduanya tidak memerlukan kemampuan khusus. Olahraga semacam bola voli atau bulutangkis yang menurut kebanyakan orang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun (gampang dipelajari), saya pun tidak bisa memainkannya. Biasanya, bahkan saya sama sekali tidak bisa melakukan serve dengan baik.

Saat voli, serve saya seringkali tidak sampai di daerah lawan dan tidak melampaui net. Kemungkinan karena kurang tenaga (kata orang –orang sih begitu), atau sebenarnya karena saya tidak tahu caranya menyimpan tenaga di tangan dan memukul bola sehingga bisa melampaui net. Saya tidak pernah berlatih untuk melakukan olahraga –olahraga semacam itu. Apalagi berenang. Jangan ditanya (-_-).

Lari, walaupun saya sangat bisa melakukannya (lha iya, siapa sih yang ga bisa lari? :D ), tapi sebenarnya dari jaman SMP saya tidak menyukai olahraga ini. Kenapa? Karena saya berpikir bahwa fisik saya lemah sehingga setiap berlari, saya selalu berakhir di ruang UKS (unit Kesehatan Sekolah). Sampai SMA, sugesti tersebut tetap melekat dan pada akhirnya saya memang selalu tewas terkapar di UKS setelah sebelumnya (maaf) jackpot habis –habisan di toilet sekolah.

Pada waktu itu, saya juga belum tahu cara lari yang benar. Saya hanya melakukan olahraga bukan dengan alasan kesehatan, tapi hanya karena menunaikan tugas pelajaran olahraga beserta nilai –nilainya. Saya bukan tipe penyuka olahraga jadi tidak berminat mengasah kemampuan olahraga apapun !

Namun, setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah instansi swasta, saya bertemu dengan seorang kawan yang begitu bersemangat berolahraga dan menggalakkan hidup sehat. Dari beliaulah saya banyak belajar mengubah pola pikir sempit, dan bahwasanya jika kita mencintai tubuh serta kehidupan kita yang tidak abadi ini, maka kita harus merawatnya dengan baik. Itulah tugas kita. Karena kondisi nyaman hanya bisa diciptakan oleh kita sendiri melalui cara berpikir dan kebiasaan –kebiasaan yang kita ubah menjadi lebih baik.

Salah satu contohnya adalah menyempatkan berolahraga walaupun baru bisa dilakukan seminggu 2 kali atau seminggu sekali (sabtu dan minggu). Saya punya program baru setiap pagi sebelum matahari naik ke ubun –ubun : lari. Kenapa saya memilih lari? Karena hanya olahraga inilah yang paling mudah dilakukan, hehe. Tidak perlu membayar, bisa dilakukan outdoor dimanapun, cukup bermodalkan baju olahraga dan sepatu saja, badan sudah bisa sehat. Karena seperti yang kita tahu, lari merupakan olahraga yang bisa menggerakan seluruh tubuh.

Menurut saya, lari ini adalah salah satu kebiasaan baik. Dan untuk memulainya, duh..emang susyaaaahnya minta ampun. Dulu saya males sekali kalau tidak yang menemani berlari atau masih ngantuk karena kepagian. Tapi kemudian saya bertekad untuk melawan rasa malas karena saat badan kita nyaman dan sehat, kita sendirilah yang merasakannya. Begitu juga sebaliknya. Dan ketika sudah merasa sangat nyaman berlari, ternyata saya malah ketagihan. Saya merasa sangat segar dan tidak capek setelah berlari. Saya begitu menikmatinya.

Baru –baru ini, kawan yang menyemangati saya untuk rajin berolahraga memberikan tips berlari yang tepat sehingga pembakaran lemaknya bisa maksimal. Yaitu: lakukan selama 40 menit tanpa diselingi jalan atau tanpa henti. Awalnya saya berpikir: gubraks, gila apa! 40 menit, apa tidak gempor tuh kaki?

Tapi ternyata, bisa! Ya, ternyata gampang. Lakukan saja pelan –pelan dan bertahap. Lama –lama kalau sudah terbiasa, kita ternyata bisa melakukannya. Saya akhirnya terbiasa berlari 40 menit tanpa henti mengelilingi kompleks perumahan elit sentra duta. Lari-nya pelan –pelan saja, tidak perlu seperti sprinter atletik yang sering kita lihat di tivi. Yang penting tetap berlari dengan rileks dan santai. Ternyata asik sekali lho!

Berikut ini tips lengkapnya untuk pemula (seperti saya >_< ), mudah –mudahan bisa menular juga pada kawan –kawan yang ingin hidup sehat dan tetap semangat berolahraga (walaupun tidak mesti dengan lari lho ya). Ini hanyalah satu alternatif saja.

 

  1. Persiapkan diri dengan pakaian olahraga lengkap dengan sepatu. Pakaian olahraga dari bahan kaos akan mudah menyerap keringat. Jadi badan bisa tetap nyaman.
  2. Lakukan pemanasan sederhana agar badan (terutama kaki) tidak kaku dan kaget. Saya bisanya melakukan pemanasan dengan gerakan teratur dari mulai kepala sampai kaki tidak sampai 10 menit.
  3. Mulailah berlari dengan santai dan rileks. Tidak perlu terburu –buru, pelan –pelan saja. Anggap saja sebuah rekreasi sambil melihat pemandangan alam yang sejuk di pagi hari.
  4. Jangan dipaksa berlari 40 menit apabila merasa kondisi tubuh sudah tidak kuat berlari (bagi pemula). Kita yang paling tahu kondisi tubuh. Selingilah dengan jalan apabila tidak kuat. Lama –lama juga akan terbiasa jika kita terus rutin berlari setiap minggu, misalnya. Saya pertama kali lari hanya kuat 15 menitan, lalu berjalan seperti biasa dengan nafas ngos –ngosan. Lalu lari lagi. Tapi setelah dilakukan berulang kali dalam beberapa minggu, saya sudah bisa lari 40 menit tanpa henti tanpa merasa capek. Dibawa have fun aja.
  5. Setelah setelah berlari, lakukan pendinginan sederhana.

Nah, selamat berlari !

9 thoughts on “Lari 40 Menit Tanpa Henti

  1. Syukurlaah, saya senang ada narablog yang menerapkan hidup sehat dg berolahraga… :oops:
    Saya juga baru mulai rutin lari sejak januari 2011. Seperti yang saya tulis di sini, tujuan saya lari adalah untuk menurunkan berat badan. Yah, gak banyak-banyak, cuma pengen nurunin 4-5 kg. Motivasi dari diri sendiri sangat penting untuk keberlanjutan olahraga kita. Kalo kita gak punya tujuan yang jelas, kita bisa males sendiri. Ini yang saya rasakan. :) Semenjak saya punya tujuan yang pasti (punya badan bugar, stamina kuat, badan normal), alhamdulillah sampe sekarang (bulan juni ini) saya masih rutin lari dan latihan beban. :lol:

    Saya waktu mulai lari pertama kali juga gak kuat-kuat amat. :lol: Cuma tahan 20 menit non-stop. Saya lari di jogging track deket kampus (sabuga), dengan satu putaran perkiraan panjang kurang lebih 400 meter. Sampe maret kemarin saya lari tiap hari. Paling sedikit 6 hari seminggu. Mulai april, ketika berat saya turun, saya kurangi lari jadi empat atau lima hari dalam seminggu. Saya gak mau jadi kurus seperti pelari maraton. :lol:

    Apa yang eMina katakan bener banget, jangan paksakan lari saat tubuh gak mau lari. Kadang bisa aja kemarin kuat 30 menit lari, besoknya hanya kuat 25 menit. Itu wajar, menurut saya, karena suasana hati, pikiran, dan aktivitas yang dilakukan hari itu saya yakin berpengaruh pada stamina. :lol:

    Nah, perihal jogging 40 menit, Menurut sumber dari sini dan sini (dua2nya video), itu terlalu lama. Jogging pelan selama itu hanya membakar kalori saat lari itu saja. Menurut sumber yang sama, jika tujuan lari adalah ingin mengurangi lemak tubuh, lebih baik lakukan latihan interval. Latihan ini mencampurkan intensitas lari. Jadi, contohnya, lima menit pertama lari pelan, lalu kemudian selama 30 detik kita sprint (lari cepat), satu menit kembali pelan, tetap lari jangan jalan, lanjut lagi lari cepat 30 detik, kembali lagi pelan. Ulang terus sampai total 20 menit (sudah termasuk 5 menit awal yg tadi).
    Dengan latihan interval ini, kalori yang dibakar tidak hanya saat latihan saja, tapi juga berjam-jam setelah latihan. :) Latihan ini emang sangaaaaaat melelahkan kalo baru mencoba. Saya pernah nyoba, aduh rasanya nafas klenger dan otot kaki mati rasa. :( Kalo dilakukan empat kali seminggu, niscaya selain stamina tambah kuat, lemak tubuh juga terbakar. :D

    Semua kembali ke tujuan awal kita berolahraga. Harus punya tujuan yang mau kita capai, itu bisa jadi motivasi. :D

    • wah, terima kasih penjelasannya. Saya baru tau. Nanti saya mau coba juga ah. Mana pun yang benar, yang penting tetap berolahraga saja. Soalnya motivasi saya adalah untuk sehat dan stamina yang kuat. Klo masalah berat badan mah..uhum, bisa -bisa klo motivasi utk turun berat badan nanti malah saya makin kerempeng :cry:

      sabuga ya? wah awalnya juga saya lari di sabuga lho..kok kita ga ketemu yah? :mrgreen:
      kapan -kapan kita mesti lari bareng nih di trek atletik sabuga, balapan yo siapa yang lebih kuat :p *nantang nih ceritanya*
      *padahal gemeteran*

      • Eeeeeh ayo aja, mengapa tidak lari bareng? :mrgreen:
        Sapa saya duluan dong, kalo nemu saya, saya ‘kan gampang dikenali. :oops:

        Saya larinya pagi, sekitar jam 6.15. :) Sampe Mei saya cuman lari 5-6 kali seminggu, dan mulai juni ini saya lari tiap hari. Euh, gak tiap hari juga sih, HAMPIR tiap hari, paling cuma absen sekali dalam dua minggu. :D
        Kalo pagi gak mood lari, saya ganti sore harinya. Atau, kalo gak sempet ke luar rumah (hujan atau malas :mrgreen: ) saya ganti dengan lompat tali (rope jumping) di rumah. :lol:

        Oh ya, lompat tali bagus lho kalo mau bikin bentuk kaki jadi bagus. Saya baru tahu bulan mei kemarin. Lumayan, dalam seminggu saya lompat tali dua kali (hari), masing2 20 menit. :)

  2. nice post. aku baru mulai lari nih minggu lalu. boro215 menitnonstop, bisa lari 3 menit nonstop aja uda bagus. hahaha. maklim sih, sebelomnya sama sekali ga pernah dan ga suka lari. hehehe. ini mulai mau latian gara2 terjerumus ikutan lari 10k september nanti. haha
    kl buat lari itu warming up yg benernya gmn ya? apa cuma merilekskan otot sama sendi2 yang belum lemes, atau perlu samape keringetan warming up ny? bisa kasih contoh? thx. :)

    • untuk pemula sih menurut saya cukup dengan melemaskan otot dan sendi-sendi aja dulu, biar pas jreng olahraga-nya tidak kaku dan cedera. Saya biasa melakukannya 10 – 15 menit aja, dengan melakukan gerakan2 sederhana seperti saat kita mau mulai senam dengan gerakan standar.

      Pernah melakukan senam-senam standar yang biasa dilakukan di sekolah atau di tempat publik kalau libur kan? Nah yang begitu itu juga lumayan. Misal dari mulai menggerakkan kepala sampai kaki secara berurutan.

      Maaf telat balas ,semoga bermanfaat :mrgreen:

  3. Iy nich aku juga rajin melakukan joging dipagi hari setelah melaksanakan sholat shubuh tapi rata2nya sih sekitar jm 6 pagi gitu cuman larinya sekitar 10 menit aku berhenti degan menyelingi olahraga lain dengan menggerakkan tangan, kaki n’ pinggul serta melakukan stop jam untk membentuk pinggang lalu melanjutkan lagi larinya sekitar 15 mnit dengan hal yang sama. Manfaatnya bgus yang aku rsain tp baru2 aj sich olahraganya jdi kira2 degan berolahraga yang diselingi olhraga lain sprti stop jam itu tdk mnimbulkan efk2 yg merusak g’ y’?? Indahnya berbagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s